halaman 1 dari 5

Mengefisiensikan pemakaian daya pada lampu penerangan dapat diartikan sebagai tindakan mengefektifkan konsumsi daya dari penggunaan lampu dalam sebuah ruangan / area. Mengacu pada fungsi lampu sebagai sumber penerangan sebuah ruangan / area tertentu, tindakan mengefektifkan konsumsi daya pada lampu adalah sama dengan memaksimalkan pemanfaatan pemakaian cahaya lampu dengan menyesuaikan tinggi-rendahnya tingkat aktivitas yang terjadi di ruangan / area tersebut.

Permasalahannya, dinamika jenis dan cara menjalankan aktivitas dalam sebuah rumah, tidak selalu harus memiliki konsistensi waktu. Hal tersebut sangat tergantung dari tingkat kenyamanan yang mengerjakannya. Tingkat kenyamanan beraktivitas itu sendiri memiliki parameter yang berbeda antara satu rumah dengan rumah lainnya. Variasi gaya dan cara dalam menjalani hidup masing-masing penghuni rumah turut memegang andil dalam menentukan kondisi aktivitas yang dilakukan setiap harinya.

Lampu sebagai sumber penerangan

Mari kita memulai dari kejadian yang paling umum, yaitu perlunya penerangan yang memadai saat kita beraktivitas. Semakin tinggi fokus yang dibutuhkan dari sebuah aktivitas, maka semakin terang cahaya lampu yang kita butuhkan. Demikian juga sebaliknya, semakin rendah fokus dari sebuah aktivitas, maka semakin redup cahaya lampu yang kita butuhkan.

Pertanyaannya, dapatkah lampu membuat tingkat terang dari cahaya-nya secara otomatis menyesuaikan dengan tinggi-rendahnya fokus aktivitas yang sedang kita kerjakan?

Saat ini, belum ada teknologi sensor yang dapat bekerja untuk meraba tinggi-rendahnya aktivitas satu/beberapa orang dalam sebuah ruangan. Lampu itu sendiri, diproduksi dengan konsep satu kekuatan cahaya. Tidak dinamis untuk dapat menghasilkan beberapa tingkat terang cahaya.

Dengan kondisi lampu yang sudah seperti itu, kita memang tidak dapat mengubahnya. Namun, kita dapat mengubah / mengatur teknik pencahayaan di sebuah ruangan untuk mengefisiensikan pemakaian daya dengan menggunakan beberapa lampu didalamnya.

Intensitas cahaya lampu

Cahaya, dalam pemahaman saya, memiliki karakter mirip udara (tidak berwujud). Wujud cahaya baru dapat terlihat setelah “dipantulkan” pada permukaan sebuah benda padat. Berapa besar cahaya yang dapat diwujudkan pada permukaan sebuah benda, tergantung dari tinggi-rendahnya intensitas yang dapat dihasilkan oleh sumber cahaya. Semakin besar / banyak cahaya dapat dihasilkan sumbernya, semakin tinggi wujud cahaya pada permukaan benda yang bisa direalisasikan..

Pada lampu, cahaya merupakan hasil konversi dari energi listrik. Jumlah nilai satuan energi listrik yang dikonversikan oleh lampu ke dalam bentuk nilai satuan cahaya adalah tetap. Sehingga, untuk mengkonversi lebih banyak cahaya, dibutuhkan energi listrik yang lebih besar.

Memang benar, besar-kecilnya konsumsi daya akan menentukan jumlah (intensitas) cahaya yang dapat dihasilkan oleh sebuah lampu.

Namun, suasana terang yang dihasilkan dari intensitas cahaya sebuah lampu, sangat dipengaruhi faktor jarak antara sumber cahaya dengan permukaan benda yang diteranginya.

Intensitas cahaya sebuah lampu akan semakin berkurang mengikuti jarak yang semakin jauh antara posisi lampu dengan sebuah benda.

Memanipulasi cahaya dengan cermin

Untuk mengatasi kondisi jarak antara lampu dengan permukaan benda, biasanya, kita melakukan penggantian lampu lama dengan lampu baru yang memiliki intensitas cahaya lebih tinggi. Karena, intensitas cahaya yang dimiliki dan dapat dihasilkan dari produk sebuah lampu memang tidak dapat ditambahkan.

Namun keberadaan cahaya bisa dimanipulasi penyebarannya dengan menggunakan cermin / benda dengan permukaan berkarakteristik cermin. Cermin akan memantulkan cahaya sama dengan kondisi terakhir yang diterimanya. Jadi, berapa jauh jarak antara letak lampu dengan cermin, intensitas cahaya yang berhasil diterima itulah yang akan dipantulkan kembali.

Sifat dan karakteristik cermin yang demikian, dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mengatur penerangan dalam sebuah ruangan.

Intensitas cahaya yang diterima oleh cermin, dapat direfleksikan kembali dengan sama persis tanpa memerlukan tambahan energi apa pun.

Dengan bisa mereflesikan intensitas cahaya, berarti penyebaran cahaya dari lampu dapat diatur / diarahkan pada satu area tertentu saja. Dengan demikian, penerangan pada satu area tertentu dapat ditingkatkan intensitas cahayanya dengan cara menfokuskan penyebaran cahaya lampu pada satu titik / area yang diinginkan.

Selanjutnya : Cahaya dan rumah lampu downlight…⇒