Lebih Mengenal Beda Oven Listrik dan Oven Gas

Oven listrik, bukanlah jenis oven yang pertama kali saya kenal. Tapi, merupakan jenis oven pertama dimana saya mulai belajar dan mengetahui lebih jauh teknik memasak makanan dengan cara dipanggang.

Banyak bahan makanan yang bisa dimasak dengan cara dipanggang menggunakan oven, dimana salah satunya untuk membuat biskuit / kue kering. Tidak lama setelah memiliki oven listrik, saya iseng mencoba membuat sendiri beberapa kue kering. Itu karena saya memang menyukai kue kering, terutama Kaastengel dan Nastar.

Selang 10 tahun kemudian, beberapa minggu terakhir ini, saya diberi kesempatan pinjam-pakai oven gas oleh tetangga. Bukan oven gas multi fungsi (freestanding oven), namun oven gas khusus memanggang saja.

Seperti ini penampakannya :

Saya sambut baik kesempatan yang telah ditawarkan, dan… pembelajaran menggunakan oven gas yang selama ini belum pernah saya kerjakan pun dimulai…

icon.top.par

Menstabilkan Panas Oven

Setelah 2 hari pertama mencoba, dan menghanguskan adonan kue sagu keju untuk hasil 6 toples ½ kg, saya mendapatkan 1 (satu) hal yang sebenarnya menjadi pokok pembeda oven listrik dengan oven gas, yaitu thermostat.

Thermostat pada oven listrik membuat pekerjaan memanaskan oven di awal sebelum mulai memanggang hingga selesai menjadi sangatlah mudah. Oven hanya perlu dinyalakan dengan setelan suhu yang dikehendaki, lalu bisa ditinggalkan (tidak perlu ditunggui). Sekitar 15 ~ 20 menit kemudian, adonan di loyang sudah bisa dimasukkan ke oven.

Kemudahan itu, sama sekali tidak kita dapatkan pada oven gas. Tidak ada thermostat terpasang di dalam oven gas. Sehingga, pengaturan aliran gas untuk membesar-kecilkan api dalam oven, tetap harus dikerjakan secara manual.

Mengatur nyala api oven gas tetap stabil di level suhu tertentu di awal oven dinyalakan, (ternyata) bukanlah pekerjaan gampang. Butuh waktu dan kesabaran untuk mengerjakannya. Rata-rata waktu yang saya butuhkan untuk mengerjakan tahapan itu sekitar 40 menit.

Jika tahap awal (menstabilkan panas oven) itu berhasil dikerjakan dengan benar, maka kita tidak perlu lagi mengatur pengapian selama proses pemanggangan hingga selesai. Jika tidak, maka kita tetap harus menunggui seraya mengatur besaran nyala api hingga proses pemanggangan selesai. Meskipun itu telah dikerjakan, tidak ada jaminan akan membuat hasil panggangan berakhir sebagaimana yang diharapkan. Besar kemungkinan ada sebagian dari kue tetap hangus.

Adakah cara agar lebih mudah dan cepat untuk bisa menyelesaikan tahapan menstabilkan panas suhu oven tersebut?

Untuk saat ini, berlatih mengatur besaran nyala api dengan memainkan bukaan keran gas sambil memerhatikan besaran nyala api adalah satu-satunya cara yang saya lakukan untuk menjadi cepat terbiasa mengerjakan tahap menstabilkan panas suhu oven. Kalau dipikir lebih jauh, baik sudah terbiasa atau tidak, tahap ini tetap membutuhkan perhatian dan konsentrasi selama mengerjakannya. Sangat berbeda tingkat kenyamanannya dibanding oven listrik.

icon.top.par

Performa Oven

Maksud dari kata performa adalah kemampuan secara keseluruhan. Dalam kasus performa oven artinya menjadi kemampuan oven secara keseluruhan dalam memanggang adonan / makanan. Performa oven sangat erat dengan kemampuan mengkondisikan suhu panas secara merata dalam interiornya.

Hal ini berbeda dengan menstabilkan suhu panas interior oven. Suhu panas yang stabil, belum tentu berlangsung merata di seluruh bagian interior. Bisa saja di bagian depan bersuhu stabil setingkat 170° C namun di bagian belakang hanya 160° C.

Lalu, apa masalahnya?

Bukankah hal itu bisa mudah diatasi dengan hanya memutar posisi loyang adonan saja?

Sepintas memang terlihat mudah untuk diantisipasi. Tapi, dampak dari tindakan memutar loyang itulah yang menjadi pokok permasalahannya.

Ketika loyang hendak diputar, mulai dari pintu oven dibuka hingga kembali ditutup setelah posisi loyang di putar, maka ada sebagian besar energi panas yang keluar. Dengan begitu, dibutuhkan waktu untuk mengembalikan suhu panas interior oven kembali seperti saat kondisi loyang sebelum diputar.

Nah, semakin lama dan semakin banyak tindakan memutar loyang seperti itu dikerjakan, maka semakin panjang waktu proses pemanggangan yang harus ditempuh. Jika besar kapasitas oven turut diperhitungkan, dampak panjang waktu proses pemanggangan pun berlipat bertambah lama.

Kemudian, ditambah dengan kapan waktu yang tepat memutar loyang. Untuk oven berkapasitas besar, waktu yang tepat memutar loyang, benar-benar harus diperhitungkan. Karena, betapapun akurat waktu memutar loyang dikerjakan, tetap memiliki kecenderungan hasil panggangan menjadi “belang” (tidak merata).

Cara lain untuk mengatasinya adalah dengan memecah ukuran loyang menjadi dua atau tiga bagian. Dengan begitu, kita dapat memperkirakan loyang di bagian oven sebelah mana memiliki kemungkinan lebih cepat matang. Selanjutnya, terserah cara tindakan penyelesaian yang hendak kita ambil untuk mengatasi keadaan tersebut.

Bisa dibayangkan berapa lama waktu dan berapa besar energi listrik / gas yang terbuang percuma dari performa oven yang buruk?

Kasus panas suhu interior oven yang tidak merata ini, paling sering dijadikan kambing hitam sebagai kelemahan oven listrik. Tapi ternyata, saya menemukan hal yang sama juga terjadi pada oven gas.

icon.top.par

Hasil Panggangan

Betapapun rumit proses pengerjaan membuat kue yang harus dilalui, akan tetap menyenangkan jika hasil panggangannya bagus dan benar. Terlepas dari kualitas performa oven yang dipakai, baik itu oven listrik maupun gas, akan memberikan hasil panggangan yang sempurna setelah kita memahami perilakunya.

Meskipun menggunakan bahan dasar dan cara membuat yang sama, kue hasil panggangan oven gas tetap lebih enak dibanding kue oven listrik. Perbedaan tersebut hampir tidak akan pernah terlihat jelas tanpa kue hasil dari kedua oven disajikan berbarengan. Kita tidak perlu mengkhawatirkan perbedaan itu, karena (biasanya) satu adonan akan selalu di panggang menggunakan oven yang sama.

Ada yang menarik dari citarasa kue hangus (gagal) yang dihasilkan masing-masing oven tersebut. Hampir 70% rasa pahit mendominasi kue hangus hasil oven listrik. Sedangkan pada kue oven gas, nyaris tidak berubah. Kue hangus hasil oven gas, masih tetap enak dimakan. Hanya terasa lebih kering dibanding yang tidak hangus.

icon.top.par

Beli Oven untuk di Rumah

Jika anda pemula yang berniat untuk membeli oven baru, pertimbangkanlah faktor kapasitas dan tujuan kepentingan dari membeli oven itu sendiri. Tidak perlu terpengaruh dengan cerita kelebihan dan kekurangan dari masing-masing oven. Karena keduanya sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan yang sudah menjadi bawaan sendiri-sendiri. Dan itu, tetap harus dikuasai saat setelah kita membeli dan memilikinya.

Oven berkapasitas kecil untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah, akan jauh lebih efektif dan efisien bila dihitung dan diukur dari sisi manapun. Oven listrik merupakan pilihan realistis dalam hal ini. Kelengkapan fitur yang tersedia untuk membantu mempermudah selama aktivitas memanggang, sangat amat menolong bagi pemakai di segala tingkat keahlian. Selain bentuknya yang mudah menyesuaikan (compact) ruang, tidak dibutuhkan tempat tambahan untuk meletakkan tabung gas sebagaimana oven gas. Karakter oven listrik seperti itu, terasa “pas” diletakkan di bagian sisi dapur manapun.

Diluar kapasitas dan kepentingan rumah tangga, oven berkapasitas besar merupakan perangkat yang sudah seharusnya diperhitungkan. Karakteristik oven yang demikian, banyak dimiliki dan didominasi oven gas. Dan disitulah kelebihan (selain hasil panggangan lebih enak) dari oven gas yang tidak terbantahkan dan tidak dimiliki produk oven listrik di pasaran.

Saat ini, sudah banyak oven gas berkapasitas besar produk lokal yang berkualitas bagus dengan harga terjangkau. Namun begitu, harga yang terjangkau tidak serta-merta menjadikannya efektif dan efisien untuk dipakai untuk semua kepentingan.

icon.top.par

Jadi?

Cerita di atas adalah berdasarkan pengalaman dan pemahaman saya pribadi, seorang amatir membuat kue dalam menggunakan oven sebagaimana nampak pada foto-foto tersaji. Apa yang disampaikan, belum tentu sama dengan yang anda telah, sedang dan akan alami dalam menggunakan oven listrik maupun gas. Banyak yang masih saya belum ketahui dan pelajari cara menangani oven gas di atas agar bisa berfungsi dengan sebagaimana mestinya.

Jika anda memiliki pengalaman yang lebih baik dengan oven di rumah, yang mana mudah untuk menstabilkan suhu panas serta penyebarannya cenderung merata di hampir seluruh bagian interior oven, maka kualitas performa oven milik anda terbilang bagus.

Seandainya anda hendak mengganti oven yang sudah ada dengan yang baru, sekali lagi, pertimbangkanlah faktor kapasitas dan tujuan kepentingan sebelum memutuskan membelinya. Sesuaikanlah dengan kebutuhan yang ada saat ini. Namun, keputusannya tetap ditangan anda. Saya hanya sekadar menyarankan saja.

Anda bisa membaca ulasan lainnya tentang kedua jenis oven tersebut di artikel : Oven : Listrik atau Gas? sebagai tambahan referensi.

Semoga bermanfaat! ☺

icon.top.document

Iklan

5 thoughts on “Lebih Mengenal Beda Oven Listrik dan Oven Gas”

  1. Wah mmg lebih baik alat memasak itu dr listrik ya.Mmg biaya lbh mahal namun kerja lbh efisien drpd alat masak yg menggunakan gas…

    di luar topik sedikit, pak, apakah akan membahas wacana penghapusan daya listrik 1300 dan 2200 ke 4000an? banyak artikel yg sudah memuatnya, salah satunya inihttps://finance.detik.com/energi/d-3724628/pelanggan-daya-1300-3300-va-dihapus-esdm-supaya-bebas-pakai-listrik?_ga=2.196948972.1978053386.1510537835-9498742.1510216630

    Suka

    1. Terima kasih infonya, saya juga sudah membaca berita tentang wacana tersebut. Kalau masih dalam konteks sebatas wacana, belum bisa ditentukan kepastiannya. Mendingan, nantikan reaksi para wakil rakyat dan YLKI. Kita akan lihat seberapa besar kebenaran logika pemahaman mereka mengenai isi wacana tersebut sebagai pihak yang mengaku mewakili rakyat.

      Salam.☺

      Suka

      1. baiklah pak, krn saya ada rencana tambah daya juga dr 1300 ke 2200. Baca berita ini bingung jg, udh tanya ke twitter PLN tp blm dibalas.

        Oh iya apakah bapak pernah membahas kompor listrik vs kompor gas? Water heater listrik vs gas juga menarik sepertinya utk dibahas pak 🙂

        Suka

      2. Kalau kepentingannya sudah mendesak, tidak ada salahnya untuk segera menaikkan daya. Dugaan saya, wacana itu baru akan terealisasi di tahun 2019.

        Maaf, itu hanya dugaan saja.

        Uraian tentang water heater sudah saya ceritakan di artikel :

        https://listrikdirumah.com/2015/03/18/water-heater-listrik-berdaya-listrik-rendah/

        dan

        https://listrikdirumah.com/water-heater-jenis-pilihan/

        Sedangkan untuk kompor listrik, belum ada kesempatan untuk langsung mencoba sendiri.

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s