Memasang Tangki Air di Rumah

halaman 1 dari 4

Tangki air, bagi saya, merupakan salah satu perangkat yang memiliki peran penting untuk diusahakan keberadaannya di rumah. Fungsinya sangat sederhana, yaitu sebagai media / wadah penyimpan cadangan air bersih.

Namun, jika diperhatikan secara seksama, manfaat yang dapat diperoleh oleh penghuni rumah pemakai tangki air, lebih dari sekedar tetap tersedianya air bersih untuk selang waktu tertentu ketika pasokan air dari PAM / PDAM terhenti. Salah satu manfaat yang cukup besar tetapi luput dari perhatian adalah menjadikan fisik rangkaian pemipaan air di rumah tetap terjaga keawetan-nya.

Adakah hal-hal yang perlu diperhatikan seandainya kita hendak memasang tangki air di rumah?
Memasang Tangki Air di Rumah

Kapasitas tangki air

Tangki air, atau lebih populer dengan sebutan tandon / toren, diproduksi dalam beberapa kapasitas. Anda bisa menemukan berbagai ukuran kapasitas dari tandon air di situs / blog yang menjualnya. Atau, dapat juga menghitungnya sendiri, terutama bagi yang telah memasangnya di rumah.

Pertanyaannya, berapa kapasitas tandon air yang kita butuhkan di rumah?

Pertanyaan yang terlihat sepele. Awalnya, saya pun menganggap pertanyaan seperti itu terlalu berlebihan. Namun, setelah beberapa tahun kemudian, saya baru memerhatikan bahwa terselip kebenaran dari pertanyaan tersebut. Pada saat pasokan air PAM terhenti, banyak pemilik rumah yang kelimpungan mencari tambahan cadangan air bersih karena air dalam tangki mereka sudah habis terpakai. Setelah beberapa kali mendapatkan kejadian serupa, saya melihat, perlu untuk memperhitungkan besar kapasitas tangki air yang seharusnya terpasang di sebuah rumah.

Saya pernah membahas mengenai jumlah rata-rata kebutuhan air seseorang dalam sehari, yaitu 233 liter per hari. Nilai ini bisa digunakan sebagai standar kebutuhan pemakaian dalam sehari dalam kondisi ideal. Bagaimana rupa / wujud dari kondisi “ideal” yang di maksud? Hanya berupa garis besar pemakaian untuk memenuhi kebutuhan utama sehari-hari saja. Pada prakteknya, rata-rata pemakaian air satu orang dengan lainnya memang berbeda, tetapi nilainya tidak terpaut jauh.

Namun demikian, ada satu keadaan yang (umumnya) terjadi sekali dalam sebulan dengan jumlah pemakaian air yang cukup besar, yaitu periode masa “menstruasi” pada perempuan dewasa. Ini adalah satu situasi yang “terlihat normal”, tetapi (sebenarnya) memerlukan perhatian dan perlakuan yang “cukup istimewa”.

Merupakan satu kesalahan seandainya ada pemikiran yang meremehkan hal tersebut. Situasi yang demikian, sudah pasti terjadi pada seorang perempuan dewasa selama satu periode – sekali dalam sebulan. Dibutuhkan volume air dalam jumlah cukup besar selama masa periode itu berlangsung, dan (apa pun alasannya) tetap harus dipenuhi. Ini adalah kondisi “normal” dan “seharusnya terjadi” dari kebutuhan akan air bagi seorang perempuan. Jangan pernah berpikir untuk meremehkan, apalagi hingga mengabaikannya.

Jadi…, berapa jumlah air yang sebenarnya kita perlukan? Kita dapat menggunakan standar nilai 233 liter per hari namun dengan catatan harus tersedia juga nilai cadangannya.

Misalnya, untuk mencadangkan kebutuhan pemakaian air secara umum bagi satu orang di sebuah rumah dalam sehari, perlu dipersiapkan wadah untuk menampung volume air sebanyak 233 liter. Untuk seorang perempuan, perlu dipersiapkan wadah yang bisa menampung volume air kira-kira 1/4 lebih besar dari 233 liter atau 1/4 x 233 = 58,25 liter. Sehingga, besaran kapasitas volume wadah penampung cadangan air yang perlu dipersiapkan untuk seorang perempuan adalah 233 + 58,25 = 291,25 liter. Nilai 1/4 ini saya hitung berdasarkan perkiraan rata-rata lama waktu masa periode berlangsungnya menstruasi selama 1 minggu dalam sebulan, yang mana dalam satu bulan terdiri dari 4 minggu.

Rumah dengan jumlah penghuni sebanyak 4 orang, akan memerlukan standar kapasitas wadah penampung cadangan air sebesar 4 x 233 = 932 liter. Jika 3 dari 4 penghuni rumah adalah perempuan, maka diperlukan wadah penampung cadangan air dengan kapasitas lebih besar 58,25 x 3 = 174,75 liter (dibulatkan menjadi 175 liter) dari 932 liter. Sehingga, total kapasitas wadah penampung cadangan air yang dibutuhkan sebenarnya adalah 932 + 175 = 1.107 liter. Itulah nilai kapasitas minimum dari tandon air yang dibutuhkan. Anda bisa menghitungnya sendiri sesuai dengan kondisi penghuni di rumah saat ini.

Seandainya kita menginginkan untuk bisa memiliki cadangan air yang bisa mem-backup terhentinya pasokan air PAM selama 24 jam, nilai minimum kapasitas tangki air yang telah dihitung cukup dikalikan dengan 2 (dua). Dimana, dalam contoh di atas menjadi 1.107 x 2 = 2.214 liter. Pemahaman dari “bisa mem-backup selama 24 jam” adalah minimum waktu yang tersedia untuk kita supaya bisa mendapatkan dan menggunakan air secara normal. Pada prakteknya, air yang tersedia untuk itu bisa untuk pemakaian melebihi waktu 24 jam. Karena, ada jeda waktu dimana tidak terjadi pemakaian air, yaitu di saat kita sedang tidur.

Membuat instalasi tangki untuk mencadangkan air sebanyak 2.214 liter, bukan berarti harus dengan menggunakan “satu” tangki berkapasitas minimum 2.214 liter. Kita tidak perlu terpaku untuk menyediakan “satu” tangki air berkapasitas minimum sebesar itu. Kita bisa membagi menjadi dua tangki berkapasitas 1.107 liter atau bahkan tiga hingga empat unit tangki dengan total kapasitas seluruh tangki mencapai sebesar 2.214 liter. Kemudian, tinggal mengatur teknik pemipaan yang menghubungkan antar tangki-tangki tersebut hingga akhirnya terhubung dengan jaringan pipa dalam rumah.

Bagaimana jika hanya menggunakan satu atau beberapa tangki air dengan total kapasitas 1.107 liter saja? Berapa banyak sisa air yang bisa tersedia di saat pasokan air PAM terhenti?

Berada di kisaran 500 liter untuk waktu pemakaian normal antara 6 hingga 12 jam.
Kapasitas tangki air

Iklan