Mengefisiensikan Lampu Penerangan

Mengefisiensikan pemakaian daya pada lampu penerangan dapat diartikan sebagai tindakan mengefektifkan konsumsi daya dari penggunaan lampu dalam sebuah ruangan / area. Mengacu pada fungsi lampu sebagai sumber penerangan sebuah ruangan / area tertentu, tindakan mengefektifkan konsumsi daya pada lampu adalah sama dengan memaksimalkan pemanfaatan pemakaian cahaya lampu dengan menyesuaikan tinggi-rendahnya tingkat aktivitas yang terjadi di ruangan / area tersebut.

Permasalahannya, dinamika jenis dan cara menjalankan aktivitas dalam sebuah rumah, tidak selalu harus memiliki konsistensi waktu. Hal tersebut sangat tergantung dari tingkat kenyamanan yang mengerjakannya. Tingkat kenyamanan beraktivitas itu sendiri memiliki parameter yang berbeda antara satu rumah dengan rumah lainnya. Variasi gaya dan cara dalam menjalani hidup masing-masing penghuni rumah turut memegang andil dalam menentukan kondisi aktivitas yang dilakukan setiap harinya.

Lampu sebagai sumber penerangan

Mari kita memulai dari kejadian yang paling umum, yaitu perlunya penerangan yang memadai saat kita beraktivitas. Semakin tinggi fokus yang dibutuhkan dari sebuah aktivitas, maka semakin terang cahaya lampu yang kita butuhkan. Demikian juga sebaliknya, semakin rendah fokus dari sebuah aktivitas, maka semakin redup cahaya lampu yang kita butuhkan.

Pertanyaannya, dapatkah lampu membuat tingkat terang dari cahaya-nya secara otomatis menyesuaikan dengan tinggi-rendahnya fokus aktivitas yang sedang kita kerjakan?

Saat ini, belum ada teknologi sensor yang dapat bekerja untuk meraba tinggi-rendahnya aktivitas satu/beberapa orang dalam sebuah ruangan. Lampu itu sendiri, diproduksi dengan konsep satu kekuatan cahaya. Tidak dinamis untuk dapat menghasilkan beberapa tingkat terang cahaya.

Dengan kondisi lampu yang sudah seperti itu, kita memang tidak dapat mengubahnya. Namun, kita dapat mengubah / mengatur teknik pencahayaan di sebuah ruangan untuk mengefisiensikan pemakaian daya dengan menggunakan beberapa lampu didalamnya.

Intensitas cahaya lampu

Cahaya, dalam pemahaman saya, memiliki karakter mirip udara (tidak berwujud). Wujud cahaya baru dapat terlihat setelah “dipantulkan” pada permukaan sebuah benda padat. Berapa besar cahaya yang dapat diwujudkan pada permukaan sebuah benda, tergantung dari tinggi-rendahnya intensitas yang dapat dihasilkan oleh sumber cahaya. Semakin besar / banyak cahaya dapat dihasilkan sumbernya, semakin tinggi wujud cahaya pada permukaan benda yang bisa direalisasikan..

Pada lampu, cahaya merupakan hasil konversi dari energi listrik. Jumlah nilai satuan energi listrik yang dikonversikan oleh lampu ke dalam bentuk nilai satuan cahaya adalah tetap. Sehingga, untuk mengkonversi lebih banyak cahaya, dibutuhkan energi listrik yang lebih besar.

Memang benar, besar-kecilnya konsumsi daya akan menentukan jumlah (intensitas) cahaya yang dapat dihasilkan oleh sebuah lampu. Namun, suasana terang yang dihasilkan dari intensitas cahaya sebuah lampu, sangat dipengaruhi faktor jarak antara sumber cahaya dengan permukaan benda yang diteranginya. Intensitas cahaya sebuah lampu akan semakin berkurang mengikuti jarak yang semakin jauh antara posisi lampu dengan sebuah benda.

Memanipulasi cahaya dengan cermin

Untuk mengatasi kondisi jarak antara lampu dengan permukaan benda, biasanya, kita melakukan penggantian lampu lama dengan lampu baru yang memiliki intensitas cahaya lebih tinggi. Karena, intensitas cahaya yang dimiliki dan dapat dihasilkan dari produk sebuah lampu memang tidak dapat ditambahkan.

Namun keberadaan cahaya bisa dimanipulasi penyebarannya dengan menggunakan cermin / benda dengan permukaan berkarakteristik cermin. Cermin akan memantulkan cahaya sama dengan kondisi terakhir yang diterimanya. Jadi, berapa jauh jarak antara letak lampu dengan cermin, intensitas cahaya yang berhasil diterima itulah yang akan dipantulkan kembali.

Sifat dan karakteristik cermin yang demikian, dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mengatur penerangan dalam sebuah ruangan. Intensitas cahaya yang diterima oleh cermin, dapat direfleksikan kembali dengan sama persis tanpa memerlukan tambahan energi apa pun. Dengan bisa mereflesikan intensitas cahaya, berarti penyebaran cahaya dari lampu dapat diatur / diarahkan pada satu area tertentu saja. Dengan demikian, penerangan pada satu area tertentu dapat ditingkatkan intensitas cahayanya dengan cara menfokuskan penyebaran cahaya lampu pada satu titik / area yang diinginkan.

Cahaya dan rumah lampu downlight

Rumah lampu downlight, atau biasa disebut downlight saja, adalah sebuah perangkat yang dibuat menggunakan konsep memanfaatkan karakteristik dari cermin. Teknik pencahayaan yang dimiliki oleh downlight dapat dikatakan sangat sederhana, yaitu hanya membelokkan sebaran cahaya disekeliling lampu yang sebelumnya mengarah ke samping menjadi ke bagian bawah ruangan. Teknik ini akan menjadikan area bagian bawah ruangan terasa lebih terang meskipun menggunakan lampu yang sama.

Dalam hal ini, downlight bisa dikatakan sebagai perangkat yang memodifikasi output cahaya lampu. Jadi, output cahaya lampu dijadikan sebagai input, dimodifikasi perilaku sebaran cahayanya, maka terbentuklah output cahaya baru dengan intensitas lebih tinggi. Sebuah konsep memaksimalkan cahaya lampu yang sederhana dan murah, dan sangat efektif dalam mengefisiensikan pemakaian daya.

Menurut saya, downlight merupakan kategori perangkat listrik “cukup” ideal untuk digunakan sebagai dasar dalam membentuk kondisi efektifitas pemakaian energi listrik pada lampu penerangan.

Kebutuhan cahaya dalam sebuah ruangan, pada dasarnya, hanya untuk menerangi area bagian tengah hingga bagian bawah (lantai) ruangan. Kebutuhan cahaya untuk menerangi area langit-langit ruangan, relatif tidak diperlukan. Karena, kita tidak hilir-mudik dan beraktivitas di area tersebut. Jika anda sependapat dengan saya tentang hal itu, saya sarankan untuk menggunakan downlight di rumah anda.

Fitur downlight

Downlight merupakan satu unit perangkat yang terdiri dari beberapa bagian. Tiga bagian utama yang harus ada di dalamnya adalah fitting lampu, rangka penampang (bracket) dan mangkuk cermin. Entah apa istilah resmi dari ketiga unit itu, saya belum mengetahui dengan pasti. Mangkuk cermin ini memegang peran terpenting dari keseluruhan unit untuk meningkatkan intensitas cahaya di bagian bawah ruangan. Fungsi mangkuk ini adalah memantulkan cahaya yang dihasilkan lampu. Semakin bening permukaan mangkuk tersebut, pantulan cahaya yang dihasilkan semakin mendekati tingkat intensitas lampu sebenarnya.

Fitur (mangkuk cermin) ini menjadikan pemakaian downlight sangat efektif untuk mengefisiensikan pemakaian listrik untuk penerangan dalam ruangan, karena tidak diperlukan tambahan apapun untuk meningkatkan intensitas cahaya lampu hingga area bagian bawah ruangan. Cukup hanya dengan satu unit rumah lampu saja.

Kerumitan memakai downlight adalah saat pemasangannya. Anda harus membuat lubang di langit-langit rumah sesuai ukuran diameter lingkaran downlight. Pekerjaan tersebut harus direncanakan dengan matang sebelum dikerjakan. Karena jika terjadi kesalahan (baik posisi maupun ukuran lubang), maka tidak dapat ditutup lagi.

Secara perawatan, downlight tidak memerlukan biaya yang besar. Kita hanya perlu membersihkan mangkuk cermin secara berkala agar permukaan mangkuk tetap terjaga kejernihannya untuk memantulkan cahaya lampu.

Jenis lampu yang dibutuhkan

Menggunakan downlight, tidak mengharuskan untuk anda menggunakan jenis lampu tertentu. Jenis lampu apa pun (selama memiliki ulir fitting bohlam) akan berdampak sama tanpa terkecuali. Pemilihan jenis lampu yang hendak diisikan dapat disesuaikan dengan selera dan “budget” anda sebagai pemilik rumah.

Saya sendiri cenderung memilih jenis lampu SL @5Watt berwarna kuning untuk diisikan dalam rumah lampu downlight. Selain memberikan suasana “hangat”, intensitas cahaya per lampu tidaklah terlalu terang. Suasana ini memberikan kenyamanan tersendiri bagi saya saat menjelang tengah malam. Keleluasaan bergerak untuk melakukan aktivitas ringan (seperti membuat kopi) di malam hari masih dapat dikerjakan secara normal hanya dengan menggunakan nyala satu lampu saja.

Ukuran suasana terang

Pada dasarnya, persepsi dan rasa dari satu kondisi / suasana terang sangat variatif. Makna kata “cukup terang” bagi seseorang, bisa berarti “redup” bagi orang lainnya.

Menurut ukuran saya, makna kata “cukup terang” adalah masih dapat mengenali dengan baik bentuk dan warna benda di dalam ruangan, namun kurang baik untuk digunakan pada aktivitas membaca. Sedangkan makna kata “terang” adalah suasana dimana aktivitas membaca tulisan-tulisan kecil di koran / majalah masih dapat dilakukan dengan nyaman dan normal.

Pada cerita selanjutnya di bawah ini, batas acuan kondisi pencahayaan ruangan yang disebut “cukup terang” atau “terang”, akan mengacu seperti yang telah dideskripsikan di atas.

Selera dan Kebiasaan dalam beraktivitas

Selera dan kebiasaan merupakan faktor penentu terbentuknya kondisi dan suasana ruangan / rumah tempat tinggal seseorang. Hal inilah yang membuat perbedaan model pencahayaan dalam sebuah / beberapa ruangan antara satu rumah dengan lainnya.

Bagi saya, antara waktu pukul 16.00 hingga 22.00, sebuah ruangan / kamar sudah selayaknya memiliki cahaya cukup terang didalamnya (kecuali kamar mandi). Kondisi ini membuat satu rasa nyaman untuk tidak merasakan perubahan suasana di sore hari secara signifikan. Secara psikologis, hal ini membuat waktu dan hari yang sudah menjelang malam tidak menjadi beban / halangan untuk tetap melakukan aktivitas di dalam rumah.

Untuk menciptakan suasana seperti ini, saya meletakkan minimal 1 unit rumah lampu downlight berisi lampu SL @5Watt dalam setiap kamar yang selalu menyala bersamaan dengan lampu di ruangan lain mulai pukul 16.00 hingga 22.00. Menjadikan suasana pencahayaan seperti ini, membutuhkan perencanaan posisi rumah lampu downlight yang cukup realistis karena akan sangat menentukan terhadap efisiensi pemakaian daya listrik yang digunakan.

