Pernah merasa kesal “teramat sangat” saat menunggu respon internet yang tak kunjung tampil di layar handphone/laptop?

Foto : Router TPLINK MR3420 + Modem Huawei 3372

Di rumah, saya menggunakan modem USB dan wireless router untuk berinternet. Dengan begitu, satu sim card dapat dimanfaatkan untuk melayani kepentingan berinternet beberapa perangkat secara bergantian. Untuk memperkuat tangkapan sinyal, modem USB diberi tambahan antena portable.

Lebih dari 5 tahun terakhir saya menggunakan jaringan nirkabel 3 (Tri). Kualitas respon network yang inkonsisten sudah menjadi brand mereka. Hanya karena produk Always On (kuota internet tidak pernah hangus) yang menjadikan saya bertahan menggunakan jaringan ini.

Menggunakan jaringan provider lain, merupakan cara paling gampang untuk bisa memperoleh layanan lalulintas data nirkabel yang memadai di hampir setiap kondisi. Namun tentu saja ada cerita dan prasyarat tersendiri untuk itu. Bagi saya, bukan masalah pada mahalnya harga kuota internet, tapi sisa kuota yang selalu dibuat hangus menjadi pertimbangan utamanya.

Dengan demikian, ada konsekuensi yang harus saya terima dari menggunakan jaringan Tri, yaitu respon network yang lemot dan tidak konsisten.

Nah…, Zirah Antena hasil DIY ini, bisa “sedikit” mengobati permasalahan berinternet yang saya alami.

Hubungan Zirah Antena dengan Antena Portable

Ide perangkat berbahan kawat tembaga itu muncul dari membaca potongan-potongan cerita tentang “free energy” milik Nikola Tesla. Garis besar pemahaman yang saya peroleh dari cerita-cerita tersebut adalah adanya keterkaitan antara gelombang elektromagnetik dengan kawat tembaga yang dibuat dalam bentuk kumparan.

Setelah lewat beberapa waktu kemudian, terlintas rasa ingin tahu tentang ada-tidaknya keterkaitan gelombang elektromagnetik yang beredar disekitar kumparan kawat tembaga dengan gelombang elektromagnetik dari sinyal internet nirkabel. Jika memang keduanya memiliki dasar yang sama, seharusnya kumparan kawat tembaga bisa untuk dimanfaatkan sebagai media/perangkat untuk mengatur/mengumpulkan gelombang sinyal internet nirkabel yang beredar disekitarnya.

Eksperimen membuat Zirah Antena dimulai sekitar awal tahun 2018. Baru memperlihatkan hasil yang cukup nyata setelah mendekati akhir tahun 2018. Setelah melewati test selama beberapa minggu kemudian, terlihat bagaimana perangkat bisa (nyaris) secara konsisten menambah besaran data yang dapat diunduh (rata-rata 300 kBps siang hari, 50 kBps peak hour, 850 kBps menjelang tengah malam hingga pagi hari).

Dampak dari antena portable yang dipasangi Zirah Antena, bisa dibilang sudah menjawab keingintahuan tentang ada-tidaknya keterkaitan kumparan kawat tembaga dengan gelombang elektromagnetik pada sinyal internet nirkabel. Selain itu, ada tambahan pemahaman tentang rapuhnya konsistensi jalur lalulintas data nirkabel untuk kelompok pelanggan prabayar. Kita bisa membuat perangkat untuk mengatasi hambatan gelombang sinyal elektromagnetik, namun tetap dibutuhkan jalur ekslusif untuk menjamin kelancaran lalulintas data selama komunikasi berlangsung.

Pada dasarnya, saya sendiri masih tidak memahami bagaimana cara Zirah Antena bisa memengaruhi kinerja antena portable yang diselubunginya. Sehingga, tidak perlu berharap untuk saya akan membalas komentar yang berkaitan dengan hal teknis per-antena-an dari Zirah Antena.

Men-zirah-kan Antena Portable

Mirip dengan konsep baju zirah yang dikenakan pada manusia, Zirah Antena ini berlaku sama terhadap antena portable. Perangkat bisa dipasang-lepaskan tanpa sama sekali “melukai” (memodifikasi/merubah/merusak) antena portable yang menjadi pemakainya.

Disebut sebagai Zirah Antena karena perangkat ini bukanlah sebuah antena. Dibutuhkan antena portable untuk menjadikannya berfungsi. Mungkin lebih cocok jika dikategorikan sebagai ekstension antena. Area tangkapan sinyal oleh antena portable setelah dipasangi Zirah Antena, seakan-akan bertambah luas. Kemampuan meng-unggah meng-unduh data di saat subuh yang semula (rata-rata) 300 kBps bertambah menjadi (rata-rata) 800 kBps. Dan itu berlangsung secara konsisten.

Dibalik penampakan yang unik dan relatif imut, perangkat berbentuk donat berdiameter 16,5 cm ini membutuhkan total bahan kawat tembaga sepanjang kira-kira 25 meter ukuran 1,5mm dan 10 meter ukuran 2,5mm untuk merangkainya.

