Mini Ceiling Fan : Memposisikan kipas angin dalam rumah

halaman 1 dari 2

Kata “kipas angin” disini merujuk pada pengertian mini-ceiling-fan dengan bilah baling-baling terbalik. Bukan sembarang model kipas angin yang umum maupun mini-ceiling-fan berbaling-baling standar seperti yang ditemukan di pasaran.

Untuk selanjutnya, istilah “mini-ceiling-fan dengan bilah baling-baling terbalik” akan saya singkat menjadi “kipas BBT” (kipas bilah baling-baling terbalik)

Selama menggunakan kipas BBT, saya tidak melihat adanya posisi / lokasi tertentu kipas harus di tempatkan dalam sebuah ruangan. Kipas BBT ini akan tetap terasa nyaman digunakan walau pun anda berada tepat di bawah putaran-nya dalam waktu lama. Jika bilah baling-baling standar mampu menghasilkan sensasi hembusan udara hingga di luar ruangan dimana unit ditempatkan, tidak demikian halnya dengan BBT yang hanya sebatas dalam ruangan saja.

Hembusan udara dari kipas BBT hanya efektif untuk satu ruangan tanpa sekat apa pun. Sehingga, untuk mendapatkan sensasi yang sama dalam dua ruangan berbeda, setiap ruangan membutuhkan unit kipas BBT berbeda. Dalam ruangan dimana unit ini ditempatkan, perlu dua jalur ventilasi udara. Satu di area bawah sebagai jalur udara masuk (pintu / jendela) dan lainnya di area atas ruangan (lubang pada langit-langit) sebagai jalur udara keluar.

Dasar kekuatan hembusan udara yang dihasilkan oleh BBT sangat tergantung dari panjang dan lebar bilah. Semakin panjang, maka semakin luas jangkauan area hembusan udara yang dihasilkan. Lebar bilah menentukan besar / kecilnya kekuatan hembusan udara dari setiap kayuhan. Sebaran angin yang dihasilkan dapat divariasikan dengan membuat tekukan pada badan bilah.

Putaran baling-baling kipas berdiameter 92 cm, mampu untuk menghasilkan sensasi hembusan udara ke seluruh bagian ruangan (tanpa sekat) seluas 70 meter persegi. Jadi, untuk kebutuhan perputaran udara dalam rumah siap huni tipe 70, dapat dengan menggunakan satu unit kipas BBT yang diletakkan di bagian tengah rumah. Perputaran udara yang dihasilkan akan mengurangi tingkat kelembaban di area tengah rumah. Hal ini akan ber-efek tingkat kelembaban di ruangan lainnya secara bertahap, tetapi tidak secepat anda menempatkan tambahan unit kipas baru di ruangan berbeda.

Jadi, tata-ruang dalam sebuah rumah, sangat menentukan efektivitas hembusan udara yang dihasilkan oleh kipas BBT ini. Memasang satu unit kipas di sebuah rumah yang relatif kecil dengan banyak ruang di dalamnya (mis. tempat kost), hanya akan terlihat dan terasa manfaatnya pada area jangkauan sekitar tempat kipas diletakkan saja.
icon.top.par

Konsep rumah tempo doeloe

Seandainya anda ber-kesempatan mengunjungi rumah model tempo dulu (zaman Belanda), anda akan menemukan satu ciri kesamaan dalam model ruangan di-dalamnya. Yaitu : memiliki pintu dan jendela ber-jalusi ditambah letak posisi langit-langit yang tinggi (> 4 meter). Pada rumah yang belum mengalami modifikasi, kita tidak akan menemukan langit-langit. Tidak ada area pemisah antara genteng dengan ruangan di-bawahnya. Memang, jika dilihat sepintas, terlihat kusam dan kotor. Namun, memang demikian kondisi rumah daerah ber-iklim tropis yang seharusnya.

Semua udara panas dalam ruangan akan naik dan terkumpul di bagian atas rumah. Jarak ruang yang tinggi dapat menciptakan kondisi tempat penampungan udara panas lebih banyak di bagian atas ruangan. Saat udara panas berakumulasi dan menjadi jenuh, secara perlahan dan berkesinambungan mengalir keluar melalui celah genteng. Sementara di area bawah ruangan, pasokan udara dingin melalui jalusi pintu / jendela tetap berlangsung bersamaan dengan keluarnya udara panas di bagian atas rumah.

Proses aliran udara masuk-keluar rumah seperti ini terjadi secara perlahan selama 24/7. Demikian halus aliran udara yang berlangsung sehingga nyaris tidak dapat kita rasakan. Hal ini menjadikan seringkali kita men-salah-arti-kan bahwa penyebab utama suasana sejuk dan tidak pengap pada rumah tempo doeloe dikarenakan fisik bangunan yang tinggi. Bukan sirkulasi udara yang berkesinambungan.

Teknik sirkulasi udara yang saya sampaikan di semua artikel dalam blog ini, menggunakan dan meniru konsep dasar dari bangunan rumah tempo doeloe tersebut. Konsep bangunan kebanyakan rumah siap huni saat ini adalah bangunan yang rendah dengan model pintu / jendela tanpa jalusi. Se-canggih apa pun teknik arsitektur untuk membentuk sirkulasi udara yang diterapkan pada rumah dengan menganut model dataran non-tropis, tidak akan dapat mengakomodasi suasana sejuk iklim dataran tropis di dalamnya. Persoalannya sekarang, bagaimana cara mengakomodasi udara panas pada kondisi rumah wilayah non-tropis tanpa merubah fisik bangunan yang ada?

Di rumah yang terpasang eternit / langit-langit guna membatasi antara genteng dengan ruang di bawahnya, maka meletakkan kipas angin di area atas langit-langit (di bawah genteng) rumah adalah salah satu cara untuk mengangkat dan mengeluarkan udara panas dari bawah ruangan melalui lubang ventilasi. Tindakan tersebut membuat kondisi bagian atas rumah “terasa” menjadi lebih tinggi dari fisik sebenarnya. Untuk mendapatkan hasil yang mirip dengan rumah model tempo doeloe, dibutuhkan modifikasi pada pintu dan / atau jendela rumah ditambah dengan pengadaan kipas angin (di area para maupun dalam ruangan) berkekuatan putaran sedang cenderung lemah. Selain itu, kipas angin yang dibutuhkan harus dapat menghasilkan hembusan udara tidak ter-fokus. Sehingga, area penyebaran hembusan untuk perputaran udara relatif merata ke seluruh bagian ruangan.

Adakah model kipas angin dengan fitur seperti demikian? Fitur seperti demikian tidak pernah saya temukan dari beberapa dasar model kipas angin yang umum beredar di pasaran. Semua model kipas angin yang ada, memiliki tipe hembusan angin “ter-fokus” dengan kekuatan rata-rata hembusan angin yang cukup kuat. Mirip dengan mini-ceiling-fan berbaling-baling standar.

Itulah penyebab terbesar lamanya waktu yang saya butuhkan untuk menyempurnakan teknik sirkulasi udara di rumah. Eksperimen dengan menggunakan beberapa model kipas, tidak bisa menghasilkan perputaran udara relatif merata ke seluruh ruangan dalam waktu bersamaan. Untuk bisa menciptakan kondisi perputaran udara seperti itu, dibutuhkan beberapa kipas angin berkekuatan sedang yang ditempatkan menyebar dalam ruangan. Walau pun secara garis besar bisa berfungsi, cara ini tidak efektif, bahkan jauh dari efisien.

Oleh sebab itu, menurut saya, tahap terpenting dalam membentuk sirkulasi udara dalam rumah siap-huni adalah mengusahakan keberadaan kipas angin dengan spesifikasi khusus (seperti telah dinyatakan sebelumnya) sebagai sarana pengganti rendahnya bagian atap rumah. Tanpa kipas angin, semua lubang jalur ventilasi yang telah dibuat, tidak dapat diharapkan untuk berfungsi secara maksimal.
icon.top.par

Iklan