Serba-serbi Memasang dan Mengembangkan Fungsi Tangki Air

Setelah tidak berhasil upaya menambal kebocoran pada tangki air yang sudah terpakai selama hampir 14 tahun, saya rasa, memang sudah saatnya mesti disudahi dan mulai memikirkan pengganti yang baru.

Alas Dudukan Tangki Air yang Salah

Belajar dari apa yang telah terjadi, memasang tangki dengan langsung mendudukkan pada permukaan dak beralaskan papan kayu adalah cara yang tidak benar. Meski dapat menghasilkan permukaan yang rata sebagai kedudukan tangki, kekuatan papan kayu di area outdoor tidak sehandal besi. Setiap kali hujan, bagian bawah tangki pasti meninggalkan genangan air. Walau terlihat tidak banyak, genangan itu menandakan air sudah meresap ke dalam sebagian papan hingga tahap jenuh.

Kondisi papan yang di tindih tangki, mempersulit untuk bisa kering menyeluruh dengan cepat. Tidak mengherankan jika kemudian hanya beberapa bagian papan melapuk dan hancur sementara beberapa bagian lainnya masih bertahan. Disinilah masalah yang sebenarnya dengan menggunakan papan sebagai alas tangki air yang diletakkan di dak rumah : antara bagian kayu yang hancur dan yang bertahan, menyisakan patahan yang cukup kuat untuk menusuk dan membuat bocor bagian dasar tangki.

Setelah semua sisa kayu disingkirkan dan kebocoran di bagian dasar tangki selesai ditambal, rembesan air kembali keluar tidak lama selesai air memenuhi isi tangki. Entah karena kualitas bahan dasar tangki yang memang kurang bagus atau memang sudah dipakai terlalu lama, rembesan air tetap mengalir keluar meski (akhirnya) hingga seluruh bagian dasar tangki di-balur resin. Melihat kemungkinan bocor sudah tidak bisa diperbaiki, saya putuskan untuk membuangnya.

Alas Dudukan Tangki Air berbahan Besi Siku

Serba-serbi Memasang Tangki Air di RumahAwal Desember 2016, saya membeli tangki air baru merk Penguin (TB-55). Tangki air dengan total kapasitas penuh 520 liter bahan dasar fiber seharga Rp. 990.000,- ini nampak jelas kelayakan standar kualitas fisik-nya secara keseluruhan. Tertera juga di permukaan tutup tangki “embos” logo SNI sebagai informasi pendukung acuan standar kualitas tangki.

Tangki dilengkapi dengan inlet tiga lubang drat-dalam (di bagian atas) berukuran ¾” dan outlet dua lubang drat-dalam (di bagian bawah) yang juga berukuran ¾”. Setiap lubang dilengkapi penutup berulir. Jika dilihat sepintas, kondisinya sudah bisa dibilang memenuhi standar untuk cara pemasangan pipa inlet dan outlet tangki air pada umumnya.

Nah…, untuk bagian alasnya, saya memesan sebuah dudukan tangki berbahan besi siku ke tukang las. Tinggi kaki dudukan hanya 25 cm. Memang hanya setinggi itu ukuran yang saya butuhkan agar bisa di-“paralel” dengan tangki pipa PVC 10″ yang ada. Ukuran bidang tempat dimana nantinya tangki duduk adalah bujur sangkar 1 x 1 meter tanpa tambahan pagar yang biasa mengelilingi batas tangki. Dibagian tengah bidang, dipasang 4 (empat) potong besi untuk menahan beban tangki. Saya lupa menanyakan ukuran besi siku yang digunakan. Kalau diukur menggunakan rol meteran, ketebalan besi = 4 mm dengan bidang lebar besi = 4 cm. Harganya dudukan setelah jadi adalah Rp. 500.000,-.

Setelah dudukan selesai dikerjakan dan tangki diletakkan di atasnya, saya baru menyadari ada yang tidak beres.

Memodifikasi Lubang Inlet Tangki Air Penguin

Adalah kecerobohan saya sendiri saat memilih tangki tanpa benar-benar memeriksa dan memastikan ada-tidaknya fitur lubang untuk memasang pelampung analog (ball tap).

Ketika tangki diantar sampai ke rumah, saya biarkan tetap dalam kondisi terbungkus plastik. Plastik pembungkus baru dibuka saat pemasangan pelampung analog hendak dikerjakan. Begitu setiap penutup lubang pipa inlet di bagian atas tangki dilepaskan, saya baru menyadari bahwa peruntukkan tangki dibuat lebih ke arah untuk mengakomodir sistem pengisian air secara otomatis dengan menggunakan RADAR. Tidak terdapat lubang inlet untuk keperluan menggunakan pelampung-analog seperti Ball-Tap.

Lebih dari satu hari, saya menghabiskan waktu hanya untuk mondar-mandir memerhatikan tangki air kosong tanpa mengerjakan satu tindakan apapun. Tujuannya agar gambar bayangan keseluruhan dari setiap kemungkinan tangki tersebut dipasangi pelampung-analog (Ball-Tap) benar-benar “terpatri” di kepala saya. Hasilnya, te-rangkum dua pilihan yang sekiranya bisa dijadikan solusi. Pertama, memodifikasi salah satu lubang inlet agar menjadi drat penuh. Kedua, membuat lubang inlet baru tanpa drat (ulir).

Karena area disekitar tangki yang sempit, ditambah letak lubang outlet tangki berlawanan dengan letak pipa yang menjadi pintu masuk ke jaringan pipa dalam rumah, membuat pilihan pertama yang paling realistis untuk saya tempuh. Alat-alat yang digunakan untuk mengerjakannya adalah kikir besi berbentuk silinder dan pisau cutter berukuran besar.

Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam waktu untuk mengerjakan modifikasi tersebut. Tidak sulit, tapi harus dikerjakan dengan sangat ekstra hati-hati agar tidak merusak jalur ulir yang ada.

Setelah modifikasi selesai dikerjakan dan pelampung-analog bisa terpasang “cukup” kuat, pipa inlet ke tangki Penguin baru bisa dibuat dan dihubungkan dengan pipa outlet dari tangki pipa PVC 10″. Lubang inlet hasil modifikasi ini, bisa bertahan dan tidak pecah selama dilalui kekuatan tekanan aliran air yang lemah (10 liter per menit). Seandainya dilalui aliran air setara dengan kekuatan dorongan jet pump (40 – 50 liter per menit), meski belum dicoba, saya yakin pasti akan retak / pecah.

Setelah beberapa bagian jalur pipa saya modifikasi, model skema pemipaan saat ini menjadi : satu tangki air + cadangan tangki air.

Dimana letak manfaat dengan menggunakan model pemipaan seperti itu?

Tangki Air Cadangan

Dengan model pemipaan tersebut, ketika air PDAM mati dan air dalam tangki Penguin habis terpakai, saya masih memiliki cadangan air bersih sebanyak 150 liter dalam tangki pipa PVC 10″. Karena, meskipun kedua tangki terhubung secara paralel, air dalam tangki pipa PVC 10″ tidak ikut menyusut mengikuti pemakaian dalam tangki Penguin. Jadi, kapan pun air PDAM mati, saya sama sekali tidak perlu lagi mengkhawatirkan bakal benar-benar kehabisan air di rumah tanpa persiapan cadangan air bersih.

Model pemipaan tangki air tersebut, nantinya, akan saya tambahkan filter air di dalam salah satu tangki pipa PVC 10″. Tujuan akhir yang hendak saya capai adalah menciptakan satu model pemipaan untuk penampungan air bersih yang memiliki fitur tangki air cadangan dan filter air terpadu, namun cukup fleksibel perawatan dan pemeliharaannya.

Pemakaian Air Bersih untuk Kondisi Tidak Normal

Pertanyaannya, jika air PDAM yang ada saat ini sangat jarang mati dan memiliki kualitas cukup bersih setiap harinya, masih perlukah model penampungan air dibuat seperti itu?

Gambaran yang ada di kepala saya sejak awal merancang konsep model penampungan air bersih ini, terfokus untuk mengakomodir kebutuhan air bersih di waktu dan keadaan yang tidak biasa, misalnya :

  • untuk kepentingan merawat bayi
  • merawat penghuni rumah yang sedang sakit
  • melayani kepentingan sehari-hari untuk para manula

Ketika di sebuah rumah memiliki salah satu dari tiga kepentingan tersebut, ketersediaan air bersih merupakan syarat mutlak yang nol persen toleransi.

Meskipun kualitas air PDAM yang setiap harinya kita terima masih dalam kategori layak, bukan berarti sama sekali telah tertutup kemungkinan untuk menjadi tidak layak di kemudian hari. Hal yang sama juga berlaku dengan kondisi fisik tubuh kita atau penghuni lain yang saat ini tinggal satu atap dengan kita. Tidak pernah sedikitpun terlintas di pikiran kita untuk berada dalam kondisi sakit, lemah dan tidak berdaya. Namun, tidak seorangpun diantara kita yang bisa menjamin kemungkinan situasi seperti itu untuk tidak terjadi di kemudian hari. Jika saat semua kondisi tidak umum atau tidak pernah diharapkan itu terjadi secara bersamaan, maka ketersediaan air bersih menjadi hal yang paling dicari dan sangat berharga untuk dijaga keberadaannya.

Disitulah pemikiran inti kepentingan yang menjadi fokus utama dari rancangan teknik pemipaan fasilitas air bersih yang saya harapkan.

Saat situasi dalam kondisi normal, semua perangkat fasilitas penampungan air bersih itu tetap terpakai tanpa satu bagianpun terlewatkan. Dengan demikian, keawetan dan daya tahan fisik perangkat selalu terjaga dan diawasi tingkat kelayakan pakainya berbarengan dengan pemakaian air sehari-hari.

Jadi…

Aktif atau tidak pemakaian tangki air yang ada di rumah kita saat ini, sudah memang seperti itu adanya. Dan akan tetap seperti itu selama anggapan yang kita miliki mengenai tangki air tidak berubah. Menyentuh sisi diluar kepentingan sekadar sebagai wadah air bersih belaka, adalah tindakan yang sedang saya upayakan untuk bisa mendapatkan nilai lebih dari keberadaan tangki air. Jika memang fungsinya bisa dikembangkan untuk di kemudian hari bisa lebih mempermudah kita dalam melewati situasi sulit, menurut saya, tidak ada salahnya diwujudkan di saat kondisi kita masih mampu mengerjakannya.

Merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja seandainya ada yang beranggapan bahwa membuat model penampungan air yang saya buat dan ceritakan di artikel ini merupakan tindakan sia-sia. Itu adalah hak berpendapat setiap orang.

Menurut saya, mencoba untuk mendapatkan situasi yang lebih baik adalah hak setiap orang juga. Apakah akhirnya nanti berhasil atau tidak, tetap meninggalkan pengalaman dan pengetahuan yang bermanfaat. Dengan menerapkan model pemipaan tangki air sebagaimana diuraikan diatas, setidaknya saat ini saya memiliki tambahan waktu pemakaian air bersih selama 12 jam ke depan setelah melewati waktu 1 hari air PDAM terhenti pendistribusiannya.

Semoga bermanfaat! ☺

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  1. Pak, rangka miring dibagian kaki nya kira-kira panjang berapa? atau kalo pakai sudut siku berarti kurang dari 25cm ya Pak? Saya lagi coba buat model begitu dengan tandon tw110 = 1050 liter dengan tinggi 50cm dan luas alas 150cm x 150cm.

  2. Terimakasih Pak bantuin ngitungin panjang kemiringannya. Rencananya pakai besi siku 5cm x 5cm tebal 5mm “full”. Untuk alas rencananya dibuat silang 3 x 3. Nah dibanding dengan posisi sejajar 4 batang, kira-kira kuat mana ya antara silang dan paralel?

  3. kenapa ga pake toren aja untuk cadangan air? pipa PVC 10 “perbatang bisa sampai 1,7juta yg AW. harga segitu uda dapat torn yg 1500L