Foto : Pipa paralon sebagai alat bantu pembuatan Zirah Antena

Dibutuhkan juga beberapa alat bantu (seperti pipa paralon) untuk membentuk untaian-untaian kawat tembaga itu menjadi kumparan-kumparan sesuai ukuran. Presisi ukuran dan bentuk merupakan hal yang “nyaris” mutlak. Dengan demikian, perlu keterampilan cukup memadai untuk membuat model kumparan yang dibutuhkan agar perangkat bisa berfungsi dengan baik.

Sejak permulaan mengerjakan eksperimen, tidak ada gambaran dibenak saya mengenai bentuk akhir dari Zirah Antena.

Awalnya hanya dengan membuat sepotong ulir kawat tembaga yang disematkan ke antena portable.

Foto : Ulir Kawat Tembaga yang pertama kali dibuat dalam Eksperimen Zirah Antena

Seiring waktu berjalan, gambaran baru model-model kumparan yang terbentuk di pikiran saya perlahan bertambah dan berkembang. Selanjutnya, apapun bentuk yang terpikirkan bisa dibuat ber-ulir dan bisa dicangkokkan pada ulir yang telah terpasang, diupayakan untuk dibuat dan diujicobakan.

Foto : Pengembangan Ulir kawat tembaga pertama

Tidak ada kalkulasi rumus atau formula maupun hitung-hitungan mengenai bentuk, ukuran, jarak dan posisi dimana seharusnya setiap bagian Zirah Antena dibuat dan dipasang.

Berikut adalah model pertama kali Zirah Antena dapat berfungsi mengurangi lag lalulintas data :

Foto : Model Zirah Antena yang pertama dibuat.

Penerapannya nampak pada foto di bawah ini :

Foto : Pemasangan unit Zirah Antena

Eksperimen kembali dilanjutkan setelah Zirah Antena saya cat warna putih. Kemudian ditambahkan ulir di bagian bawah antena :

Foto : Penambahan ulir di bawah Zirah Antena

Karena ulir yang ditambahkan berdampak menghambat lalulintas data, saya mengamputasi-nya. Lama setelah itu, muncul ide baru untuk memasukkan kumparan lebih kecil ke dalam lingkaran.

Ternyata, kumparan baru tersebut bisa menambah besaran data yang di unduh.

Foto : Penambahan ulir baru di bagian dalam Torus

Eksperimen terus berjalan begitu adanya hingga berakhir dengan bentuk lingkaran menyerupai donat dengan dua kerucut di bagian tengah :

Foto : Ulir Kerucut

Penampakannya setelah dipasang pada Zirah Antena :

Foto : Zirah Antena + dua Ulir Kerucut di tengah

Parameter menguji setiap tahap penambahan/modifikasi berdasarkan respon sinyal internet yang didapat, merupakan bagian dari eksperimen yang memakan waktu terlama. Disini, saya memanfaatkan waktu setiap kali bermain game online sebagai ajang pembanding performa lalulintas data antara sebelum dengan sesudah setiap bagian Zirah Antena dimodifikasi (dicangkok/diamputasi).

Dengan begitu, perkembangan performa lalulintas data di hampir setiap waktu dan segala situasi dari kebiasaan saya dalam berinternet dapat terus terpantau. Dampaknya, perkembangan kinerja Zirah Antena pun menjadi lebih “fair”. Setidaknya, cara ini bisa membuat penilaian performa Zirah Antena lebih objektif.

Model dan modifikasi terakhir dari Zirah Antena adalah sebagaimana tersaji di bawah ini :

Foto : Model terakhir setelah melalui beberapa modifikasi.

Jadi….?

Apakah Zirah Antena bisa memberikan satu kepastian untuk bisa berinternet dengan nyaman?

Eksperimen ini dikerjakan untuk mengatasi masalah yang disesuaikan dengan spesifikasi tempat dan kebiasaan saya dalam berinternet. Belum diterapkan dilokasi dengan kebiasaan berinternet yang berbeda. Sehingga belum bisa dipastikan apakah Zirah Antena dapat digunakan secara umum.

Dalam artikel ini, saya hanya mencoba memberikan satu gambaran alternatif perangkat DIY untuk memperluas tangkapan sinyal internet nirkabel. Wajan (wajan bolik) dan alat penampih minyak goreng, juga pernah dicoba dimanfaatkan untuk kepentingan yang sama. Hasilnya tidak terlalu bagus karena kedua perangkat tersebut membutuhkan lokasi yang tepat untuk bisa diarahkan pada tangkapan sinyal terbaik.

Antena portable saya pasang di dinding sisi luar rumah, dibagian atas kusen pintu. Sebelumnya di titik ini, streaming youtube tanpa lag hanya dapat dinikmati setelah pukul 02.00 hingga pukul 07.00. Setelah antena dipasangi Zirah Antena, kondisi lag rata-rata terjadi hanya pada pukul 17.00 hingga 21.00 saja (peak hour).

Cerita tentang cara membuat Zirah Antena akan saya sampaikan di artikel selanjutnya terkait dengan pembahasan Zirah Antena.

Semoga bermanfaat!

3 tanggapan untuk “Zirah Antena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *