Bagi penggemar ikan hias air tawar di era tahun 1980 ~ 1990, pasti mengetahui perangkat filter air yang memanfaatkan mesin penghasil gelembung udara (aerator) sebagai sarana penggerak aliran air di dalam filter. Gerak aliran air yang dihasilkan bertujuan untuk menghisap dan menyaring kotoran ke dalam unit filter.

Perangkat filter tersebut berukuran kecil dengan bentuk dasar kubus atau sudut segitiga. Biasanya diletakkan di area sudut bagian belakang akuarium. Berbahan plastik transparan (bening tembus pandang), dengan model yang sangat sederhana dan tidak menarik untuk dipandang.

Namun, karena harganya relatif terjangkau untuk ukuran uang saku anak-anak sekolah serta sangat mudah perawatannya, membuat perangkat filter ini menjadi banyak diminati oleh penggemar ikan hias amatir di era-nya. Cukup dengan bermodalkan aerator, perangkat filter jadul dan kapas filter, maka semua persyaratan minimum untuk memelihara ikan di akuarium sudah terpenuhi. Selanjutnya, hanya dibutuhkan ketelatenan untuk rutinitas membersihkan kapas filter.

Itu sebab meski memiliki konsep menyaring air yang sangat sederhana, perangkat filter tersebut cukup bisa diandalkan untuk menjaga kebersihan air akuarium ikan hias air tawar berukuran sedang.

Tabung-Inti yang saya rancang sebagai wadah untuk memudahkan pemeliharaan dan perawatan media penyaring (kapas filter) di setiap Tabung-Filter dalam rangkaian perangkat LPF, memiliki bentuk dan konsep mekanisme menyaring kotoran yang sama dengan filter akuarium model “jadul” sebagaimana diceritakan di atas.

Bedanya, saya memanfaatkan perbedaan tinggi permukaan air bak tanam dengan air dalam Tabung-Filter untuk menciptakan tekanan air di dalam Tabung-Filter itu sendiri. Tekanan air tersebut berfungsi sebagai pompa alami untuk proses menyaring air kotor yang masuk dan keluar Tabung-Inti.

Apakah memang harus dibuat dengan model yang demikian?

Kemampuan mengumpulkan kotoran

Satu hal yang masih ter-patri diingatan saya ketika dulu menggunakan perangkat filter “jadul” adalah berkumpulnya kotoran akuarium di bawah sekeliling filter. Sebuah fenomena fisika sederhana, dimana akibat adanya pergerakan aliran air yang bekerja di dalam filter, membuat sebagian kotoran di akuarium bergerak menghampiri dan berkumpul disekitarnya. Lemahnya kekuatan aliran air menghisap kotoran, membuat banyak kotoran tidak berhasil masuk ke dalam filter. Akibatnya, kotoran-kotoran itu turun dan menetap di bagian bawah luar filter.

Selama tidak ada ikan yang berenang dan mengganggu ketenangan air di area tersebut, maka kotoran akan tetap diam mengendap. Seandainya endapan kotoran itu bisa terus dilindungi dari gangguan, maka kapasitas kemampuan filter menampung kotoran menjadi jauh lebih besar dari kapasitas yang sebenarnya.

Kondisi seperti itulah yang saya coba terapkan pada mekanisme menyaring kotoran pada perangkat LPF. Tabung-Inti merupakan implementasi dari perangkat filter jadul, sedangkan Tabung-Filter merupakan implementasi dari akuarium dimana tempat berkumpulnya kotoran yang tidak berhasil masuk ke dalam filter jadul.

Mekanisme menyaring kotoran yang sederhana, bukan?

Dengan dibuat model seperti itu sebanyak tiga unit yang dioperasikan secara pararel, diharapkan, lebih banyak kotoran yang bisa “ditahan” dan dikumpulkan di ketiga unit Tabung-Filter. Semua kotoran yang masuk ke Tabung-Filter, akan terbagi dengan sendirinya. Sebagian akan terhisap masuk ke dalam Tabung-Inti dan sebagian lainnya mengendap di luar Tabung-Inti.

Dengan begitu, jumlah kotoran yang akan masuk ke dalam Tabung-Inti juga akan berkurang. Dampaknya, media filter yang terdapat di dalam Tabung-Inti memiliki daya tahan lebih lama dalam proses bekerja menyaring kotoran.

Setelah jangka waktu pemakaian yang cukup lama, tingkat kerapatan serat kapas filter akan semakin tinggi karena bertambah dengan populasi kotoran yang tersangkut diantara serat kapas. Kondisi seperti ini akan membuat perpindahan aliran air dari satu unit Tabung-Filter ke unit berikutnya menjadi tersendat / lambat. Akibatnya, volume air bersih yang dihasilkan perangkat LPF pun akan berkurang.

Namun, disaat bersamaan, dengan semakin tinggi tingkat kerapatan serat kapas filter, akan membuat air yang dihasilkan dari proses penyaringan semakin bersih. Tidak masalah apa yang menjadi penyebabnya. Selama volume air bersih yang dihasilkan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan pemakaian air sehari-hari, maka tidak ada tindakan yang perlu dikerjakan.

Tingkat kepekatan populasi kotoran dalam Tabung-Inti di setiap Tabung-Filter akan otomatis menyesuaikan mengikuti urutan letak terdekat dengan keluaran air PAM. Unit Tabung-Filter dengan jarak terdekat adalah yang paling kotor.

Jadi, jika satu ketika terjadi kondisi dimana sama sekali tidak ada air bersih yang mengalir keluar dari Tabung-Filter, maka bisa dipastikan tingkat kepekatan kotoran yang tersangkut di media filter dalam Tabung-Inti dan yang mengendap dalam Tabung-Filter sudah sangat amat padat.

Deskripsi singkat fitur Tabung-Inti

Pada flocksock 4 – 2 inch, dibuat 8 titik lubang menggunakan mata bor berukuran 5 mm. Lubang diposisikan di bagian bidang yang menjulang miring ke atas.

Untuk flocksock 2 – 0,5 inch, juga dibuat 8 titik lubang, di sisi bagian yang berukuran 2 inch dengan menggunakan mata bor berukuran 7 mm.

Di bagian atas Tabung-Inti, flocksock ditutup dengan dop berukuran 2 inch yang dilubangi di bagian tengahnya seukuran sedikit lebih besar dari diameter pipa 0,75 inch.

Lem pipa dibutuhkan untuk menempel “cuping” jalur tambang di sisi luar pipa 4 inch dan kaki filter di sisi luar tepat di tengah-tengah dop 4 inch. Bahan untuk membuat cuping, digunakan pipa PVC 0,5 inch sepanjang 2 cm yang dibelah dua.

Sedangkan bahan untuk kaki, saya memotong flocksock 2 – 0,5 inch sepanjang 1,5 cm, dibagian yang berdiameter 2 inch.

Jadi, ukuran tinggi setiap flocksock 2 – 0,5 inch yang dipakai, lebih pendek 1,5 cm dari ukuran seharusnya. Di setiap kaki, dibuatkan 4 titik lubang untuk jalur keluar-masuk tambang yang digunakan untuk memindahkan Tabung-Inti dari dan ke dalam Tabung-Filter. Ukuran mata bor untuk lubang di setiap kaki adalah sama, yaitu 7 mm.

Tidak ada keharusan / standar ukuran tinggi Tabung-Inti, yang penting berada lebih rendah dari batas tertinggi permukaan air pada keran-berpelampung.

Selain itu juga, pipa jalur keluaran Tabung-Inti harus bisa dihubungkan dengan lubang keluaran Tabung-Filter. Tinggi ukuran, harus diterapkan pada pipa terbesar lebih dulu, yang mana saya disini menggunakan pipa berdiameter 4 inch. Ukuran panjang pipa tersebut akan menentukan ukuran panjang pipa lainnya yang menjadi jeroan dari Tabung-Inti.

Bahan media penyaring

Setelah beberapa lama menggunakan kapas filter sebagai media penyaring untuk dimasukkan ke dalam Tabung-Inti, saya pun memperoleh gambaran kemampuan menyaring kotoran yang sesungguhnya. Baik dari segi jumlah kotoran maupun lama waktu menjalankan fungsinya.


Hasil performa Tabung-Inti menyaring kotoran hanya dengan menggunakan kapas filter, dapat anda temukan di artikel : LPF : Hasil Kinerja Menyaring Air Selama 3 bulan


Setelah itu, saya mengganti kapas filter di salah satu Tabung-Inti dengan media penjernih air organik, yaitu : Arang Batok Kelapa, Batu Apung dan Ijuk.

Kalau dilihat dari perkembangannya selama 10 bulan terakhir setelah pemakaian media penjernih air organik tersebut, saya mendapatkan gambaran lebih nyata. Menggunakan keran berpelampung untuk mengotomasikan tekanan air ditambah konsep menyaring kotoran yang diterapkan pada Tabung-Inti; dapat menghasilkan kualitas air layak pakai dengan kemampuan proses yang tahan lama, berbiaya murah dan sangat minim perawatan.

Terlepas dari seberapa tinggi level kualitas air bersih yang dihasilkan, bagi saya tidak ada masalah selama air tetap jernih, tidak berbau dan didominasi warna kebiruan.

Semoga bermanfaat! 🙂