Jadi, dimana posisi terbaik rumah lampu downlight diletakkan untuk mendapatkan pencahayaan yang cukup efektif dalam sebuah area / ruangan?

Pencahayaan mayoritas ruangan dalam rumah pada umumnya

Karena sifatnya yang personal, tidak ada jawaban yang pasti mengenai bagaimana dan dimana posisi downlight diletakkan. Secara garis besar, aturan posisi downlight yang saya terapkan di rumah, mengacu pada aturan dan perhitungan sebagaimana yang disampaikan di artikel Menentukan Ukuran Proporsional / Estetika

Namun begitu, saya menambahkan aturan tambahan sendiri yang mengacu pada efisiensi pemakaian daya lampu. Caranya dengan memosisikan salah satu unit downlight tepat (mendekati) diatas tempat aktivitas tertinggi dan terendah dalam ruangan. Dengan demikian, meskipun jumlah unit downlight yang digunakan sama di semua ruangan dalam rumah, salah satu dari jumlah tersebut pasti ada yang tidak “sinkron” letaknya.

Saya mengkategorikan dengan istilah primer (utama) untuk downlight di area tempat aktivitas berintensitas tinggi (yang tidak sinkron letaknya) dan sekunder (pelengkap) untuk downlight di area tempat aktivitas berintensitas rendah (yang sesuai letaknya).

Downlight berkategori primer umumnya diletakkan di atas dekat meja belajar / kerja, pintu lemari pakaian, sofa ruang keluarga, dsb. Posisi ini, umumnya, memiliki satu kesamaan letak yaitu tidak jauh dengan dinding atau sudut ruangan.

Downlight berkategori sekunder cenderung berfungsi hanya sebagai penyeimbang efek pencahayaan dari downlight primer agar lebih merata dalam sebuah ruangan. Jumlahnya bisa lebih dari satu titik cahaya. Intinya, membuat suasana ruangan “cukup terang” yang dihasilkan dari downlight primer menjadi “terang”.

Masing-masing kategori downlight tersebut, memiliki saklar tersendiri. Sehingga, saat suasana “terang” dalam ruangan tidak dibutuhkan lagi, saya dapat mematikan downlight sekunder.

Dengan mem-peta-kan beberapa lampu dalam sebuah ruangan seperti itu, akan diperoleh kemudahan dari dua pengaturan, yaitu : tingkat pencahayaan dan efisiensi daya. Kondisi pencahayaan “cukup terang” atau “terang” dalam ruangan dapat diatur hanya dengan menyala-matikan salah satu saklar lampu. Dengan demikian, pemakaian daya untuk pencahayaan dapat menjadi lebih efisien, karena dapat disesuaikan dengan tingkat aktivitas yang berlangsung dalam ruangan.

Metode mem-posisi-kan downlight berdasarkan kategori seperti diatas, dapat digunakan untuk mengakomodasi pencahayaan yang lebih merata pada hampir di setiap ruangan berbeda dalam satu rumah, kecuali area dapur. Dapur, merupakan area dengan kebutuhan pencahayaan tersendiri yang juga memiliki kebutuhan untuk mengakses aliran listrik (stopkontak) dengan mudah. Oleh sebab itu, membuat kondisi suasana dapur yang ideal memerlukan perencanaan, perhatian dan pembiayaan lebih tinggi dibandingkan ruangan lainnya.

Pencahayaan khusus untuk area dapur

Ada konsep yang menerapkan area dapur menjadi dua kondisi, yaitu : dapur basah dan dapur kering. Kedua kondisi ini sering diistilahkan sebagai dapur kotor (basah) dan dapur bersih (kering). Secara pribadi, saya tidak melihat penerapan konsep ruang dapur seperti itu dapat memberi manfaat lebih untuk kepentingan efektifitas beraktivitas dan efisiensi pemakaian energi di area dapur. Menurut saya, dapur adalah sebuah tempat yang relatif cepat kotor. Merupakan sebuah konsekuensi jika area dapur harus lebih sering dibersihkan karena disitulah tempat sumber pengolahan makanan di sebuah rumah (mulai dari bahan mentah hingga menjadi sampah).

Disini, saya hanya membahas pencahayaan untuk dapur gabungan (basah dan kering). Karena, dapur seperti itu sifatnya lebih umum dan diterapkan di kebanyakan rumah tinggal.

Secara konsep pencahayaan di dapur, bisa dibilang tidak jauh berbeda. Hanya saja, kalau di dapur, ada beberapa aktivitas yang dikerjakan sekaligus. Dengan demikian, ada beberapa titik cahaya yang sengaja harus dipasang tidak “sinkron” mengikuti tempat dimana aktivitas-aktivitas itu dikerjakan.

Ada empat aktivitas dasar yang pasti terjadi di dapur, yaitu : menyiapkan bahan dasar, mencuci bahan (bathsink), menyiapkan bahan yang hendak dimasak dan (terakhir) tempat memasak (kompor).

Kita perlu meletakkan satu titik cahaya “cukup terang” di setiap tempat yang bakal menjadi tempat aktivitas memasak tersebut. Sehingga saat mengerjakan keseluruhan proses memasak, selalu ada dukungan cahaya lebih terang di setiap tempat dimana aktivitas yang sedang fokus dikerjakan.

Tinggal kemudian kita kategorikan mana diantara keempatnya yang harus tetap menyala (primer) dan mana yang harus dimatikan (sekunder). Atau, bisa juga keempatnya dibuat sekunder, lalu dibuat tambahan titik lampu kelima yang dikategorikan primer. Ini berfungsi mengakomodasi aktivitas ringan di dapur atau saat aktivitas memasak sudah selesai dilakukan.

Mengganti saklar lampu dengan timer

Saat ini, saklar-saklar lampu downlight yang saya gunakan telah digantikan dengan menggunakan “weekly digital timer” (timer digital mingguan). Jalur kabel listrik dari lampu-lampu dari beberapa ruangan, digabungkan sebagaimana masing-masing kategorinya. Untuk setiap gabungan jalur kabel tersebut, disambungkan pada satu timer terpisah. Tujuannya agar lampu dapat nyala-mati bersamaan secara otomatis, sebagaimana yang saya bahas pada artikel “Membagi penerangan dalam Rumah“. Tindakan ini membutuhkan waktu dan biaya yang relatif cukup besar. Namun, sepadan dengan hasil yang diperoleh.

Khusus pada area tempat melakukan aktivitas baca / tulis, saya melengkapinya dengan satu lampu meja yang memiliki tangkai leher cukup panjang. Perangkat ini sangat nyaman untuk digunakan (khususnya malam hari) dan memiliki tingkat mobilitas yang tinggi.

Memecah fokus satu sumber cahaya

Ada cara lain yang lebih sederhana dan cukup efektif untuk mengefisiensi pemakaian daya lampu penerangan dalam rumah tanpa menggunakan rumah lampu downlight. Konsepnya sama yaitu memecah sumber penerangan pada beberapa tempat dalam satu ruangan. Namun, jarak antar lampu diletakkan pada posisi relatif lebih dekat, sehingga terasa seolah-olah terpusat pada satu area saja. Cara ini efektif untuk mengatasi penerangan pada ruangan yang tidak terlalu besar (mis. kamar tidur / ruang keluarga).

Berapa banyak jumlah lampu yang dibutuhkan dalam sebuah ruangan dengan menggunakan metode ini?

Asumsikan tinggi ruang dalam satu rumah pada umumnya adalah 2,8 meter hingga 3 meter. Kamar / ruangan berukuran maksimal 4 x 4 meter dapat diakomodasi dengan baik pencahayaannya menggunakan 2 unit lampu SL @14Watt. Tindakan yang saya akan lakukan untuk memodifikasi pencahayaan di area seperti ini adalah memindahkan satu unit rumah lampu ke tengah ruangan. Kemudian membuat tambahan unit rumah lampu di sekelilingnya sebanyak 4 unit. Posisi masing-masing rumah lampu mengarah ke sudut ruangan. Jarak antara ke 4 rumah lampu dengan rumah lampu di tengah maksimal 1 meter. Jadi total rumah lampu dalam ruangan tersebut menjadi 5 unit. Lalu, dengan menggunakan saklar lampu ganda, satu saklar terhubung dan berfungsi menyalakan hanya untuk rumah lampu di bagian tengah saja. Sedangkan saklar lainnya terhubung dan berfungsi untuk menyalakan ke empat rumah lampu yang mengelilinginya.

Berapa daya lampu yang dibutuhkan untuk di posisi tengah dan disekelilingnya? Menggunakan lampu SL @8Watt pada semua rumah lampu akan membuat suasana ruangan menjadi “terang” hingga ke sudut ruangan. Saat keempat lampu dimatikan, akan diperoleh pencahayaan “cukup terang” dari lampu di posisi tengah, yang menurut saya, sudah cukup untuk mengakomodasi aktivitas bersantai dalam ruangan tersebut. Menggunakan metode ini, penggantian lampu akan sering terjadi pada lampu yang terletak di tengah saja.

Pengembangan skema jalur kawat untuk lampu penerangan

Pemikiran awal untuk mengefisiensikan pemakaian listrik lampu penerangan adalah menggantikan keberadaan neon TL. Pada prakteknya, menurut saya, cahaya yang dihasilkan lampu neon TL adalah yang paling ideal dibandingkan tipe lampu lainnya. Baik unit berbentuk “batang” mau pun “bulat”, neon TL berdaya 36 Watt sangat baik untuk mengakomodasi kebutuhan aktivitas membaca dalam ruangan 3 x 3 m persegi.

Persoalannya, saat aktivitas membaca sudah tidak diperlukan lagi, konsumsi listrik neon akan tetap sebesar 36 Watt. Padahal, aktivitas yang berlangsung dalam sebuah ruangan tidak selalu harus di isi dengan membaca. Itulah salah satu alasan mengapa diperlukan sebuah metode yang bisa mengatur tinggi-rendah nya intensitas cahaya lampu dalam ruangan.

Di bawah ini, saya membuat sebuah gambar dasar skema pengganti neon TL menggunakan tiga buah lampu SL yang dilengkapi saklar ganda :

Skema ini dapat di modifikasi sedemikian rupa untuk menggantikan fungsi beberapa neon TL dengan lampu SL dalam sebuah ruangan. Saat kebutuhan suasana “terang” sudah tidak diperlukan lagi, beberapa unit lampu SL dapat dipadamkan untuk mendapatkan suasana ruangan “cukup terang” seperti dua gambar di bawah ini :

Saya selalu membuat satu jalur kabel terpisah menjulur ke bagian tengah ruangan yang dilengkapi satu (bisa juga beberapa) unit lampu SL berdaya kecil guna mengakomodasi suasana “cukup terang”. Kemudian, pada jalur kabel lainnya dipasang beberapa lampu berdaya lebih besar dengan posisi mengelilingi satu lampu tadi. Tanpa downlight, umumnya, saya menggunakan lampu pada bagian tengah berdaya 8 Watt dan @10 Watt di bagian pinggir. Jarak antara lampu tengah ke masing-masing sisi maksimum 1,5 meter. Sedangkan jika menggunakan rumah lampu downlight, jarak antara masing-masing lampu dapat diperpanjang hingga maksimum 2,5 meter.

Anda dapat mengubah posisi-posisi tersebut sebagaimana kebutuhan penerangan yang anda inginkan. Parameternya, suasana “terang” dapat diatur sebagaimana fungsi ruangan atau disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan kita.

Sejauh mana diperlukan?

Teknik pembagian pencahayaan seperti yang telah dijelaskan diatas bukan merupakan sesuatu yang mutlak. Anda dapat memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan sebagaimana yang diinginkan. Pada intinya, baik menggunakan downlight atau tidak, teknik memecah fokus pencahayaan merupakan alternatif yang cukup mudah direalisasikan secara awam untuk mengefisiensikan pemakaian energi listrik lampu dalam sebuah ruangan.

Jika anda hendak menerapkan salah satu dari kedua metode memecah fokus pencahayaan di atas dalam rumah yang sebelumnya sudah memiliki instalasi pencahayaan, ada hal tambahan yang perlu diperhitungkan, yaitu posisi peletakkan saklar lampu. Perangkat “timer” otomatis yang terpasang untuk pangaturan nyala-padam instalasi lampu downlight di rumah saya, selain berfungsi menambah efisiensi pemakaian daya, merupakan cara alternatif menghindari kekacauan pemasangan saklar lampu manual di dinding.

Memang dibutuhkan satu perencanaan yang benar-benar matang untuk mewujudkan kondisi efisiensi pemakaian daya sehari-hari pada lampu penerangan. Namun, hasil yang saya peroleh dari semua perencanaan dan usaha untuk mengefisiensikan lampu penerangan di rumah, benar terasa efeknya pada efisiensi biaya penggantian unit lampu yang terfokus pada unit rumah lampu berkategori primer saja. Itupun tidak terjadi serentak bersamaan pada seluruh unit berkategori primer karena tidak semua unit lampu berkategori primer menyala dalam lama waktu yang sama.

Penggantian unit lampu dilakukan hanya dalam selang waktu 3 tahun sekali karena adanya dukungan kualitas listrik yang memadai dari stabilizer. Saat ini, untuk berjaga-jaga, saya selalu mencadangkan 5 unit lampu @5Watt setiap tahunnya. Realitanya, dari 13 unit lampu @5 Watt yang terpasang, saya hanya mengganti 3 unit saja per 3 tahun sekali. Sedangkan sepuluh unit sisanya, saya sudah tidak memperhatikan lagi karena terlalu lama tidak pernah diganti dan masih berfungsi dengan baik. Mungkin antara waktu setiap 4 – 6 tahun sekali. Entahlah… saya sudah tidak memperhatikannya sama sekali. Yang jelas, waktu penggantian lampu berkategori sekunder, pasti >= 3 tahun. Karena 3 lampu berkategori primer (yang memiliki waktu nyala paling lama setiap harinya), diganti setiap 3 tahun sekali. Jadi, untuk unit lampu yang waktu nyala kurang dari ketiga unit tersebut, sudah pasti berumur lebih lama.

Anda dapat menggunakan teknologi umur lampu SL sebagai pedoman berapa besar jumlah pemakaian energi listrik untuk lampu yang telah terpakai. Umur lampu SL ditentukan oleh jumlah lama waktu pemakaiannya. Semakin sering dan lama lampu dinyalakan, semakin pendek umur lampu. Kondisi ini menunjukkan jumlah energi listrik yang terpakai untuk menyalakan lampu. Maka, semakin jarang tindakan penggantian lampu dilakukan, akan semakin sedikit jumlah energi listrik yang terpakai. Ini akan berdampak pada berkurangnya biaya listrik bulanan yang harus dibayarkan.

Benarkah demikian? Jika mengacu hanya pada pengurangan biaya listrik bulanan saja, maka jumlahnya tidaklah berarti. Terlalu kecil untuk dibandingkan dengan jumlah biaya membuat realisasi teknik memecah fokus pencahayaan yang telah saya jabarkan diatas. Efeknya baru terlihat dan terasa setelah beberapa waktu ke depan, yaitu setelah masa penyesuaian telah dapat diterima dengan wajar. Begitu masa penyesuaian terlewati, anda tidak akan terlalu mengkhawatirkan perubahan kenaikan tarif listrik. Karena besar pemakaian listrik hanya terfokus pada pemakaian daya yang berhubungan dengan hiburan saja (mis. televisi atau multimedia entertainment).

Semoga bermanfaat…!

%d bloggers like this: