Keberadaan eksperimen Zirah Antena, dipicu atas dasar permasalahan buruknya kualitas sinyal internet nirkabel di rumah saya yang tidak kunjung usai. Saya menolak untuk mensolusikan dengan cara berlangganan paket internet jaringan fiber optik sejenis Indihome. Tidak juga dengan berpindah pada provider internet nirkabel yang berbeda.

Maka, pilihan solusi yang saya miliki adalah hanya meningkatkan kemampuan perangkat komunikasi data nirkabel yang ada di rumah.

Setelah diterapkan, pilihan solusi tersebut hanya bertahan beberapa bulan saja. Masalah serupa kembali terulang. Berarti, saya harus “lebih” meningkatkan lagi kemampuan perangkat komunikasi data yang sudah ada.

Dengan kata lain, tindakan meningkatkan kemampuan perangkat komunikasi data yang telah saya kerjakan hanyalah memindahkan masalah dari tidak berlangganan jaringan fiber optik menjadi berlangganan membeli produk perangkat komunikasi data nirkabel dipasaran.

Setelah dipikirkan berulang kali, saya sampai pada satu pertanyaan :

“Dimana letak permasalahan yang sesungguhnya dari penyebab sinyal internet nirkabel menjadi lemot?”

Secara sederhana, sinyal internet adalah sama dengan sinyal radio. Ada dua titik yang terhubung untuk menjadi pihak penerima dan pihak pemancar sinyal secara bergantian. Sehingga, jika ada permasalahan pada proses mentransmisikan sinyal, maka ada ketidakberesan pada perangkat yang berfungsi untuk mentransmisikan sinyal.

Lalu, apa yang harus dilakukan agar perangkat pen-transmisi sinyal bisa bekerja maksimal sesuai dengan fungsinya?

Pertanyaan kedua inilah yang memicu saya untuk mencari tahu esensi dari sinyal internet nirkabel. Walau tidak sepenuhnya paham setelah membaca beberapa referensi tentang sinyal internet nirkabel, terbentuk satu ide untuk menggunakan kumparan kawat tembaga sebagai media guna memengaruhi kekuatan gelombang elektromagnetik sinyal internet nirkabel.

Setelah dicoba, hasilnya sungguh mengecewakan. Kualitas sinyal yang ditransmisikan antena menjadi bertambah buruk.

Namun begitu, berarti, terdapat kemungkinan kalau kumparan kawat tembaga dengan model tertentu akan memiliki dampak terbalik, yaitu : membuat kualitas mentransmisikan sinyal dari antena menjadi bertambah baik.

Logika sederhana itulah yang mendasari keyakinan saya untuk tetap bertahan setiap kali terbentur pada kegagalan selama bereksperimen.

Asal penamaan Zirah Antena itu sendiri bermula dari model seperangkat kumparan-kumparan kawat tembaga yang pertama kali dibuat. Kumparan-kumparan kawat tembaga tersebut dibuat sedemikian rupa hingga membungkus antena portable yang terhubung dengan modem stik. Jadilah saya namakan Zirah Antena.

Foto berikut adalah model kumparan kawat tembaga yang saya maksudkan :

Foto : Zirah Antena model INT-01

Ketika terjadi pengembangan model, saya putuskan untuk membedakan penamaan antara proses pengerjaan dengan produk hasil pengembangan.

Untuk proses pengerjaan, saya namakan Eksperimen Zirah Antena.

Sedangkan model kumparan kawat tembaga yang merupakan produk hasil proses pengembangan eksperimen, diidentifikasi menggunakan nama + kode sebagaimana tertera di bawah ini :

  • Zirah Antena ~ INT-01
  • Zirah Antena + Torus tanpa Kerucut ~ INT-02
  • Double Donat (Torus bertingkat) ~ INT-03
  • Cone Cake (Zirah Antena + Torus dengan kerucut) ~ INT-04
  • Bold Bread ~ INT-05

Karena tidak memiliki latar belakang pengetahuan dibidang teknologi antena dan sinyal radio, maka eksperimen Zirah Antena berjalan dan dikerjakan hanya berdasarkan aksi dan reaksi kualitas sinyal internet yang diperoleh dari uji-coba setiap model yang tertera di atas.

Untuk parameter ukuran pencapaian, saya menggunakan situasi tingkat kelancaran aktivitas internet-an sehari-hari. Ada empat kategori aktivitas internet-an sesuai tingkat besaran lalulintas data yang dibutuhkan :

  1. Browsing
  2. YouTube
  3. Streaming video dari sosmed dan portal berita
  4. Streaming LIVE TV

Saat ini, eksperimen Zirah Antena telah selesai karena level pencapaian lancar streaming LIVE TV sudah teratasi.

Unit terakhir yang dibuat dari eksperimen Zirah Antena adalah Bold Bread. Unit yang terdiri dari tiga kumparan kawat tembaga berbeda ukuran tersebut, merupakan unit yang paling besar dan paling kuat dalam menambah kemampuan antena portable mentransmisikan sinyal.

Tidak banyak yang dapat diceritakan mengenai teknis kerja Bold Bread maupun hal-hal terkait bidang keilmuan yang melandasi berjalannya eksperimen Zirah Antena. Selain memang tidak pernah ada perangkat yang menyerupainya di pasaran, saya kesulitan untuk memastikan model teknologi cara mentransmisikan sinyal yang dimilikinya.

Saya sendiri, mungkin, tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana peran perangkat ini telah dapat menyelesaikan masalah terkait internet yang selama ini terjadi di rumah. Dan, hingga saat ini, sepertinya pengetahuan tentang itu memang tidak saya perlukan lagi.

Di rumah saya saat ini, koneksi internet berjalan tanpa masalah setiap harinya. Disaat kondisi cuaca buruk (mendung/hujan deras) sekalipun, saya dapat menikmati streaming tanpa kendala.

Berikut adalah daftar urutan artikel tentang dokumentasi perkembangan eksperimen Zirah Antena mulai dari awal dikerjakan :

Semoga bermanfaat! 🙂