Mini Ceiling Fan : Memposisikan kipas angin dalam rumah

Kata “kipas angin” disini merujuk pada pengertian mini-ceiling-fan dengan bilah baling-baling terbalik. Jadi, bukan sembarang model kipas angin yang umum maupun mini-ceiling-fan berbaling-baling standar seperti yang ditemukan di pasaran. Untuk selanjutnya, istilah “mini-ceiling-fan dengan bilah baling-baling terbalik” akan saya singkat menjadi “kipas BBT” (kipas bilah baling-baling terbalik)

Selama menggunakan kipas BBT, saya tidak melihat adanya posisi / lokasi tertentu kipas harus di tempatkan dalam sebuah ruangan. Kipas BBT ini akan tetap terasa nyaman digunakan walau pun anda berada tepat di bawah putaran-nya dalam waktu lama. Jika bilah baling-baling standar mampu menghasilkan sensasi hembusan udara hingga di luar ruangan dimana unit ditempatkan, tidak demikian halnya dengan BBT yang hanya sebatas dalam ruangan saja.

Hembusan udara dari kipas BBT hanya efektif untuk satu ruangan tanpa sekat apa pun. Sehingga, untuk mendapatkan sensasi yang sama dalam dua ruangan berbeda, setiap ruangan membutuhkan unit kipas BBT berbeda. Dalam ruangan dimana unit ini ditempatkan, perlu dua jalur ventilasi udara. Satu di area bawah sebagai jalur udara masuk (pintu / jendela) dan lainnya di area atas ruangan (lubang pada langit-langit) sebagai jalur udara keluar.

Dasar kekuatan hembusan udara yang dihasilkan oleh BBT sangat tergantung dari panjang dan lebar bilah. Semakin panjang, maka semakin luas jangkauan area hembusan udara yang dihasilkan. Lebar bilah menentukan besar / kecilnya kekuatan hembusan udara dari setiap kayuhan. Sebaran angin yang dihasilkan dapat divariasikan dengan membuat tekukan pada badan bilah.

Putaran baling-baling kipas berdiameter 92 cm, mampu untuk menghasilkan sensasi hembusan udara ke seluruh bagian ruangan (tanpa sekat) seluas 70 meter persegi. Jadi, untuk kebutuhan perputaran udara dalam rumah siap huni tipe 70, dapat dengan menggunakan satu unit kipas BBT yang diletakkan di bagian tengah rumah. Perputaran udara yang dihasilkan akan mengurangi tingkat kelembaban di area tengah rumah. Hal ini akan ber-efek tingkat kelembaban di ruangan lainnya secara bertahap, tetapi tidak secepat anda menempatkan tambahan unit kipas baru di ruangan berbeda.

Jadi, tata-ruang dalam sebuah rumah, sangat menentukan efektivitas hembusan udara yang dihasilkan oleh kipas BBT ini. Memasang satu unit kipas di sebuah rumah yang relatif kecil dengan banyak ruang di dalamnya (mis. tempat kost), hanya akan terlihat dan terasa manfaatnya pada area jangkauan sekitar tempat kipas diletakkan saja.icon.top.par
Konsep rumah tempo doeloe

Seandainya anda ber-kesempatan mengunjungi rumah model tempo dulu (zaman Belanda), anda akan menemukan satu ciri kesamaan dalam model ruangan di-dalamnya. Yaitu : memiliki pintu dan jendela ber-jalusi ditambah letak posisi langit-langit yang tinggi (> 4 meter). Pada rumah yang belum mengalami modifikasi, kita tidak akan menemukan langit-langit. Tidak ada area pemisah antara genteng dengan ruangan di-bawahnya. Memang, jika dilihat sepintas, terlihat kusam dan kotor. Namun, memang demikian kondisi rumah daerah ber-iklim tropis yang seharusnya.

Semua udara panas dalam ruangan akan naik dan terkumpul di bagian atas rumah. Jarak ruang yang tinggi dapat menciptakan kondisi tempat penampungan udara panas lebih banyak di bagian atas ruangan. Saat udara panas berakumulasi dan menjadi jenuh, secara perlahan dan berkesinambungan mengalir keluar melalui celah genteng. Sementara di area bawah ruangan, pasokan udara dingin melalui jalusi pintu / jendela tetap berlangsung bersamaan dengan keluarnya udara panas di bagian atas rumah.

Proses aliran udara masuk-keluar rumah seperti ini terjadi secara perlahan selama 24/7. Demikian halus aliran udara yang berlangsung sehingga nyaris tidak dapat kita rasakan. Hal ini menjadikan seringkali kita men-salah-arti-kan bahwa penyebab utama suasana sejuk dan tidak pengap pada rumah tempo doeloe dikarenakan fisik bangunan yang tinggi. Bukan sirkulasi udara yang berkesinambungan.

Teknik sirkulasi udara yang saya sampaikan di semua artikel dalam blog ini, menggunakan dan meniru konsep dasar dari bangunan rumah tempo doeloe tersebut. Konsep bangunan kebanyakan rumah siap huni saat ini adalah bangunan yang rendah dengan model pintu / jendela tanpa jalusi. Se-canggih apa pun teknik arsitektur untuk membentuk sirkulasi udara yang diterapkan pada rumah dengan menganut model dataran non-tropis, tidak akan dapat mengakomodasi suasana sejuk iklim dataran tropis di dalamnya. Persoalannya sekarang, bagaimana cara mengakomodasi udara panas pada kondisi rumah wilayah non-tropis tanpa merubah fisik bangunan yang ada?

Di rumah yang terpasang eternit / langit-langit guna membatasi antara genteng dengan ruang di bawahnya, maka meletakkan kipas angin di area atas langit-langit (di bawah genteng) rumah adalah salah satu cara untuk mengangkat dan mengeluarkan udara panas dari bawah ruangan melalui lubang ventilasi. Tindakan tersebut membuat kondisi bagian atas rumah “terasa” menjadi lebih tinggi dari fisik sebenarnya. Untuk mendapatkan hasil yang mirip dengan rumah model tempo doeloe, dibutuhkan modifikasi pada pintu dan / atau jendela rumah ditambah dengan pengadaan kipas angin (di area para maupun dalam ruangan) berkekuatan putaran sedang cenderung lemah. Selain itu, kipas angin yang dibutuhkan harus dapat menghasilkan hembusan udara tidak ter-fokus. Sehingga, area penyebaran hembusan untuk perputaran udara relatif merata ke seluruh bagian ruangan.

Adakah model kipas angin dengan fitur seperti demikian? Fitur seperti demikian tidak pernah saya temukan dari beberapa dasar model kipas angin yang umum beredar di pasaran. Semua model kipas angin yang ada, memiliki tipe hembusan angin “ter-fokus” dengan kekuatan rata-rata hembusan angin yang cukup kuat. Mirip dengan mini-ceiling-fan berbaling-baling standar.

Itulah penyebab terbesar lamanya waktu yang saya butuhkan untuk menyempurnakan teknik sirkulasi udara di rumah. Eksperimen dengan menggunakan beberapa model kipas, tidak bisa menghasilkan perputaran udara relatif merata ke seluruh ruangan dalam waktu bersamaan. Untuk bisa menciptakan kondisi perputaran udara seperti itu, dibutuhkan beberapa kipas angin berkekuatan sedang yang ditempatkan menyebar dalam ruangan. Walau pun secara garis besar bisa berfungsi, cara ini tidak efektif, bahkan jauh dari efisien.

Oleh sebab itu, menurut saya, tahap terpenting dalam membentuk sirkulasi udara dalam rumah siap-huni adalah mengusahakan keberadaan kipas angin dengan spesifikasi khusus (seperti telah dinyatakan sebelumnya) sebagai sarana pengganti rendahnya bagian atap rumah. Tanpa kipas angin, semua lubang jalur ventilasi yang telah dibuat, tidak dapat diharapkan untuk berfungsi secara maksimal.icon.top.par
Memperlambat perubahan suhu ruangan

Sebenarnya, hanya dua dasar tempat dimana kipas perlu diposisikan, yaitu : tepat di bawah (area dalam ruangan) dan di atas langit-langit rumah (area para). Sebagaimana sifat udara saat dipengaruhi suhu (temperatur), udara panas akan selalu berada di atas udara dingin. Baik udara tersebut memiliki kandungan air (lembab) atau tidak, udara panas akan selalu berada di bagian atas ruangan.

Agar udara panas bisa meninggalkan bagian atas ruangan, perlu dibuat lubang ventilasi di langit-langit rumah. Udara panas akan mengalir melalui lubang tersebut, namun dengan kondisi kelembaban udara di area bawah genteng rumah “harus” lebih rendah dibanding kelembaban udara dalam ruangan. Cara paling efektif untuk menurunkan tingkat kelembaban udara di area para adalah dengan menggunakan kipas angin. Setelah kondisi kelembaban udara di area para relatif lebih kering, di samping bantuan kipas angin, udara panas di bagian atas ruangan otomatis akan mengalir melalui lubang ventilasi. Seiring berkurangnya kandungan air dalam udara panas di area para, sebagian diantaranya akan keluar melalui lubang celah genteng.

Secara teori, penempatan unit kipas di area para akan terasa efektivitas-nya dalam kondisi cuaca cerah dan panas. Namun pada prakteknya, hal itu berlaku untuk segala kondisi cuaca. Eksperimen yang saya kerjakan dengan menempatkan satu unit kipas di setiap ruangan dan satu unit di area para rumah, menunjukkan bahwa kipas di area para akan lebih sering dinyalakan dibanding kipas dalam ruangan. Kipas dalam ruangan dinyalakan antara pukul 15.00 hingga 09.00 keesokan harinya. Sedangkan kipas di area para dinyalakan antara pukul 08.00 s/d 22.00.

Penyalaan kipas, baik di area para maupun dalam ruangan, difungsikan untuk menjalankan perputaran udara agar kelembaban tidak ter-konsentrasi di kedua tempat tersebut. Mulai pukul 07.00 s/d 22.00, proses kelembaban udara terus terjadi di area luar sekitar rumah. Pada pukul 08.00, panas matahari akan menaikkan temperatur udara di sekitar rumah dan berkurang secara bertahap mulai pukul 15.00.

Intinya, untuk mempertahankan suasana sejuk dalam ruangan, waktu penyalaan kipas di area para akan terasa efektif saat selama terjadi proses kelembaban (menjelang fajar, siang hingga menjelang tengah malam). Fungsi penyalaan kipas dalam ruangan lebih ditujukan untuk kepentingan menurunkan tingkat kelembaban. Dalam kondisi iklim / cuaca apa pun, penyalaan kipas di area para cenderung menurunkan suhu ruangan di bawahnya. Sedangkan penyalaan kipas dalam ruangan, akan menciptakan sensasi berlawanan daripada kondisi iklim / cuaca yang ada. Hangat ketika musim hujan, sejuk saat musim panas.

Siklus nyala-mati kedua kipas diterangkan di atas merupakan dasar waktu saya untuk penyetelan dua timer harian yang terhubung pada masing-masing kipas di rumah (Bogor – Jawa Barat). Siklus tersebut bisa jadi sama, sedikit berbeda atau berbeda sama sekali dengan kondisi di tempat tinggal anda. Hal itu lebih dikarenakan pengaruh dari tata ruang, posisi / letak rumah dan kondisi iklim / cuaca.icon.top.par
Perlu sedikit kesabaran dan usaha

Jadi, kondisi idealnya adalah terdapat dua kipas (satu unit di area para dan lainnya di dalam ruangan) yang harus dioperasikan di satu rumah agar sirkulasi udara dalam ruangan dapat terakomodasi dengan baik. Disamping itu, kedua kipas dapat difungsikan secara bersamaan di saat cuaca udara panas. Demikian juga sebaliknya pada saat udara dingin, dapat satu unit saja dioperasikan atau kedua-duanya dimatikan. Ini hanya masalah pilihan saja.

Dari semua modifikasi dan usaha untuk membangun dan membentuk sirkulasi udara dalam rumah, bagian tersulit yang saya alami adalah membuat bilah baling-baling terbalik berbahan aluminium dan saat penyetelan baling-baling tersebut pada mini-ceiling-fan. Benar-benar dibutuhkan kesabaran selama menjalani tahapan tersebut. Namun, hasil yang didapat-pun benar-benar sepadan. Setelah penyetelan baling-baling bisa dikerjakan dengan sempurna, tidak banyak tindakan dibutuhkan selama penggunaan dan pemeliharaan kipas.

Anda hanya butuh melumasi poros kipas satu bulan sekali atau setiap saat terdengar suara bising akibat mengeringnya minyak di putaran poros kipas. Seandainya rusak, baling-baling dilepaskan dari kipas lama dan tidak perlu di-setel ulang saat setelah dipasang pada kipas baru. Jangan merubah kondisi baling-baling yang ada, kecuali anda merasa perlu untuk lebih menyempurnakan kesenyapan-nya selama dioperasikan. Bersihkan seperlunya saja.icon.top.document
Semoga bermanfaat!

Next Article : Meratakan sebaran angin

Iklan