Saya rasa, artikel ini merupakan penutup dari cerita perjalanan bereksperimen perangkat LPF menggunakan media filter organik : arang batok kelapa, batu apung dan ijuk.

Susunan media filter yang ada di dalam perangkat LPF mulai pertama kali digunakan adalah seperti gambar di bawah ini :

Gambar : Ilustrasi penampakan media filter dibagian dalam perangkat LPF

Awal diaplikasikan media filter organik ke dalam perangkat LPF adalah pada tanggal 07 Oktober 2015. Di bawah ini adalah foto-foto yang menggambarkan kualitas tingkat kejernihan air yang bisa dihasilkan hingga tanggal 23 Januari 2017. Selama berlangsung, semuanya berjalan tanpa perawatan sama sekali. Kondisi terakhir dari filter secara garis besar dapat dilihat pada foto-foto di bawah ini  :

Galeri Foto perangkat LPF setelah pemakaian 14 bulan

Membongkar isi Tabung-Inti…

Sekitar satu minggu setelah foto-foto tersebut diambil, saya menjadi penasaran dengan apa yang ada di dalam Tabung-Inti.

Seperti apa kondisi media filter yang ada di dalam Tabung-Inti dan seberapa menjijikkan kotoran yang berhasil dikumpulkan di dalamnya?

Pada tanggal 03 Februari 2017, saya keluarkan dua Tabung-Inti dari masing-masing “cangkang”-nya :

Isi Tabung-Inti pertama :

Galeri foto hasil penyaringan Media Organik pada Tabung-Inti #1

Isi Tabung-Inti kedua :

Galeri foto hasil penyaringan Kapas Filter pada Tabung-Inti #2

Kondisi media filter (khususnya arang batok kelapa) terasa agak rapuh dan lebih mudah dihancurkan. Elastisitas kapas filter setelah dibersihkan masih bisa dibilang bagus. Seandainya dibiarkan tidak diangkat, semua media filter itu mungkin masih bisa berfungsi hingga mencapai waktu 2 tahun tanpa perawatan.

Sebenarnya, total waktu pemakaian ketika media filter organik diangkat dari dalam perangkat LPF adalah sekitar hampir 16 bulan. Bukan 14 bulan sebagaimana tercantum di judul artikel ini. Saya memotong waktu pemakaian karena pengambilan foto-foto di atas tidak dikerjakan pada waktu dan hari yang sama. Dengan demikian, asumsi pemakaian media filter mulai berjalan di awal bulan November 2015 dan berakhir di bulan Desember 2016.

Mematikan mikro organisme?

Selama rentang waktu tersebut, tidak pernah ditemukan cacing rambut dan kutu air yang sebelumnya selalu nampak berkeliaran di dasar bak mandi setiap (rata-rata) tiga – empat bulan sekali.

Kelihatannya, itu disebabkan pemakaian media organik dalam filter. Karena, ketika perangkat LPF selama 3 bulan hanya menggunakan kapas filter saja (tanpa media filter organik), saya masih menemukan cacing rambut berkeliaran di dasar bak mandi.

Dari ketiga media filter organik yang digunakan, saya tidak tahu media organik satu mana yang bisa menghentikan penampakan cacing rambut dan kutu air tersebut. Namun, menarik kesimpulan secara gampang, gabungan pemakaian ketiga media filter organik juga bisa diandalkan untuk menghentikan peredaran hewan-hewan mikro yang biasa berkeliaran dan berkembang-biak di air.

Bagaimana saya bisa mengambil kesimpulan begitu gampang tanpa mengetahui kebenaran ada-tidaknya cacing rambut dan kutu air yang datang dengan menumpang bersama aliran air PDAM selama rentang waktu 14 bulan itu?

Berikut, saya sajikan kembali tiga foto terakhir kondisi media filter Tabung Filter pertama saat setelah dikeluarkan dari Tabung Inti :

Galeri foto perbandingan kondisi Media Organik SEBELUM dan SETELAH dibilas.

Pada foto nomor 2, terlihat nuansa warna putih susu pada kubangan kotoran yang sejatinya berwarna coklat gelap, bukan?

Nuansa warna putih itu masih tetap ada meskipun media filter telah 5 kali dibilas (foto no. 3) menggunakan air bersih.

Warna putih itu berasal dari bangkai cacing rambut yang menempel pada media filter. Saya mengetahuinya karena pengalaman pernah berurusan dengan cacing rambut untuk dijadikan pakan ikan hias. Dalam situasi normal, cacing rambut akan mati jika berada dalam kondisi air mengendap lebih dari 12 jam. Perlahan-lahan air berubah keruh kemerahan didominasi warna putih susu dan berbau amis jika tidak segera dibersihkan.

Pada kasus media filter ini, untuk memastikan bahwa warna putih benar berasal dari bangkai cacing rambut, media filter dalam bak plastik dibilas hingga air-nya terlihat agak bening. Kemudian, disemprot menggunakan air bersih dan dibiarkan sejenak hingga tanpa ada riak di permukaan air. Disitu akan terlihat untaian-untaian seperti rambut transparan sepanjang 1 – 2 cm melayang-layang di dalam air. Itulah jasad kulit luar cacing rambut yang tersisa dan masih bisa dilihat dengan kasat mata. Selama jasad itu masih ada, media filter akan terasa agak licin dan nuansa warna putih masih tetap nampak pada air rendaman.

Jadi…?

Apakah kemudian air hasil filter yang saya pakai selama ini memiliki kandungan jasad dari bangkai cacing rambut? 😂😂😂

Secara logika sederhana adalah mungkin demikian adanya. Saya pikir, lebih baik seperti itu daripada menghadapi kenyataan sewaktu-waktu menemukan cacing rambut yang masih hidup berkeliaran di antara rambut kepala saya. ☺

Uniknya, selama 14 bulan pemakaian, air hasil keluaran filter tidak mengeluarkan aroma bau “amis” ataupun nuansa warna putih susu. Saya tidak mengerti bagaimana peran media filter organik bisa menetralisir kedua hal itu dan menjadikan air tetap jernih tidak berbau sama sekali. Untuk waktu sekarang, saya tidak mau memikirkannya.

Cukup untuk dijalani dan dinikmati saja…

Teknologi tentang pengolahan air bersih memang bukan satu bidang ilmu yang mudah untuk dipelajari. Dalam batas pengetahuan tentang air tingkat awam, arang batok kelapa + batu apung + ijuk; bisa diandalkan untuk memperbaiki kualitas kebersihan air hingga tingkat layak pakai. Ketiganya masih bisa ditemukan dengan mudah di Indonesia. Kita hanya perlu sedikit niat berkreasi membuat sebuah wadah untuk memanfaatkan sebagaimana fungsi dan kegunaan dari ketiga bahan tersebut.

Akhir dari awal perjalanan selanjutnya…

Susunan media filter yang kini dipasang adalah sebagaimana gambar di bawah :

Gambar : Ilustrasi susunan Media Organik, pasir Zeloit dan Kapas Filter setelah bulan ke-14

Saya tambahkan ijuk dan kerikil pada Tabung-Inti kedua untuk mengetahui seberapa besar perannya menahan kotoran. Hasil nantinya akan terlihat pada perbedaan rentang waktu menguras bak mandi. Jika waktunya lebih lama dari yang sebelumnya, berarti kerikil memiliki peran cukup baik dalam menghambat kotoran.

Foto : Pasir Zeloit

Semoga bermanfaat! 🙂

 

5 tanggapan untuk “LPF : Kinerja Filter Air selama 1 Tahun 2 Bulan

  1. Assalamualaikum wr wb,
    Dear pic listrikdirumah.com

    Saya sangat terbantu dengan artikel Bapak mengenai Filter Air LPF, namun jika berkenan ada yang saya ingin tanyakan,..cara menyambung Filter 1,2,3,..dengan perlengkapan matrialnya.

    Demikian disampaikan, terima kasih atas perhatiannya.

    1. Selamat siang Robby,

      Terima kasih atas apresiasinya. 🙂

      Secara garis besar, penanganan cara mem-filter air berkapur adalah sama dengan penanganan air kotor pada umumnya. Perbedaannya, harus ada tambahan wadah untuk menampung air hasil proses penyaringan yang berfungsi sebagai tempat menetralkan ph air.

      Jadi, kalau air PDAM bisa langsung dipakai setelah melalui proses penyaringan. Sedangkan kalau air hasil proses penyaringan dari air berkapur harus ditampung terlebih dulu secara terpisah untuk dinetralkan ph airnya sebelum bisa dipakai.

      Mengapa harus dikerjakan pada wadah terpisah?

      Agar takaran bahan untuk menetralkan ph air dapat disesuaikan mengikuti tingkat sifat basa dan volume dari air yang terdapat dalam wadah.

      Jadi, seandainya sifat basa pada air cenderung sama dari hari ke hari, maka sudah ada parameter jumlah takaran bahan yang harus digunakan untuk menetralkan-nya.

      Bahan untuk menurunkan sifat basa pada air, bisa dengan menggunakan tawas.

      Salam. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *