Keberadaan dan pemakaian oven listrik di rumah tinggal pada umumnya, sudah mirip layaknya perangkat yang biasa kita temukan di sebuah dapur. Seperti : kuali, panci, kompor, rice cooker dsb.

Namun demikian, konsumsi listrik dari oven listrik yang cukup besar, membuat keraguan banyak orang dalam mempertimbangkan kembali niatan untuk membelinya.

Memang benar… kalau dibandingkan dengan perangkat dapur lainnya, konsumsi listrik oven listrik adalah terbesar kedua setelah microwave oven. Tapi, apakah hal itu menjadikan biaya pemakaian listrik yang harus dibayar juga menjadi semakin besar?

Cara Oven Listrik mengkonsumsi Listrik

Untuk mengetahui berapa persisnya konsumsi listrik dari oven listrik, bisa dibilang tidak akan pernah bisa dihitung secara pasti.

Adonan bahan makanan, level panas tingkat pengapian dan model pengapian yang dipakai untuk mematangkan adonan; merupakan faktor-faktor penentu yang membuat oven mengkonsumsi listrik secara dinamis. Perbedaan cara dalam mematangkan adonan makanan itulah yang menjadikan sulit untuk mendapatkan nilai pemakaian listrik oven listrik secara pasti.

Lalu, apakah ada cara untuk mendapatkan nilai pemakaian listrik yang sekiranya bisa dijadikan acuan selama memanggang menggunakan oven listrik?

Dasar nilai pemakaian listrik dari oven listrik, dibedakan dari model pengapian yang dipakai. Ada tiga model pengapian yang biasa ditemukan pada oven listrik :

  1. Api atas
  2. Api bawah
  3. Api atas bawah

Ketiga model pengapian tersebut, mengkonsumsi listrik secara berbeda. Namun konsumsi listrik terbesar ada pada model pengapian nomor tiga, yaitu api atas bawah.

Selama proses pemanggangan berlangsung, hampir tidak ada adonan makanan yang dapat dipanggang hanya dengan menggunakan satu model pengapian saja. Bisa dibilang, hampir semua adonan makanan membutuhkan ketiga model pengapian tersebut untuk dipakai secara bergantian agar hasil akhir panggangan bisa sesuai sebagaimana diharapkan.

Selain daripada itu, ada situasi dimana oven secara otomatis mematikan aliran listrik ketika panas interior oven telah mencapai level yang ditentukan. Ketika suhu panas interior oven berangsur turun, aliran listrik secara otomatis kembali menyala untuk memanaskan kembali. Proses nyala-mati oven ini berlangsung berkesinambungan hingga pekerjaan pemanggangan selesai.

Kedua faktor itulah yang membuat oven mengkonsumsi listrik secara dinamis selama proses pemanggangan berlangsung.

Konsumsi Listrik Pengapian Atas Bawah sebagai Acuan

Karena tidak pernah terjadi pemakaian listrik secara tetap (statis), maka akan lebih mudah jika nilai konsumsi listrik terbesar dari oven yang dijadikan sebagai acuan, yaitu pengapian atas-bawah. Meskipun nantinya pasti ada perbedaan dengan realita sesungguhnya, besaran jumlah hasil akhir perhitungan tidak akan pernah lebih tinggi dari batas konsumsi listrik tertinggi yang dimiliki oven itu sendiri.

Seandainya hasil perhitungan nampak terlalu tinggi dari yang diharapkan, kita tinggal membandingkan berapa besaran selisih nilai yang sekiranya bisa mendekati nilai sepantasnya. Karena pada realitanya, biaya tidak terduga yang terjadi sejak awal perencanaan hingga makanan selesai dipanggang dan siap disajikan, akan selalu ada dan melebihi dari yang sebelumnya diperkirakan.

Berikut contoh cara menghitung pemakaian listrik oven berdaya maksimum 1400 Watt yang dinyalakan selama 45 menit :

= (1.400 / 1.000) x (45 / 60)

= 1,4 x 0,75

= 1,05 kWh

Jika oven dipakai di rumah dengan kapasitas listrik terpasang 2.200 VA (tarif listrik Rp. 1.444,7 per kWh) , maka biaya pemakaian listrik oven adalah :

= 1,05 kWh x Rp. 1.444,7

= Rp. 1.516,94

Murah meriah! 😁

Perlu saya kembali ingatkan, kalau total pemakaian listrik sebesar 1,05 kWh itu tidak benar-benar terjadi sebesar 1,05 kWh. Sehingga, realita biaya pemakaian listrik yang terjadi sebenarnya adalah kurang dari Rp. 1.516,94.

Contoh kedua : oven berdaya 1.100 Watt digunakan selama 90 menit (1,5 jam) di rumah berkapasitas listrik 2.200 VA :

= (1.100 / 1.000) x (90 / 60)

= 1,1 x 1,5

= 1,65 kWh

Biaya pemakaian listrik yang harus dibayar :

= 1,65 kWh x Rp. 1.444,7

= Rp. 2.383,76

Gampang, bukan?

Jadi…?

Pemakaian oven listrik untuk aktivitas memasak makanan sehari-hari, bisa dibilang jarang terjadi. Oven cenderung digunakan pada saat waktu-waktu dan momen tertentu saja, seperti : liburan semester, liburan hari raya keagamaan dan liburan-liburan hari lainnya. Sehingga, biaya pemakaian listrik dari oven yang harus dibayar, bukan merupakan satu rutinitas yang wajib dipenuhi setiap bulannya.

Dengan menjadikan nilai konsumsi listrik terbesar sebagai dasar acuan konsumsi listrik dari oven, akan diperoleh gambaran kasar dari biaya pemakaian listrik yang harus dibayarkan. Dari situ kita bisa membandingkan kalau besaran biaya listrik dari oven untuk menghasilkan satu kue, tidak akan lebih mahal dari harga satu kotak keju permesan 165 gram. Besaran biaya yang dibayarkan juga masih dalam kategori masuk akal karena acuan nilai tertinggi yang dipakai tidak melebihi batas konsumsi listrik tertinggi yang dimiliki oven itu sendiri.

Jadi, bagi Anda yang memang memiliki niat untuk membeli oven listrik, tak perlu ragu dengan biaya listrik yang harus dibayarkan atas pemakaian oven. Dan, bagi Anda yang sudah memiliki oven listrik di rumah, manfaatkanlah sebaik-baiknya. Aktivitas memanggang makanan menggunakan oven akan memberikan pemahaman lebih baik tentang cara membuat penganan ringan yang murah meriah sesuai dengan selera kita.

Semoga bermanfaat! 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *