Pada awal bulan Juli 2022, harga gas elpiji (non-subsidi) mengalami penyesuaian kenaikan sebesar Rp. 2.000,- per kg. Sehingga, total harga gas elpiji tabung 12 kg yang sebelumnya Rp. 190.000,- naik menjadi Rp. 214.000,-. Harga tersebut dipasaran (pengecer), kembali mengalami penyesuaian hingga menjadi dikisaran Rp. 220,.000,-.

Mungkin karena belakangan sering mendengar berita tentang kenaikan harga, pikiran saya seolah menjadi telah terbiasa saat mendengar perihal kenaikan harga elpiji tersebut.

Namun hal itu tidak berlangsung lama setelah sepotong tayangan iklan kompor listrik (non-induksi) seharga Rp. 190.000,- an melintas di layar smartphone saat sedang berselancar di salah satu e-commerce.

Sebagai pengguna gas tabung 12 kg dengan pemakaian sekitar 1,5 bulan per tabung, perbandingan harga kompor listrik yang nyaris setara dengan isi elpiji 12 kg, membuat saya terusik.

Pemikiran Upaya Menghemat Pemakaian Elpiji

Jika kemudian uang untuk membeli gas dialihkan untuk membeli kompor listrik; dan ternyata biaya pemakaian listrik untuk memasak selama 1,5 bulan lebih kecil dari Rp. 220,.000,-; maka selisihnya dapat dianggap sebagai konpensasi dari harga pembelian kompor listrik itu sendiri.

Dua minggu setelah kenaikan harga elpiji resmi berlaku di masyarakat, saya membeli kompor listrik dari salah satu toko di marketplace.

Foto : Kompor Listrik

Tentu saja belum nampak perbandingan nilai antara biaya pemakaian kompor listrik dengan kompor gas. Namun, saya mendapatkan ada beberapa hal mendasar yang sekiranya bisa dijadikan sebagai parameter batas pemakaian dari kedua jenis kompor tersebut.

Kompor Listrik vs Kompor Gas

Setelah beberapa hari menggunakan kompor listrik, saya mendapat gambaran lebih baik kalau pemakaian kompor listrik tetap tidak akan bisa menggantikan fungsi kompor gas secara menyeluruh. Itu dikarenakan keduanya menggunakan konsep dan media yang berbeda dalam proses pembakaran. Nyala api kompor gas memiliki efek panas “nyaris” seketika pada panci/kuali/pan. Sedangkan elemen pemanas kompor listrik berlangsung relatif lambat.

Perbedaan tersebut membawa dampak cara pemakaian yang juga berbeda antara kompor listrik dengan kompor gas.

Butuh waktu untuk elemen pemanas menaikkan suhu permukaan tungku. Sehingga, kita selalu harus meluangkan waktu sedikit lebih lama setiap sebelum kompor hendak dipakai. Demikian juga hal saat setelah kompor listrik dipadamkan. Butuh waktu sedikit lebih lama untuk mendinginkan tungku kompor setelah pemakaian.

Lambatnya penurunan suhu panas pada tungku, mengharuskan selama proses memasak berlangsung menggunakan kompor listrik harus terus diawasi.

Ketika kita memasak menggunakan kompor gas, cukup dengan mematikan gas untuk mengatasi situasi masakan yang mendadak luber keluar panci. Sedangkan pada kompor listrik, kita harus mengangkat panci hingga terpisah dari permukaan tungku. Jika itu tidak dilakukan, luberan makanan dari dalam panci akan dengan segera menyelimuti permukaan kompor dan sangat sulit dibersihkan.

Bahkan untuk beberapa olahan masakan akan meninggalkan noda pada permukaan kompor yang sama sekali tidak dapat dibersihkan.

Mematikan aliran listrik saat kompor listrik sedang menyala tidaklah sama efeknya dengan mematikan aliran gas saat kompor gas sedang menyala. Tingginya suhu elemen pemanas tidak serta-merta mendadak berkurang saat aliran listrik kompor dimatikan.

Perbedaan karakter nyala api kompor gas dengan elemen pemanas kompor listrik yang seperti itu, memang menuntut cara penanganan yang berbeda. Dan hal itu merupakan nilai tambah kompor listrik yang tidak dimiliki kompor gas.

Permukaan tungku yang masih cukup panas setelah kompor dimatikan, bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan kira-kira “setengah pekerjaan” dari proses mematangkan masakan. Artinya, kita dapat mematikan kompor beberapa saat setiap sebelum proses memasak berakhir.

Contohnya proses memanggang roti.

Foto : Memanggang Roti menggunakan Kompor Listrik

Awalnya, satu sisi bagian roti dipanggang dengan kondisi kompor menyala dengan daya maksimal. Setelah permukaan bagian bawah roti berubah kecoklatan, kompor dimatikan dan roti dibalik. Proses pemanggangan roti berlanjut hingga selesai dengan memanfaatkan sisa suhu panas pada permukaan tungku. Pemakaian listrik menjadi lebih singkat tanpa mengorbankan tingkat kesempurnaan dari hasil pemanggangan.

Foto : Roti hasil produk panggangan Kompor Listrik

Jadi, memang sudah bawaan/karakter kompor listrik itu sendiri yang “lama panas – susah dingin”. Tidak ada yang salah dengan itu, dan kita memang harus beradaptasi dalam cara menggunakannya.

Pan sebagai pengganti kuali

Seandainya kita terbiasa mengolah makanan dengan menggunakan kuali/penggorengan, menggunakan kompor listrik sama sekali bukan tindakan yang tepat. Permukaan elemen pemanas yang datar, tidak bisa mengakomodir bentuk fisik melengkung pada kuali. Sehingga, untuk urusan menggoreng makanan pada kompor listrik, harus menggunakan pan atau penggorengan dengan dasar permukaan datar.

Diameter bagian tungku kompor listrik yang relatif kecil (16 cm), membuat fokus suhu panas yang dihasilkan tungku tidak merata saat memanaskan bagian dasar pan / panci berdiameter lebih besar dari 16 cm. Dalam prakteknya, saya tidak melihat hal tersebut berdampak signifikan terhadap hasil masakan.

Namun jika kita merasa perlu untuk mengatasinya, dapat disiasati dengan meletakkan lempeng plat bulat (plate heat conducting) berdiameter 20 s/d 24 cm di atas permukaan tungku. Lempeng plat seperti itu banyak dijual di marketplace dengan kisaran harga Rp. 70.000,- s/d Rp. 100.000,- per unit.

Foto : Plat Aluminium untuk Tatakan Kompor
Foto : Tungku Kompor tanpa Tatakan
Foto : Tungku Kompor setelah diberi Tatakan
Foto : Memasak Air menggunakan Tatakan

Plat berbahan dasar aluminium tersebut, memiliki kemampuan menghantarkan panas relatif cepat. Sehingga, meskipun terfokus di tengah, suhu panas dengan cepat menyebar ke bagian pinggir tatakan. Hal tersebut menjadikan suhu panas pada permukaan plat cenderung merata.

Selain berfungsi untuk mengakomodir ukuran diameter tungku yang kecil, lempengan plat tersebut lebih terasa manfaatnya untuk melindungi permukaan tungku dan kompor dari luberan masakan.

Pengaruh Voltase Listrik

Karena listrik menjadi sumber energi untuk menyalakan dan mengoperasikan kompor, maka listrik itu sendiri yang menjadi salah satu faktor penentu bagus-tidaknya kinerja kompor listrik. Sehingga, jika dikemudian hari suhu kompor listrik Anda terasa tidak sepanas biasanya, maka janganlah terlalu cepat menyalahkan pada kualitas kompor sebagai penyebabnya. Elemen pemanas yang terpasang pada kompor listrik dan juga perangkat dapur bertenaga listrik lainnya, pada dasarnya jarang bermasalah.

Peran kestabilan voltase listrik menjadi sangat penting untuk dipenuhi jika kita hendak berurusan dengan pemakaian kompor listrik sebagai salah satu perangkat memasak di dapur. Dengan voltase listrik stabil, kita akan mendapatkan ukuran/parameter yang pasti dari perilaku kompor listrik yang kita pakai. Dari situ kita baru akan bisa menentukan dan memutuskan cara terbaik dalam menangani pemakaian kompor listrik menyesuaikan dengan makanan yang hendak diolah.

Ketidakstabilan voltase juga merupakan salah satu bagian yang sering terlewatkan ketika kita mempertanyakan kompor listrik milik tetangga, yang notabene sama persis produknya, bisa menghasilkan panas jauh lebih tinggi dan stabil dibandingkan kompor listrik di rumah.

Jadi, jangan terlalu cepat berkesimpulan buruk jika mendapatkan kenyataan kalau kompor listrik yang Anda pakai tidak bekerja secara maksimal. Ketidakstabilan voltase listrik sering mengecoh penilaian kita terhadap kualitas kerja perangkat elektronik menjadi jauh dari realita yang sesungguhnya.

Besar Daya Kompor Listrik vs Kapasitas Listrik Terpasang

Besar-kecilnya daya kompor listrik akan langsung memengaruhi tingkat kecepatan kompor memanaskan permukaan tungku. Sehingga, jika Anda memiliki masalah dengan waktu tunggu yang relatif lama untuk kompor memanaskan tungku, maka perlu kiranya Anda memilih spesifikasi kompor listrik yang memiliki daya cukup besar namun tidak melebihi kapasitas listrik terpasang di rumah. Setidaknya, sisakan sejumlah daya listrik yang memungkinkan untuk kulkas serta tv tetap bisa menyala selama Anda menggunakan kompor.

Misalnya : kapasitas listrik terpasang di rumah sebesar 1300VA (1040 Watt), maka besar maksimum daya dari kompor listrik yang dibutuhkan adalah 800 Watt.

Dengan begitu, Anda tidak perlu khawatir listrik bakal nge-jepret ketika setelan suhu kompor dipasang pada kekuatan maksimum.

Biaya Listrik pemakaian Kompor Listrik

Secara umum, biaya listrik yang harus dibayar atas pemakaian kompor listrik dapat dihitung dengan mudah.

Contohnya :

  • Kapasitas listrik terpasang di rumah 1300 VA = Rp. 1.444,7,- per kWh (kwartal kedua 2022)
  • Spesifikasi daya maksimum kompor listrik 800 Watt
  • Lama waktu pemakaian listrik untuk memasak mie instant = 10 menit (7 menit mendidihkan air + 3 menit proses memasak)

Biaya listrik yang harus dibayar :

= ((800 / 1000) x (10 / 60)) x 1.444,7
= 0,8 x 0,167 x 1.444,7
= 0,133 x 1.444,7
= 192,15

Jadi, biaya listrik yang harus dibayarkan untuk memasak mie instant menggunakan kompor listrik adalah sebesar Rp.192,15,-.

Murah meriah!

Foto : Memasak Mie Instant menggunakan Kompor Listrik

Menunggu waktu mulai dari kompor dinyalakan hingga air mendidih (7 menit) untuk memasak mie instant, bukanlah hal yang menyenangkan. Terutama jika disaat bersamaan, pikiran kita dikaitkan dengan jumlah biaya listrik yang harus dibayar.

Itu perlunya kita mengetahui cara perhitungan pemakaian listrik. Setidaknya, kita memiliki satu dasar informasi yang nyata dan independen tentang perbandingan antara biaya dengan manfaat dari perangkat elektronik yang kita pakai. Termasuk kompor listrik.

Dari hasil perhitungan di atas, kita bisa memiliki pandangan yang lebih baik mengenai sejauh mana tingkat kelayakan penggunaan kompor listrik atas  perbandingan lama waktu tunggu mendidihkan air dengan biaya yang harus dibayarkan.

Perbandingan Biaya pemakaian Kompor Listrik vs Kompor Gas

Apakah kompor listrik membuat biaya proses mengolah makanan menjadi lebih murah dibanding kompor gas?

Saya masih belum memiliki perhitungan jumlah pengeluaran biaya yang cukup nyata dari kedua kompor. Ada kemungkinan biaya memasak menggunakan kompor listrik bisa menjadi lebih murah. Namun, dikarenakan masing-masing kompor memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak dimiliki satu dengan lainnya, maka kemungkinan tersebut tidak bisa dijadikan sebagai pedoman ukuran yang sesungguhnya untuk diperbandingkan.

Kita dapat membuat perhitungan kasar mengenai perbandingan biaya pemakaian listrik dan gas atas masing-masing kompor. Tapi sebelumnya, harus ada data mengenai lama waktu pemakaian satu tabung gas untuk memasak.

Saya gunakan contoh kasus dari pemakaian satu tabung gas 12 kg selama 1,5 bulan yang terjadi di rumah saya.

Jika rata-rata proses lama waktu memasak per hari berlangsung selama 2 jam, maka :

Biaya rata-rata pemakaian elpiji untuk memasak dalam sehari :

= Rp. 220.000,- / 45
= Rp. 4.888,89,-

Sedangkan untuk perhitungan biaya memasak menggunakan kompor listrik :

  • Kapasitas listrik terpasang di rumah 1300VA = Rp. 1.444,7,- per kWh
  • Spesifikasi daya maksimum kompor listrik yang dipakai 800 Watt.

Biaya rata-rata pemakaian listrik untuk memasak selama 2 jam per hari :

= Rp. 1.444,7 x (0,8 x 2 jam)
= Rp. 1.444,7 x 1,6
= Rp. 2.311,52,-

Terlihat jelas bedanya, bukan?

Kembali saya ingatkan disini, karena masing-masing kompor memiliki kelebihan dan kekurangan yang sudah menjadi bawaan / karakternya, perbedaan nilai biaya tersebut tidak dapat sepenuhnya untuk dijadikan parameter.

Mengganti Kompor Gas dengan Kompor Listrik

Kompor listrik dapat membantu mengurangi pemakaian kompor gas untuk urusan pekerjaan dapur yang sifatnya sederhana dengan kapasitas terbatas. Seperti : mendidihkan air, merebus telur, menghangatkan makanan, membuat mie instan dan pekerjaan mengolah makanan lainnya yang sifat pengerjaannya relatif singkat dan sederhana.

Ide mengganti kompor gas dengan kompor listrik bukanlah pemikiran yang buruk. Hanya saja, ide tersebut tidak bisa diterapkan sepenuhnya untuk menggantikan peran kompor gas.

Bagian inilah yang sebenarnya harus kita pahami dengan benar kalau pada akhirnya fungsi kompor listrik lebih pada kepentingan untuk melengkapi aktivitas memasak dengan menggunakan kompor gas, bukan menggantikan fungsi kompor gas itu sendiri.

Dengan pemahaman tersebut, pemikiran akan fungsi kompor listrik menjadi lebih tepat sasaran, yaitu mengurangi frekuensi pemakaian kompor gas. Dampaknya, elpiji di rumah jadi lebih awet dan memiliki jeda waktu pembelian kembali yang cukup lama.

Foto : Menggoreng Telor Ceplok menggunakan Kompor Listrik

Jadi, meskipun tidak bisa sepenuhnya dijadikan sebagai pengganti kompor gas, ada porsi tersendiri yang dimiliki kompor listrik sebagai salah satu perangkat memasak di dapur. Tinggal kita yang memutuskan perlu-tidaknya untuk menghadirkan sosok kompor listrik disalah-satu area dapur di rumah.

Semoga bermanfaat! 🙂

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *