Beberapa hari kemarin, iseng-iseng saya menyimak kembali lampiran keputusan tarif listrik tahun 2015 di layar laptop. Kemudian, meng-googling informasi mengenai cara pembelian kuota listrik prabayar. Dari beberapa yang ditemukan, semuanya memiliki dasar konsep transaksi yang sama. Yaitu, kuota listrik dikemas ke dalam bentuk voucher dengan beberapa paket harga penawaran.

Hmmm…. sebuah teknik transaksi yang cukup menarik dan fleksibel untuk mengakomodasi kebutuhan listrik pelanggan prabayar secara menyeluruh ke berbagai tingkat golongan keuangan. Lalu, salah satu mana “harus” di beli diantara beberapa paket harga voucher-voucher yang ditawarkan yang bisa memenuhi kebutuhan pemakaian listrik di rumah selama satu bulan penuh?

Berangkat dari pertanyaan tersebut, saya mencoba merancang sebuah metode cara menghasilkan satu nilai rata-rata pemakaian listrik dalam sehari. Kemudian, nilai tersebut digunakan sebagai acuan / dasar dalam menentukan besaran rupiah dari voucher listrik yang harus dibeli untuk pemakaian listrik satu bulan. Tujuannya agar besaran harga paket voucher listrik dapat langsung ditentukan dan transaksi pembelian cukup dilakukan “hanya” satu kali dalam sebulan.

Mungkin, ada diantara anda pelanggan prabayar, yang tertarik untuk mengetahui caranya. Dibawah ini, saya mencoba mendeskripsikan setiap langkah yang sekiranya perlu dikerjakan untuk mendapatkan nilai tersebut :

1. Gunakan kamera handphone

Untuk mendapatkan nilai rata-rata pemakaian listrik per hari, anda perlu mencatat pemakaian listrik di rumah dalam selang / jeda waktu tertentu. Gunakan kamera gadget (hp / smartphone / tablet) milik anda. Itu adalah sarana pencatat nilai meter listrik terbaik yang saya ketahui. Lakukan dua kali pemotretan nilai pemakaian yang tertera di meteran listrik prabayar anda. Beri jeda waktu minimal satu minggu untuk melakukan pemotretan kedua.

2. Hitung nilai rata-rata pemakaian listrik per hari

Setelah pemotretan kedua dikerjakan, kurangi nilai akhir dengan nilai awal sebagaimana yang tertera pada masing-masing foto, kemudian hasilnya dibagi dengan jumlah banyaknya hari yang terlewati mulai pemotretan pertama hingga pemotretan kedua. Itulah nilai rata-rata pemakaian listrik di rumah anda dalam satu hari. Usahakan kedua pemotretan dilakukan pada jam yang sama, sehingga lebih mudah menghitung jumlah hari yang menjadi nilai pembagi-nya.

Misalnya :

Tanggal 03 Januari pukul 7 pagi, dilakukan pemotretan pertama. Kemudian tanggal 14 Januari di jam yang sama dilakukan pemotretan kedua. Maka, jumlah hari yang menjadi pembagi adalah 11 (14 – 3). Jika pemotretan kedua dilakukan tanggal 14 Januari pada pukul 8 pagi, maka nilai pembagi-nya menjadi 11 + (1 / 24) = 11 + 0,04167 = 11,04167.

3. Hitung jumlah rata-rata pemakaian listrik per bulan

Kali-kan nilai rata-rata pemakaian per hari tersebut dengan angka 32. Maka anda dapatkan nilai rata-rata pemakaian listrik dalam satu bulan. Mengapa dikalikan 32? Bukankah jumlah hari terbanyak dalam satu bulan hanya 31? Sebenarnya, hal itu tergantung dari anda yang memutuskannya. Dalam pengalaman saya menghitung pemakaian listrik, jarang terjadi pemakaian dengan jumlah yang sama setiap bulannya. Pasti selalu terjadi dinamika “sedikit” kelebihan / kekurangan dari jumlah rata-rata pemakaian yang sebelumnya telah di perkirakan. Sebuah fenomena yang wajar, karena kita bukan robot.

4. Hitung rata-rata nilai rupiah untuk membeli listrik satu bulan

Nilai rata-rata pemakaian listrik selama satu bulan tersebut, tinggal di-kali-kan dengan harga listrik per kWh yang berlaku, dimana pada saat ini nilai listrik per kWh untuk semua golongan di atas 900VA adalah Rp. 1.392,-. Hasilnya adalah jumlah rupiah yang perlu anda sediakan untuk satu kali pembelian voucher listrik guna memenuhi “kebutuhan rata-rata” listrik di rumah selama satu bulan.

5. Beli voucher bernilai lebih besar dari yang telah diperhitungkan.

Setiap voucher listrik yang dijual, memiliki besaran nilai rupiah bulat. Dengan begitu, anda tidak bisa memaksa untuk melakukan pembelian dengan nilai rupiah yang tidak tertera ditawarkan. Guna mencegah kekurangan nilai kWh listrik yang dibutuhkan, lakukan pembelian voucher dengan besaran rupiah di atas nilai yang telah diperhitungkan. Selain itu, nilai rupiah dari setiap voucher yang dibeli, sudah termasuk biaya administrasi. Sehingga, jumlah listrik per kWh yang diterima, lebih kecil dari nilai rupiah yang dibelanjakan.

6. Simpan sisa kuota untuk dipakai saat dibutuhkan

Tidak ada masalah dengan sisa kelebihan nilai daya per kWh yang telah dibeli. Biarkan sisa-sisa nilai tersebut terkumpul dan tersimpan di meteran. Karena, itu akan terpakai pada saat kita akan merayakan peristiwa-peristiwa tertentu, seperti : hari besar keagamaan, tahun baru, kumpul keluarga besar dsb. Atau, bisa juga sebagai cadangan untuk menalangi kekurangan per kWh dari pemakaian listrik di bulan-bulan berikutnya.


Sudah selesai… hanya itu saja langkah-langkah yang perlu dikerjakan. Mudah, bukan?

Langkah pengerjaan untuk nomor 1 s/d 4; hanya dikerjakan satu kali saja. Keempat langkah tersebut perlu dilakukan kembali saat anda membeli perangkat elektronik baru apa pun untuk memenuhi kebutuhan anda. Baik itu dilakukan dalam rangka mengganti maupun menambah perangkat yang sebelumnya telah ada. Bila tidak terjadi perubahan / penambahan perangkat apa pun, maka nilai tersebut dapat terus digunakan selama tidak terjadi perubahan harga per kWh listrik oleh PLN.

Metode perhitungan pembelian voucher listrik ini, merupakan pengembangan dari metode perhitungan yang telah saya sampaikan di artikel Cara Menghitung Prakiraan Biaya Tagihan Bulanan PLN. Perbedaannya, metode di artikel tersebut mendefinisikan nilai pencadangan kuota listrik per bulan dalam jumlah tak terbatas. Pelanggan prabayar bisa berperilaku menggunakan listrik tanpa batas layaknya pelanggan pascabayar.

Di artikel ini, nilai pencadangan kuota listrik per bulan didefinisikan berdasarkan pada perhitungan pemakaian listrik rata-rata per hari. Nilai yang dihasilkan lebih spesifik dan memiliki batasan sesuai perilaku pemakaian listrik yang anda (dan para penghuni rumah lainnya) biasa terapkan sehari-hari di rumah. Sehingga, jika terjadi perilaku pemakaian listrik di luar kebiasaan, ada kecenderungan terjadi kehabisan kuota listrik sebelum waktunya.

Jika dilihat dari sisi positifnya, pada kasus-kasus tertentu, metode ini efektif dan bisa digunakan untuk memantau perilaku pemakaian listrik para penghuni di rumah.

Contoh Kasus :

Nilai hasil pengurangan atas pemakaian listrik mulai tanggal 03 Januari pukul 7 pagi hingga 14 Januari di jam yang sama adalah sebesar 135 kWh. Nilai rupiah per kWh yang diberlakukan oleh PLN adalah sebesar Rp. 1.392,- (termasuk biaya Ppj sebesar 3%).

Nilai rata-rata pemakaian listrik per hari menjadi : 135 kWh / 11 hari = 12,3 kWh.

Nilai rata-rata pemakaian listrik per bulan : 12,3 kWh x 32 hari = 393,6 kWh

Perkiraan nilai rupiah dari listrik yang harus di beli per bulan : 393,6 kWh x Rp. 1.392,- = Rp. 547.891,2,-

*** Nilai Rp. 547.891,2,- tersebut, belum termasuk biaya administrasi bank dan materai.

Semoga bermanfaat!