Cara Menghitung Biaya dan Konsumsi Listrik Laptop

icon listrikdirumah 2017Jumlah listrik yang dikonsumsi laptop, merupakan hal yang masih sering dipertanyakan hingga saat ini. Dengan didukung informasi yang menyatakan konsumsi listriknya lebih kecil di banding PC Desktop, menggunakan laptop menjadi dianggap jauh lebih efektif dan efisien.

Lalu, berapa nilai konsumsi listrik laptop yang sebenarnya?

Karena, dibutuhkan peran adaptor sebagai perantara untuk mengisikan listrik baterai maupun untuk menyalakan laptop langsung melalui stop kontak di dinding, maka terlebih dulu kita perlu memahami bagaimana adaptor tersebut dalam memperlakukan listrik PLN.
icon.top.par

Perilaku Konsumsi Listrik Laptop menggunakan Baterai

Berikut ini, merupakan spesifikasi input dan output listrik yang tertera pada adaptor laptop di rumah saya :

INPUT : 100-240V ~ 1.6A  50/60Hz
OUTPUT : 19.0V — 4.74A  90W Max.

Pemahaman saya dari spesifikasi pemakaian listrik adaptor tersebut adalah :

Pada tegangan listrik 240 Volt, adaptor akan mengkonsumsi daya listrik (AC) sebesar 1,6 Ampere untuk bisa menghasilkan output listrik (DC) sebesar 4,74 Ampere di level tegangan 19,0 Volt atau setara dengan nilai daya maksimum sebesar 90 Watt untuk diisikan ke baterai laptop.

Dengan demikian, nilai output listrik (DC) sebesar maksimum 90 Watt, baru bisa dihasilkan dengan menggunakan input listrik (AC) sebesar 1,6 Ampere – 240 Volt. Atau, dibutuhkan nilai daya (Watt) input listrik yang setara sebesar :

= 1,6 Ampere x 240 Volt
= 384 Watt

Sekadar mengingatkan kembali, rumus yang menjadi acuan untuk menghitung daya adalah :

Watt = Ampere x Voltase

Kemudian, jika hitungan tersebut kita terapkan di level tegangan listrik 220 Volt yang mana merupakan standar voltase listrik rumah tinggal pada umumnya, maka hasilnya menjadi :

= 1,6 Ampere x 220 Volt
= 352 Watt per jam

Kalau begitu, berarti nilai output listrik adaptor untuk dikonsumsi baterai laptop adalah kurang dari 90 Watt?

Memang benar begitu.

Dan, untuk mengetahui nilai output daya adaptor jika diberi input listrik di luar level tegangan listrik 240 Volt, maka harus terlebih dulu dihitung nilai persamaannya menggunakan perbandingan besaran nilai input dan output maksimum dari adaptor, yaitu :

Voltase : 240 / 19 = 12,6315
Ampere : 1,6 / 4,74 = 0,3375
Watt : 384 / 90 = 4,2667

Jadi, dengan input listrik 1,6 Ampere – 220 Volt, output listrik yang bisa dihasilkan adaptor menjadi :

= (220 Volt / 12,6315) x 4,74 Ampere
= 17,4167 Volt x 4,74 Ampere
= 82,5556 Watt (DC)

Atau, dengan kata lain, nilai input 352 Watt (AC) memiliki kesetaraan dengan nilai output 82,5556 Watt (DC).

Jika, kemudian, tegangan listrik turun menjadi 200 Volt, maka nilai daya yang dikonsumsi akan mengikutinya, menjadi :

= 1,6 Ampere x 200 Volt
= 320 Watt (AC)

Dan output listriknya menjadi :

= (200 Volt / 12,6315) x 4,74 Ampere
= 15,8334 Volt x 4,74 Ampere
= 75,0504 Watt (DC)

Tinggi rendahnya nilai tegangan listrik yang menjadi input adaptor ini, akan menentukan lama waktu proses pengisian listrik ke dalam baterai. Hal ini yang membuat pemakaian laptop di saat tegangan listrik sedang turun, akan membuat isi baterai tetap terkuras habis meski dalam kondisi di recharge.

icon.top.par

Perilaku Konsumsi Listrik Laptop tanpa Baterai

Sedangkan kondisi pemakaian laptop di saat tegangan listrik turun tanpa baterai terpasang di laptop, akan tergantung pada jumlah input daya minimum yang bisa di toleransi oleh laptop. Tapi, dari beberapa kali kejadian yang saya alami, dalam kondisi tanpa baterai terpasang akan langsung memadamkan laptop begitu setelah tegangan listrik turun.

Dari situ saya menyimpulkan bahwa nilai input listrik terendah yang dibutuhkan laptop di rumah saya adalah setara dengan 352 Watt (AC). Atau, kalau dikonversikan ke dalam Watt dalam listrik DC adalah setara dengan 82,5 Watt.

icon.top.par

Menentukan Besaran Input Listrik Laptop secara Umum

Dari deskripsi diatas tentang cara adaptor menangani input listrik PLN supaya bisa dikonsumsi oleh laptop dan baterainya, maka kita bisa mulai “meraba” jumlah listrik yang sebenarnya terpakai selama menggunakan laptop.

Saya akan gunakan nilai listrik 352 Watt sebagaimana contoh di atas supaya lebih ringkas dalam menyampaikan besaran input listrik laptop. Disamping itu, biaya listrik yang harus dibayar ke PLN adalah dengan berdasarkan nilai input listrik adaptor. Bukan outputnya.

Pada saat dipakai, laptop tidak selalu mengkonsumsi daya sebesar 352 Watt. Ketika sedang dalam kondisi “peak processing”, maksimum listrik yang di konsumsinya memang sebesar 352 Watt. Tapi, jika tidak, maka nilainya akan kurang dari 352 Watt.

Persoalannya, kapan waktu “peak processing” itu terjadi dan berapa lama waktu berlangsungnya, kita sama sekali tidak tahu. Apakah itu akan terjadi secara background atau foreground, si laptop sepihak yang menentukan. Demikian juga halnya saat laptop dalam kondisi “low processing”.

Dengan dinamika pemakaian listrik seperti itu, berapa nilai pemakaian listrik yang sebenarnya bisa dijadikan acuan?

Hingga saat ini, saya cenderung untuk men-standar-kan pemakaian listrik perangkat elektronik yang berperilaku demikian (termasuk Personal Computer) dengan mengambil nilai pemakaian listrik terbesar. Dimana dalam kasus laptop di atas, menjadi 352 Watt per jam. Baik itu dipakai dalam kondisi peak atau low processing, nilai pemakaian listrik yang terjadi tetap sebesar 352 Watt per jam (1,6 Ampere x 220 Volt).

icon.top.par

Menghitung Biaya Input Listrik Laptop

Tidakkah terlalu berlebihan dengan memukul rata jumlah pemakaian listrik laptop di batas maksimumnya (“peak processing”)?

Bukankah pemakaian laptop lebih sering terjadi dalam kondisi “low processing”?

Dulu, saya pernah melihat “demo” perangkat lunak (software) yang bisa merekam seraya menampilkan konsumsi listrik komputer (DC) di layar monitor secara real-time. Tapi, saat itu saya abaikan, karena tidak ada kepentingan apapun yang mengaitkan saya akan kebutuhan informasi yang demikian.

Jika software seperti itu masih ada dan ter-install di komputer / laptop anda saat ini, besar kemungkinan perhitungan konsumsi listrik laptop bisa dihitung secara lebih akurat. Tapi, dengan syarat, software tersebut memiliki fitur utama perekaman (log file) nilai konsumsi listrik dan fitur opsi perekaman lama waktu pemakaian komputer yang telah terjadi.

Caranya, anda harus membuat urutan perhitungan pemakaian listrik seperti di deskripsikan di bagian awal artikel ini untuk mendapatkan nilai persamaan peng-konversi nilai pemakaian listrik AC ke format listrik DC. Nilai persamaan dari adaptor laptop saya adalah 4,267. Nilai tersebut bisa juga langsung anda pakai asalkan spesifikasi adaptor laptop anda sama dengan spesifikasi yang tertera diawal artikel.

Kemudian, total nilai konsumsi listrik laptop yang DC (satu arah) tinggal dikonversikan terbalik ke nilai listrik AC (dua arah). Maka, akan diperoleh nilai konsumsi listrik laptop dalam “format” listrik AC dan bisa digunakan untuk menghitung biaya pemakaian listrik sesuai tarif listrik yang berlaku.

Misal : data total konsumsi listrik yang terjadi adalah sebesar 150 Watt selama 2 jam.

= 150 Watt (DC) x 4,267
= 640,05 Watt (AC)

Dengan tarif listrik Rp. 1.359,- per kWh, maka biaya listrik untuk pemakaian laptop selama 2 jam adalah :

= (640,05 Watt / 1.000) x Rp. 1.359,-
= 0,64005 kWh x Rp. 1.359,-
= Rp. 869,82795,- dibulatkan menjadi Rp. 869,83,-

Jadi, biaya yang harus dibayar dari konsumsi listrik laptop sebesar 640,05 Watt selama 2 jam adalah Rp. 869,83,-.

Gampang, bukan?

icon.top.par

Menghitung dengan cara Manual

Lalu, bagaimana jika kita tidak memiliki software pencatat seperti yang saya deskripsikan di atas?

Bisa dengan cara menghitung secara manual sebagaimana yang pernah saya kerjakan sebelumnya. Kita cukup mengetahui nilai input daya listrik adaptor, kemudian meng-kali-kan dengan lama waktu pemakaian laptop.

Pada spesifikasi adaptor yang menjadi contoh di atas, nilai jumlah input dayanya adalah sebesar 352 Watt per jam di level tegangan 220 Volt.

Seandainya pemakaian laptop berlangsung selama waktu 2 jam 37 menit, maka perhitungannya menjadi :

= (352 Watt / 1.000) x (2 jam + (37 menit / 60))
= 0,352 kWh x (2 jam + 0,62)
= 0,352 kWh x 2,62 jam
= 0,92224 kWh

Dengan tarif listrik Rp. 1.359,- per kWh, maka biaya listrik untuk pemakaian laptop selama 2,62 jam adalah :

= 0,92224 kWh x Rp. 1.359,-
= Rp. 1.253,32416,- dibulatkan menjadi Rp. 1.253,32,-

Dalam mengerjakan cara menghitung cara manual seperti ini, sudah tentu hasil akhirnya pasti lebih besar dari nilai yang sebenarnya. Namun, setidaknya, kita bisa mengetahui nilai maksimum yang bisa menggambarkan jumlah daya yang dikonsumsi dan besar biaya listrik yang harus dibayar.

Semoga bermanfaat! ☺

icon.top.document

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s