Komputer : BIOS dan Sistem Operasi

Apakah anda sebelumnya pernah memperhatikan perubahan banner situs ini dari warna dasar biru ke hijau? Pada banner yang sekarang, saya menambahkan gambar ikon bunglon (chameleon) kecil di sisi bawah kiri banner. Itu adalah ikon resmi trademark dari sistem operasi (Operating System / OS) open-source Linux OpenSUSE yang saat ini dijadikan platform laptop saya sebagai pengganti OS sebelumnya, yaitu Windows 7.

Adakah perbedaan antara OpenSUSE dengan Windows 7? Apakah ada alasan lebih baik untuk menggunakan OS dengan dasar arsitektur Linux daripada Windows?

Seorang sahabat ex-IT staf, bercerita kepada saya mengenai kemampuan dan kinerja OS terhadap perangkat keras (komputer) yang ditempati oleh OS tersebut. Menurutnya, terdapat perbedaan sesuai rekomendasi BIOS bawaan komputer terhadap OS yang diinstall ke dalamnya. Perangkat keras akan berinteraksi lebih baik dengan OS sesuai yang tertera dan direkomendasi-kan pada BIOS.

Hhmmm… sebagai user biasa, saya tidak terlalu memperhatikan hal teknik seperti itu. Biasanya, saya selalu meng-install OS yang sebelumnya telah / terbiasa saya gunakan pada sebuah komputer. Dan umumnya, kinerja-nya pun tidak jauh berbeda di setiap perangkat keras. Iseng-iseng, saya membuka BIOS laptop di rumah yang sebelumnya telah diisikan dengan OS Windows 7. Disitu tertera bahwa OS yang direkomendasikan adalah Non-Vista (non-Windows Vista / 7). Ternyata memang benar terdapat fitur tersebut seperti yang telah dikatakan oleh sahabat saya. Namun, benarkah ada perbedaan jika saya menginstall OS ber-platform non-Vista?

Beberapa bulan kemudian, saya bertemu kembali dengannya dan menyempatkan bercerita mengenai temuan fitur rekomendasi instalasi OS pada BIOS laptop di rumah. Saya menanyakan juga, jenis OS yang direkomendasikan untuk mengganti Windows 7. Dia balik bertanya kepada saya, “Sudah pernah mencoba Linux?”.

Saat ini, hanya tiga dasar arsitektur OS komputer yang banyak digunakan dan beredar di pasaran, yaitu : Windows, Macintosh dan Linux. Posisi terbesar ditempati oleh Windows. Adalah hal yang mengkhawatirkan untuk mencoba arsitektur OS non-Windows jika sebelumnya kita sudah lama dan terbiasa menggunakan Windows. Namun, dia menepis kekhawatiran tersebut dan mengatakan bahwa OS yang sebelumnya telah terinstall tidak akan hilang jika saya meng-install Linux. Jadi, laptop dapat berisi dua OS berbeda tanpa mengganggu kinerja satu dengan lainnya dengan menggunakan konsep “dual boots”.

Sahabat saya merekomendasikan untuk mencoba Linux keluaran OpenSUSE. Tidak ada  dasar lebih baik untuk mengetahui alasan rekomendasi tersebut selain memang Linux OpenSUSE-lah yang saat ini dia gunakan. Singkat cerita, saya menginstall Linux OpenSUSE versi 11.3 untuk pertama kalinya, lalu di upgrade ke versi 12.3 setelah 3 bulan kemudian. Setelah 3 bulan menggunakan versi 12.3, saya meng-install versi terakhir, yaitu OpenSUSE 13.1 dengan total menghapus seluruh OS Windows yang ada sebelumnya dalam laptop.

Mulai dari versi 11.3 hingga 13.1, tidak ada perubahan drastis dari tampilan layar. Namun, terdapat pengembangan yang significant pada kinerja OS khususnya pada kecepatan tampilan layar (graphic user interface) dan koneksi internet (dial up networking). Sulit bagi saya untuk membandingkan kecepatan tampilan layar. Namun, pada kecepatan koneksi internet, saya bisa melihat perbedaan nilai kemampuan download / upload antara Windows dengan OpenSUSE. Nilai perbedaan tersebut bukan berdasarkan hasil software “speed test connection” yang biasa ditemukan di internet, tetapi berdasarkan rata-rata kecepatan tindakan download / upload yang saya kerjakan.

Dengan menggunakan handphone-modem, sim-card, provider dan lokasi kerja yang sama; OpenSUSE 13.1 dapat menghasilkan kinerja rata-rata (average) download di atas 100% lebih cepat dari Windows 7. Apakah hal tersebut disebabkan karena perbedaan arsitektur bahasa pemrograman dari masing-masing OS? Ataukah memang benar terdapat perbedaan saat komputer di-install sesuai dengan OS yang direkomendasikan pada BIOS-nya? Saya tidak mengetahui secara pasti mengenai hal tersebut. Bisa jadi salah satu atau kedua faktor tersebut memiliki kebenaran.

Saya tidak bermaksud men-deskredit-kan maupun menurunkan persepsi atas kinerja Windows sebagai OS komersial dibandingkan OS gratis Linux OpenSUSE. Disini, saya mendapatkan bahwa OS (dalam hal ini adalah OpenSUSE) yang bersifat free / gratis tidak selalu buruk kinerja-nya dibandingkan OS komersial seperti Windows.

Walau demikian, apapun ceritanya, perlakuan hal yang bersifat gratis sudah pasti berbeda dengan komersial. Seringkali ditemukan software pendukung komersial yang telah lama beredar di pasaran tidak ditemukan versi gratis-nya. Namun, pada Linux OpenSUSE, saya mendapatkan telah banyak tersedia software pendukung guna memenuhi kebutuhan pemakaian komputer oleh user pada umumnya. Seperti aplikasi Office, Graphic Manipulation, Multimedia Player dsb.

Jika fitur rekomendasi instalasi OS non-Vista pada BIOS komputer memang benar memiliki pengaruh kinerja significant terhadap keseluruhan arsitektur perangkat keras yang ada, menurut saya, Linux bisa menjadi salah satu OS pilihan di samping Windows untuk digunakan pada komputer dengan standar BIOS non-Windows seperti itu.

Disini, saya tidak merekomendasikan anda untuk harus menggunakan OpenSUSE. Ada beberapa Linux distro lain yang mungkin bisa dan lebih sesuai dengan kebutuhan anda saat ini, seperti Ubuntu, Mint, RedHat, dsb.

Namun, jika anda tertarik untuk mencoba menggunakan OpenSUSE, silakan kunjungi situs resmi OpenSUSE untuk men-download OS Linux OpenSUSE secara gratis.

Salam…

Iklan