Jika di rumah kita menggunakan tangki tanam atau sumur untuk memenuhi kebutuhan pemakaian air sehari-hari, masih perlukah untuk membuat tangki atas agar pemakaian listrik pompa air bisa dihemat?

Benarkah dengan memasang tangki air (tandon / tedmon) setinggi atap rumah akan menghemat listrik, dibanding dengan langsung menghisap dari sumur atau tangki tanam?

Jawaban yang biasa kita temukan dari pertanyaan di atas, tertuju pada penyebab nyala-mati pompa. Maksud saya, pompa yang menyala dan mati berulang kali, sering dituding sebagai penyebab dari pemakaian listrik yang boros. Kita, termasuk saya, yang awam berurusan dengan teknologi energi listrik pada mesin, hanya bisa menerima jawaban seperti itu dengan pasrah.

Kalau pun jawaban seperti itu benar adanya, entah seberapa besar perbedaan konsumsi listrik antara pompa dioperasikan nyala berkesinambungan dengan nyala-mati – nyala-mati – nyala-mati. Hingga saat ini, saya sendiri belum menemukan bagaimana cara menghitungnya.

Lalu, bagaimana kita bisa memastikan kebenaran bahwa ada sejumlah listrik yang bisa dihemat dengan menggunakan tangki air?

Kapasitas pompa mendistribusikan air…

Untuk mengetahui kejelasannya, saya mencoba mengutak-atik informasi pemakaian air sehari-hari sebagaimana yang biasa ditemukan di rumah.

Misalnya, tangki yang ada di rumah berkapasitas 500 liter. Di letakkan pada ketinggian setara dengan atap rumah, yaitu kira-kira 3 – 4 meter dari permukaan tanah. Untuk mengisinya hingga penuh menggunakan pompa sumur dangkal (350 Watt – 30 liter per menit) dibutuhkan waktu selama 15 menit. Selama waktu 15 menit pompa menyala, jumlah listrik yang dikonsumsi pompa adalah sama. Demikian juga dengan jumlah air yang didistribusikan ke tangki dalam setiap menit-nya.

Saat, kemudian, air dalam tangki kita pakai untuk mencuci piring kotor, tekanan dan jumlah air yang keluar dari moncong keran, tidak akan pernah sama kekuatan dan volumenya dengan air yang didistribusikan pompa ketika mengisikan tangki. Kita pun tidak akan selalu membuka keran sama besarnya antara saat sedang mencuci piring dengan mengisi tangki. Sehingga, meski keran kita buka terus menerus selama 15 menit, jumlah air yang keluar dari dalam tangki, sudah tentu lebih kecil dari jumlah air yang dipompakan masuk ke dalam tangki.

Artinya, selama 15 menit waktu yang digunakan untuk mencuci piring, akan menghasilkan nilai konsumsi listrik berbeda jika dikerjakan antara dengan menggunakan tangki dan tanpa menggunakan tangki.

Konsumsi listrik pompa selama 15 menit menyala adalah sama. Baik itu dilakukan untuk mengisikan air ke dalam tangki maupun untuk mencuci piring kotor. Konsumsi listrik tersebut, tidak bisa dikurangi. Berapa pun jumlah air yang berhasil melewatinya, pompa akan mengkonsumsi listrik dalam jumlah yang sama.

Nah…, dengan mendistribusikan air terlebih dulu ke dalam tangki, berarti, sama dengan kita menekan konsumsi listrik pompa agar sesuai dengan jumlah air yang keluar dari dalam tangki. Dengan kata lain, nilai konsumsi listrik yang dipakai untuk mengisi 500 liter air dalam tangki, akan dibagi dengan lama waktu pemakaian isi tangki hingga habis terkuras.

Jadi, konsumsi listrik pompa untuk mengisikan air ke dalam tangki berkapasitas 500 liter yang sebesar :

= (350 Watt / 1.000) x (15 menit / 60)
= 0,35 kWh x 0,25 jam
= 0,0875 kWh atau 87,5 Watt

akan terbagi ke setiap liter air yang ada di dalam tangki.

Jika air sebanyak 500 liter dalam tangki habis terpakai selama satu hari (24 jam), maka listrik sebesar 87,5 Watt yang dikonsumsi pompa untuk mengisi air ke dalam tangki, akan terbagi selama 24 jam. Sehingga, apapun kepentingan pemakaian air yang ada dalam tangki, konsumsi listriknya tidak akan melebihi 87,5 Watt.

Konsumsi listrik : Tangki vs Pompa

Supaya terlihat lebih jelas perbedaan nilai konsumsi listrik yang terjadi, kita gunakan kasus pemakaian air untuk keperluan MCK (mandi-cuci-kakus). Total jumlah air yang dibutuhkan untuk memenuhi pemakaian air satu orang, berada di kisaran 150 liter per hari. Sedangkan total waktu yang dibutuhkan untuk menjalani aktivitas keperluan MCK, berada di kisaran 1,5 jam (90 menit) dengan total waktu nyala pompa selama kira-kira 20 menit.

Sekarang, kita bandingkan nilai daya listrik yang terpakai untuk memenuhi aktivitas MCK tersebut.

Perhitungan pemakaian air MCK dengan menggunakan tangki :

Untuk menghitungnya, kita membutuhkan dasar nilai Watt berbanding total air yang tersedia dalam tangki. Caranya, membagi jumlah air yang 500 liter dengan jumlah listrik sebesar 87,5 Watt :

= 500 liter / 87,5 Watt
= 5,71 liter per Watt

Kemudian, baru kita bisa mendapatkan nilai Watt dari pemakaian air untuk kepentingan MCK yang sebesar 150 liter :

= 150 liter / 5,71 liter per Watt
= 26,27 Watt

Jadi, pemakaian air untuk kepentingan MCK dengan menggunakan tangki, akan mengkonsumsi listrik sebesar 26,27 Watt.

Perhitungan pemakaian air MCK dengan langsung menggunakan pompa :

Metode perhitungannya menjadi berbeda pada pemakaian air yang tanpa menggunakan tangki. Karena yang hendak dihitung adalah lama waktu pompa mengkonsumsi listrik selama 20 menit untuk menghasilkan 150 liter air, maka perhitungannya menjadi :

= (350 Watt / 1.000) x (20 menit / 60)
= 0,35 kWh x (20 menit / 60)
= 0,35 kWh x 0,33 jam
= 0,1167 kWh atau 116,7 Watt

Terlihat jelas perbedaan nilai yang terjadi, bukan?

Jadi…?

Baik dengan atau tanpa menggunakan tangki air, jumlah air yang terpakai selama aktivitas MCK dilakukan adalah mirip. Namun, jumlah listrik yang dikonsumsi pompa akan sangat jauh berbeda. Itu disebabkan jumlah air yang keluar dari keran langsung pakai pompa, tidak sebanyak jumlah maksimal air yang dapat dihasilkan pompa seperti saat mengisikan tangki (350 Watt ~ 30 liter per menit).

Dengan menghitung selisih konsumsi listrik pemakaian air di atas yang sebesar :

= 116,7 Watt – 26,27 Watt
= 90,43 Watt per hari,

maka dalam sebulan akan menghemat :

= 90,43 Watt x 30 hari
= 2.712,9 Watt atau 2,8 kWh.

Jumlah yang tidak terlalu signifikan, tetapi bisa memperlihatkan bahwa ada perbedaan jumlah pemakaian listrik dalam satu bulan antara dengan dan tanpa menggunakan tangki air.

Jika alasan membuat tangki atas hanya untuk mendapatkan sejumlah penghematan pemakaian listrik yang sedemikian kecil, menurut saya, adalah sangat tidak masuk akal dan cenderung mengada-ada.

Sebenarnya, ada faktor lain yang menguntungkan dengan menggunakan tangki atas, yaitu : menghemat pemakaian air dan air akan tetap keluar dari keran di saat listrik padam.

Secara pribadi, bagaimanapun situasi yang ada di rumah, jika memungkinkan untuk membuat tangki atas, saya akan mengerjakannya lebih berdasarkan alasan pada dua faktor yang menguntungkan itu. Bukan berdasarkan alasan sekadar menghemat pemakaian listrik pompa air.

Semoga bermanfaat! 🙂

Satu tanggapan untuk “Benarkah Pakai Tangki Air jadi Hemat Listrik?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *