Niat awalnya adalah membuat gambar skema pemipaan tangki stainless steel. Tapi, kemudian terhenti karena ketidaksesuaian ukuran pemetaan lembar sketsa dengan gambar template perangkat pemipaan. Penyebabnya terletak pada sudut pandang gambar yang masih menggunakan skala 2 dimensi.

Setelah beberapa saat mengutak-atik, saya putuskan untuk mengubahnya menggunakan skala 3 dimensi, atau lebih dikenal dengan sebutan gambar perspektif. Tidak banyak yang saya ingat mengenai teknik menggambar perspektif yang pernah diajarkan saat dulu di sekolah.

Dengan demikian, teknik menggambar perspektif yang digunakan pun bersifat dasar dan sangat sederhana.

Meskipun sederhana, perubahan terjadi pada gambar sangat mendasar. Terasa jelas perbedaan tarikan garis membentuk sebuah situasi yang lebih realistis. Kemudian, saya mencoba men-standar-kan metode tersebut pada gambar sejenis lainnya.

Hasilnya bisa anda temukan di sebagian besar gambar ilustrasi bertema sejenis yang sudah menggunakan skala 3 dimensi di artikel berkategori Tangki Air.

Perbedaan Rasa

Sebenarnya, sebuah gambar yang dibuat menggunakan skala 2 atau 3 dimensi, memiliki tujuan kepentingan yang sama. Yaitu mem-visualisasi-kan ide di pikiran kita agar bisa dipahami secara lebih nyata. Namun dalam pengembangan-nya, gambar skala 2 dimensi lebih sulit untuk dimodifikasi. Karena, logika tarikan garis sudut pandang pada gambar 2 dimensi tidak harus selalu mengarah ke satu titik yang sama.

Itu yang menyebabkan hasil dari sebuah gambar 2 dimensi sulit dijadikan sebagai gambar acuan untuk mendapatkan gambar yang mirip dengan satu sudut pandang yang sama.

Berbeda dengan gambar 3 dimensi yang selalu mengarah pada satu titik. Dasar pemakaian satu titik tersebut memudahkan gambar 3 dimensi dijadikan sebagai acuan untuk membuat hingga beberapa gambar yang mirip.

Meski dibuat dengan sangat sederhana, gambar 3 dimensi tetap bisa menghadirkan sebuah rasa realita yang lebih akurat dalam pikiran seseorang yang melihatnya. Itu disebabkan titik sudut pandang yang dipakai pada gambar, menggunakan konsep yang sama dengan titik sudut pandang mata kita.

Cara Murah Merealisasikan Ide

Sudah dari awal mulanya, saya bukan sosok yang memiliki dasar kesukaan atau hobi menggambar. Sangat sulit dan butuh waktu lama untuk menemukan letak “guratan” pertama yang mengawali sebuah gambar. Tetapi, saya sangat ingin untuk tetap bisa memiliki ketrampilan menggambar tersebut. Tidak perlu hingga menjadi ahli, cukup di level basic (dasar) saja.

Pasalnya, setelah ditimbang-timbang, menggambar adalah cara termudah dan termurah untuk mem-visualisasi-kan keluar ide di dalam pikiran dengan lebih akurat. Berbeda dengan ketrampilan merangkai fisik seperti prakarya. Meski bahan-bahan yang dibutuhkan sudah membayang di pikiran, tetap kita harus membeli dan memiliki fisiknya agar bisa dirangkai.

Contohnya seperti cerita ide memasang pipa toren menggunakan teknik knocked-down yang saya uraikan di artikel Memasang Pipa Tangki Air / Toren / Tedmon

Untuk mengilustrasikan potongan-potongan pipa beserta sambungannya, harus terlebih dulu membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Kemudian, dirangkai satu per satu sesuai dengan gambaran yang ada di benak saya. Lalu membuat dan mengedit foto-fotonya agar bisa di-representasi-kan secara lebih baik.

Nah, berbarengan dengan foto-foto tersebut, juga disertakan ilustrasi gambar-gambar model instalasi tangki air dengan menggunakan teknik konvensional dan knocked-down secara keseluruhan. Gambar-gambar ilustrasi itu mendeskripsikan situasi yang lebih rumit dibanding yang disajikan dalam foto-foto merangkai pipa. Tetapi, bisa disampaikan dengan jelas dan biaya lebih murah.

Itulah salah satu contoh keuntungan yang didapat dari ketrampilan menggambar. Walaupun dengan ukuran kemahiran hanya sebatas tingkat dasar / pemula, tetap bisa mewakili ide yang ada di dalam pikiran secara lebih nyata.

Bakat vs Belajar

Memaksakan diri belajar secara otodidak merupakan usaha satu-satunya yang saya kerjakan untuk mengembangkan dasar ilmu menggambar yang pernah dulu di ajarkan di sekolah. Mungkin, itu salah satu penyebab yang menjadikan gambar-gambar yang tersaji di blog ini terlihat kaku dan tidak alami.

Ada cerita menarik dari seorang teman yang memang ahli dan berbakat menggambar. Dia pernah menyarankan agar saya lebih sering berlatih mem-visualisasi-kan setiap lembar dari setiap tahapan gambar yang hendak dibuat sebelum menuangkannya di permukaan kertas. Semakin sering berlatih, semakin peka kemampuan mem-visualisasi-kan yang kita miliki.

Beranjak dari situ, keseluruhan gambar akan terbentuk lebih mudah dan alami. Disitu pula akan terlihat bentuk garis besar guratan-guratan yang menampilkan nuansa si perupa. Dan, masih menurut teman saya itu, nuansa imajinasi seseorang pada hasil gambarnya bersifat unik. Mungkin ada kemiripan dengan beberapa orang lainnya, namun selalu ada bagian yang menjadikan berbeda. Nuansa itulah yang menjadi ciri khas (brand) seorang perupa.

Kabar baiknya, seburuk apapun perbedaan nuansa yang menjadi bawaan seorang perupa, tetap memiliki nilai tersendiri yang setara dengan perupa lainnya. Tindakan yang perlu dikerjakan hanyalah membuatnya terlihat halus dan solid bagi yang melihatnya.

Begitu katanya…. Entah seberapa akurat uraian yang saya sampaikan dengan penjelasan secara lisan yang berhasil saya simak. 😂. Sebagai pihak yang sedang belajar, tentu harus bisa menerima saran yang diajarkan. Hasilnya adalah gambar-gambar seperti yang anda temukan di blog ini.

Dan, secara tidak langsung, bisa diartikan bahwa baik itu merupakan bakat atau belajar, gambar yang dihasilkan akan menunjukkan ciri khas orang yang membuatnya. Kecuali sengaja ditiru, tidak akan pernah sama antara satu orang dengan lainnya.

Ujung-ujungnya di copas juga…

Memang menyebalkan kalau mengingat kemungkinan gambar-gambar yang telah dibuat dan dimuat di blog ini kemudian di copas. Betapapun berat usaha yang dipersiapkan untuk menyajikan hasil terbaik, akan dengan mudah di “jungkir-balik” dengan copas. Dan realita copas tersebut, sepertinya, kian mengental dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.

Dari selama perjalanan 5 tahun nge-blog, dalam 2 tahun terakhir saya menemukan hampir setiap bulan salah satu artikel di blog ini di copas oleh orang yang berbeda-beda. Mulai dari yang berprofesi sebagai siswa sekolah, guru sekolah, mahasiswa, teknisi, salesman, pedagang hingga pelaku industri produk yang telah di-paten-kan.

Dalam kasus ini, tanggung jawab moral sudah nyaris tidak berlaku lagi di mata mereka. Apapun yang menguntungkan, adalah sah untuk dikerjakan. Demikian yang menjadi prinsip utamanya.

Di sisi yang sama, sebagian besar diantaranya telah menyadari dampak negatif yang ditimbulkan secara permanen. Mereka dengan sengaja menyertakan alamat blog ini sebagai sumber artikel / gambar. Meski mirip-mirip dengan copas, cara seperti itu lebih memiliki makna sama dengan berbagi (sharing) artikel. Dengan kata lain, mereka tetap mengakui perannya hanya sebagai perpanjangan tangan saja.

Seiring waktu berjalan, apapun alasan yang mendasari tindakan copas akan langsung diidentifikasikan sebagai tindakan “nge-spam”. Kesepakatan tidak tertulis ini terbentuk dengan sendirinya di ranah internet berdasarkan kecenderungan etika pen-copas yang buruk dalam merespon.

Kebablasan…!!!

Kelanjutan niat awal menggambar skema pemipaan tangki stainless steel yang saya sebutkan di awal artikel ini, telah berganti arah dan berakhir menjadi gambar di bawah ini :

Hahaha… Ternyata memang ada keasyikan tersendiri dalam menjalani proses menggambar. 😊. Apalagi terdapat lahan yang bisa dijadikan tempat menampung sekaligus mengkreasikan ide-ide baru. Meski hasil gambar kali ini jauh dari niat awal dan kategori “bagus”, tetap menyenangkan karena merupakan hasil karya sendiri. Gambar itu merupakan potongan untuk melengkapi ilustrasi untuk disisipkan di artikel Benarkah Pakai Tangki Air jadi Hemat Listrik?

Semua uraian di atas, hanyalah sekadar cerita seorang pribadi yang sangat ingin untuk bisa menguasai dasar ketrampilan menggambar. Dan, meski hanya sebatas keterampilan dasar dan amatir, setidaknya, dapat membantu melengkapi pemahaman ide-ide disampaikan melalui tulisan di blog ini dengan biaya lebih murah namun spesifik dan eksklusif.

Faktor itulah yang menjadikan keterampilan menggambar tampak istimewa di mata saya untuk dipelajari.

Semoga bermanfaat! ☺

3 tanggapan untuk “Blog Tips : Menggambar, Blogging dan Copas

  1. Wah banyak juga ya ngelapornya 😀 . Klo aku setelah pindah ke self hosted malah spt ga diladeni, malah dituduh balik apa aku yg copas, dan kesannya disuruh urus sendiri. Ya sudah ga pernah lapor2 lagi.
    Pernah gambar2ku di crop watermarknya, krn aku kan seringnya naruh dibagian pinggir spy ga ganggu gambarnya.
    Pernah kuliat ada yg nawarin software copas, tinggal masukkin link isi blog akan ke copas. Ngeri banget yaa 😀 . Waktu itu sih baru bisa utk blogspot aja.

  2. Iya bang ternyata cuma wp.com aja yg cepat banget ditanggapi saat lapor dmca.
    Waktu itu sih saya sempat merubah sedikit isi tulisan yg di copas, takutnya saya yg dituduh google tukang kopasnya hehe.
    Hasil dari adsense ya?. Ngumpulin 4 bln bang baru dapat min. pencairan. Trafikku anjlok sampai 60% sejak pindahan. 2 minggu lalu pindah hosting, semoga trafik bisa balik spt saat masih di wp.com .. kalau setahun kedepan tdk ada perubahan trafik saya mau balik ke wp.com bang. Mau fokus maen youtube aja, sptnya lebih mudah dapat duitnya haha. Oh ya minggu depan artikel nya yaa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *