Sirkulasi Udara : Mempertahankan Sensasi Sejuk dalam Ruangan

halaman 1 dari 2

Konsep yang mendasari dari mempertahankan sensasi sejuk dalam ruangan adalah mencegah / menghindari bagian rumah ter-dingin dari hawa panas selama mungkin pada saat matahari bersinar. Bagian terdingin tersebut, pada umumnya, terletak di bagian fondasi rumah. Jika unsur dingin di bagian fondasi ini dapat dipertahankan dengan meminimalisir pengaruh hawa panas yang dihasilkan dari cahaya matahari, maka akan dapat digunakan sebagai sumber / penghasil hawa dingin secara alami di dalam rumah.

icon.top.par

Faktor fondasi rumah

Pemahaman saya sebelumnya mengenai keberadaan udara panas dalam rumah adalah murni disebabkan oleh udara panas dari luar yang masuk ke dalam rumah. Setelah diperhatikan lebih jauh, ternyata, ada faktor pendukung lain yang menjadi penyebab udara di dalam rumah menjadi panas, yaitu fondasi rumah.

Cahaya matahari akan menghasilkan panas saat terkena permukaan objek / benda tertentu, termasuk tanah. Meningkatnya suhu permukaan tanah di luar rumah akan merayap dan memengaruhi kondisi sekitarnya. Sehingga, walau pun letak fondasi terhalang oleh atap dan dinding rumah, panas yang terjadi pada permukaan di sekitar rumah akan terserap.

Fondasi rumah yang terbuat dari semen dan besi beton, akan lebih mudah menyerap perubahan suhu (terutama panas) dari sekitarnya dibanding bahan kayu. Sehingga menjadi sebuah hal yang wajar seandainya suhu ruangan tetap terasa panas saat malam hari setelah melalui kondisi terik sepanjang siang pada rumah berfondasi semen dan beton.

Teknik yang saya ketahui untuk melindungi fondasi rumah dari kondisi seperti itu adalah dengan membuat batas berbentuk parit se-dalam 30cm s/d 50 cm antara fondasi di dalam dengan fondasi di luar rumah. Bagian dalam parit tersebut dilapisi dengan sejenis lembaran aluminium foil khusus untuk menghalangi rambatan hawa panas dari area sekitar fondasi luar rumah yang terkena cahaya matahari langsung.

Apakah teknik pembuatan fondasi rumah yang demikian juga diterapkan di mayoritas rumah siap huni? Saya rasa tidak. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Keuntungan dan daya saing dari harga atas penjualan rumah yang diharapkan pengembang, merupakan faktor utamanya. Lalu, adakah solusi lain untuk mengatasi atau, mungkin, bisa meminimalkan pengaruh panas yang dihasilkan di sekitar fondasi rumah?
icon.top.par

Alternatif melindungi fondasi rumah dari rambatan hawa panas

Saya mendapatkan salah satu cara untuk menghambat rambatan hawa panas pada fondasi rumah dengan tidak sengaja selama melakukan perawatan tanaman di pekarangan rumah. Memasang paranet yang semula ditujukan untuk melindungi tanaman dari cahaya matahari langsung, ternyata, juga berdampak meredam panas pada permukaan di sekitar fondasi rumah. Walau pun akhirnya membuat suasana halaman “terasa lebih” gelap, cara ini lebih murah dan mudah daripada membongkar dan membuat parit di sekitar fondasi rumah.

Saya menggunakan paranet dengan tingkat kerapatan cukup tinggi sehingga hanya 60%-75% saja cahaya matahari yang dapat menerpa permukaan tanah di seluruh pekarangan rumah.

Dengan cara tersebut, suhu dalam rumah dapat dikurangi hingga 2°Celcius lebih rendah daripada sebelum paranet dipasang. Namun, setelah itu, muncul permasalahan baru.

Agar terjadi pergerakan di dalam rumah, dibutuhkan pasokan udara segar dari luar untuk masuk ke dalam rumah. Sehingga, jalur ventilasi ruangan tetap harus dalam kondisi terbuka. Permukaan area di luar rumah yang tidak tertutup paranet, tetap menghasilkan udara panas lebih tinggi dan akan bercampur serta turut masuk ke dalam rumah melalui jalur ventilasi tersebut.

Saat udara panas dari luar masuk ke dalam rumah, terjadi pertemuan udara dengan perbedaan tingkat suhu yang cukup tinggi. Hal ini akan menciptakan proses dan menaikkan tingkat kelembaban udara. Sehingga, walau pun suhu dapat diturunkan hingga 2°Celcius, udara di dalam rumah akan terasa sangat panas akibat tingginya tingkat kelembaban. Kondisi rasa panas yang demikian yang sering disebut dengan istilah “Realfeel”.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana caranya agar kita dapat membatasi bagian dari udara segar ber-suhu rendah saja yang masuk ke dalam rumah dan meninggalkan bagian udara segar ber-suhu tinggi untuk tetap berada di luar rumah?

Sebuah pertanyaan dari pemikiran yang “konyol”, namun memang kondisi seperti itu yang di butuhkan. Kita tidak dapat memilah udara berdasarkan suhu-nya, tetapi kita dapat mengurangi tingkat kecepatan laju udara dari luar untuk masuk ke dalam rumah. Apa bedanya?
icon.top.par

Memperlambat laju masuk udara dari luar rumah

Menghambat / memperlambat laju masuk udara dari luar rumah akan membuat bagian udara ber-suhu rendah terpisah dengan udara ber-suhu tinggi beberapa saat setelah berada di dalam ruangan. Kita dapat membuat jalur ventilasi udara di plafon untuk mengalirkan udara panas naik ke area bagian atas plafon rumah dan membiarkan udara dingin tetap merayap masuk ke bagian rumah ter-dalam.

Cara yang saya kerjakan untuk memperlambat udara dari luar dapat bergerak masuk ke dalam rumah dengan bebas adalah dengan menambahkan jalusi di bagian pintu besi (teralis) rumah. Keadaannya menjadi mirip dengan pintu rumah berjalusi. Jadi, pintu utama yang terbuat dari kayu tetap seperti sedia kala (tidak diganti / modifikasi). Di bawah ini adalah gambar pintu teralis yang diberi tambahan jalusi di bagian luar-nya.

pintu.berjalusi.updtSirip-sirip jalusi pada pintu teralis ini menggunakan bahan lembaran plastik keras (atau dapat juga lembaran fiber) yang biasa digunakan menghalangi pandangan dari luar pagar rumah. Agar potongan plastik keras ini tidak melengkung / tetap rata saat dan setelah di pasang, di setiap sisi dilekatkan potongan kawat ikat no. 10 sebagai rangka. Potongan kawat ikat ini dapat dilekatkan dengan menggunakan kawat loket, kawat ikat beton atau “lem korea”.

Disini, saya menggunakan gabungan kawat loket (besar lubang 1 cm) untuk melekatkan potongan kawat ikat no. 10 di setiap bagian sisi sirip plastik tersebut. Secara faktor kekuatan, sudah pasti lebih kuat di banding dengan hanya menggunakan kawat ikat beton atau lem korea saja. Tetapi, dalam pengerjaannya jauh lebih sulit. Namun, alasan utamanya bukan masalah kekuatan, tetapi karena masih ada sisa gulungan kawat loket di rumah yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Untuk dipasangkan pada pintu teralis, kawat ikat no. 10 yang sudah terpasang (menjadi rangka) potongan plastik keras tersebut diikatkan pada besi teralis pintu menggunakan kawat ikat beton. Hanya satu sisi dari potongan plastik keras saja yang diikatkan pada pintu teralis.

Sedangkan untuk membuat kemiringan sirip-sirip plastik, menggunakan kawat ikat no. 16 sebagai penopang bagian bawah sirip plastik ke bagian atas sirip plastik di bawahnya.

Dengan cara seperti ini, seandainya kondisi udara di luar rumah cukup ekstrim (panas / dingin), saya masih memiliki perangkat untuk dijadikan penghalang, yaitu pintu utama guna mencegah sepenuhnya udara dari luar untuk masuk ke dalam rumah. Di samping itu, dengan terpasangnya jalusi, kondisi udara yang dihasilkan untuk masuk ke dalam rumah menjadi lebih stabil. Pengaruh hawa (panas / dingin) dan angin kencang, dapat ditekan sesuai tingkat kemiringan jalusi.

Lembar plastik keras yang saya gunakan berwarna “putih susu”, sehingga pandangan dari dalam dan luar sisi pintu menjadi terhalang / buram. Tujuannya adalah agar pintu utama tetap dapat terbuka selama 24 jam. Sehingga, udara segar dapat secara konstan masuk ke dalam rumah selama 24 jam sehari. Disamping itu, tak seorang pun di luar rumah yang dapat mengetahui apakah sedang ada penghuni atau tidak di dalam rumah (baik siang mau pun malam hari).
icon.top.par

Iklan