Voltase, Watt dan Perangkat Elektronik

halaman 1 dari 2

Voltase, Watt dan Perangkat ElektronikAda keterkaitan erat antara Voltase dan Watt. Tidak banyak pemahaman saya mengenai voltase dan watt secara teknis listrik. Semuanya hanya berdasarkan analisa dari pergerakkan jarum indikator unit Ampere meter dan Volt meter yang terdapat pada stabilizer di rumah saya saja.

Hubungan dan keterkaitan dari Voltase dan Watt; mirip dengan konsep mendistribusikan Air dari satu ke lain tempat dengan menggunakan Pompa.

Secara garis besar, Watt memiliki persamaan sebagai Air dan Voltase sebagai kekuatan Tekanan Pompa Air.

Cara kerjanya, kurang-lebih seperti ini :

Semakin besar tekanan Pompa mendistribusikan Air, maka akan semakin besar jumlah / volume Air yang dialirkan. Dengan demikian, volume Air itu sendiri, akan selalu mengikuti besar-kecilnya tekanan Pompa yang mendistribusikannya.

Besar-kecilnya tekanan Pompa mendistribusikan Air, mirip dengan besar-kecilnya kekuatan Voltase mendistribusikan Watt. Semakin tinggi Voltase, maka semakin besar kekuatannya mendistribusikan Watt. Demikian berlaku sebaliknya. Kondisi tersebut akan selalu pasti diikuti dengan besar-kecilnya jumlah Watt yang didistribusikan. Sedangkan nilai Ampere, mereprensentasikan jumlah maksimal Watt yang bisa dialirkan berdasarkan nilai Voltase yang ada.

Itu sebab mengapa Voltase memiliki peran sangat dominan dalam memengaruhi kinerja sebuah perangkat elektronik. Kenaikan Voltase akan menambah jumlah Watt dari yang seharusnya dikonsumsi perangkat elektronik. Dan, penurunan Voltase akan menguranginya.
Beda Voltase dengan Watt

Biaya ketidakstabilan Voltase

Ketika kita menyalakan satu / beberapa perangkat elektronik secara bersamaan, kemudian terjadi pergerakan naik / turun dari tegangan (Voltase) listrik, maka hal itu otomatis akan ikut mempengaruhi jumlah besar / kecilnya daya (Watt) listrik yang sedang mengalir ke perangkat-perangkat elektronik tersebut. Saat Voltase bergerak naik, maka besaran Watt akan bertambah. Demikian juga sebaliknya.

Berapa jumlah bertambahnya nilai daya (Watt) yang terjadi? Seandainya sebuah bohlam berdaya 5 watt ~ 220 Volt mengalami kenaikan tegangan pada kisaran 230 Volt, maka bohlam tersebut akan menerima jumlah daya sebesar :

= (5 Watt / 220 Volt) x 230 Volt
= 0,02273 Ampere x 230 Volt
= 5,2279 Watt

Jika terjadi kenaikan tegangan hingga kisaran 250 Volt, maka jumlah daya yang diterima oleh bohlam tadi menjadi :

= (5 Watt / 220 Volt) x 250 Volt
= 0,02273 Ampere x 250 Volt
= 5,6825 Watt

Demikian juga halnya jika terjadi penurunan tegangan. Misalnya, dengan spesifikasi bohlam yang sama di atas, mengalami penurunan tegangan hingga angka 190 Volt, maka bohlam tersebut akan menerima jumlah daya sebesar :

= (5 Watt / 220 Volt) x 190 Volt
= 0,02273 Ampere x 190 Volt
= 4,3187 Watt

Efek dari kenaikan voltase akan berakibat pada kualitas sinar dari lampu menjadi lebih terang. Dalam keadaan voltase normal (220 Volt), kita harus menggunakan lampu dengan kapasitas Watt lebih besar agar mendapatkan sinar lampu yang lebih terang.

Logika ini menunjukkan bahwa penyebab lebih terangnya cahaya lampu saat terjadi kenaikan Voltase adalah bertambah besarnya jumlah daya listrik (Watt) yang diterima oleh lampu. Lonjakan kenaikan Voltase cenderung bersifat dinamis dan tidak diam pada angka tertentu saja. Biasanya, nilai kenaikan dari lonjakan berada pada kisaran angka 225 Volt s/d 230 Volt. Pada kisaran angka tersebut, kelebihan terang dari cahaya lampu yang dihasilkan tidaklah terlalu terasa / terlihat. Namun, hal itu tetap akan berdampak tercatat pada meteran listrik PLN.

Jika melihat contoh dari efek kenaikan Voltase pada bohlam di atas, tidak terlihat perbedaan mencolok dan pengaruh yang besar. Baik dari sisi fisik perangkat maupun biaya pemakaian daya yang harus dikeluarkan. Terlebih lagi, perhitungan waktu pemakaian daya dari kelebihan Watt di atas menggunakan satuan  jam. Sedangkan dinamika pergerakkan dari ketidakstabilan Voltase yang terjadi hanya dalam hitungan satuan detik (mungkin lebih kecil dari itu). Walau pun begitu, hal itu biasanya terjadi terus-menerus selama periode waktu antara 2 s/d 3 jam saat pagi (mulai pukul 05.00) dan / atau sore hari (mulai pukul 16.00).

Dinamika pergerakan Voltase ini, terjadi berbeda-beda antara sesama pelanggan PLN. Biasanya, dipengaruhi oleh daerah / lokasi tempat tinggal dari masing-masing pelanggan. Namun, efek pemakaian daya yang tercatat pada meteran adalah sama. Untuk kenaikan Voltase, akan menghasilkan penambahan nilai pada pencatatan meteran. Sedangkan untuk penurunan Voltase, akan menghasilkan pengurangan nilai pada pencatatan meteran.

Baik kenaikan maupun penurunan Voltase, juga akan berpengaruh terhadap umur / daya tahan perangkat elektronik. Pengaruh tersebut, bisa berupa hanya sekedar menjadikan kinerja perangkat tidak benar atau bisa juga menjadikan perangkat rusak total. Tergantung seberapa besar dan jenis dinamika pergerakan yang terjadi. Umumnya, kerusakan perangkat yang terjadi secara instant (mendadak), cenderung disebabkan oleh kenaikan Voltase. Sedangkan penurunan Voltase, cenderung membuat daya tahan (umur) perangkat menjadi berkurang.

Suka atau tidak, mau atau tidak mau, itulah realita dari kondisi aliran listrik yang dipasok ke dalam rumah kita. Selama kita masih membutuhkan pasokan listrik dari PLN, maka kondisi seperti itulah yang akan kita terima dan bayar untuk mengoperasikan perangkat elektronik di rumah. Lalu, sejauh mana kekuatan perangkat elektronik di rumah kita bisa bertahan dalam menerima kondisi pasokan aliran listrik seperti itu?
Biaya ketidakstabilan Voltase

Toleransi ketahanan perangkat elektronik

Toleransi dan reaksi yang dimiliki setiap unit perangkat elektronik berbeda-beda terhadap efek dinamika pergerakan Voltase. Kemampuan bertahan satu perangkat elektronik terhadap kenaikan Voltase listrik dapat disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah kualitas dan umur fisik perangkat.

Perangkat dengan fisik berkualitas rendah akan memiliki toleransi daya tahan yang rendah juga. Hal ini merupakan salah satu penyebab rusaknya perangkat setelah belum lama dipakai, walau pun baru dibeli. Kondisi yang sama juga akan terjadi pada pendeknya umur fisik perangkat. Walau pun berkualitas bagus, perangkat akan rusak dengan sendirinya setelah akumulasi waktu pemakaian telah tercapai. Seperti lampu SL (biasa disebut dengan “lampu hemat energi”) yang banyak dijual, apa pun merk-nya, memiliki batas umur pemakaian. Sehingga akan mati dengan sendirinya ketika akumulasi waktu pemakaian telah tercapai (max. 3 tahun).

Dinamika pergerakan Voltase sekecil apapun, baik kenaikan atau penurunan, akan berpengaruh menambah akumulasi pemakaian dan (otomatis) mengurangi umur fisik perangkat elektronik akibat ekstra kerja yang disebabkan penerimaan daya yang tidak seharusnya.

Jika diperhatikan lebih jauh, bertambahnya kinerja perangkat elektronik / listrik akibat kenaikan Voltase, terlihat sebagai hal yang memang demikian adanya. Sebagaimana dicontohkan sebelumnya di atas mengenai semakin terangnya cahaya lampu akibat jumlah daya yang diterima oleh lampu bertambah dari seharusnya.

Namun, apakah hal yang sama juga berlaku jika terjadi penurunan Voltase? Bukankah dengan berkurangnya jumlah daya akibat penurunan Voltase akan menjadikan kinerja perangkat menjadi berkurang juga?

Bila pertanyaan tersebut ditujukan untuk diterapkan pada nyala lampu, memang benar bahwa penurunan Voltase “terlihat seolah-olah” akan menambah umur lampu. Seandainya kondisi penurunan Voltase diterapkan pada perangkat seperti lemari es / kulkas atau AC (Air Conditioner), maka efek yang dihasilkan akan sama seperti kenaikan voltase. Yaitu, mengurangi umur / daya tahan perangkat. Perbedaannya dengan lampu adalah perangkat seperti lemari es / kulkas atau AC, beroperasi berdasarkan sensor suhu udara (thermostat). Standar kinerja perangkat akan bertambah lama saat terjadi penurunan Voltase.

Misalnya, saat Voltase dalam keadaan stabil, waktu yang dibutuhkan AC untuk mendinginkan ruangan hanya selama 10 menit. Ketika terjadi penurunan Voltase, AC pasti akan bekerja lebih lama. Hal ini dikarenakan berkurangnya jumlah daya yang dibutuhkan kompresor saat proses mendinginkan ruangan. Berkurangnya pasokan daya tersebut, akan memperlambat kinerja kompresor. Semakin kecil jumlah daya yang diterima, semakin lambat kinerjanya. Dan kompresor akan tetap bekerja selama suhu ruangan belum mencapai nilai derajat yang ditentukan.

Demikian juga halnya dengan lemari es / kulkas. Semakin kecil jumlah daya yang seharusnya diterima, semakin lambat kinerjanya. Dan mesin akan tetap bekerja selama suhu ruang di dalam kulkas belum mencapai nilai derajat yang telah ditentukan.

Lamanya waktu kompresor AC / kulkas bekerja dalam proses mendinginkan, setidaknya, pasti akan berpengaruh terhadap daya tahan / umur dari kompresor itu sendiri. Namun, seberapa besar efek negatif dari pengaruh tersebut hingga membuat perangkat menjadi rusak, banyak faktor yang menentukannya. Seperti : besaran nilai penurunan Voltase, lama waktu terjadi penurunan, hentakkan pergerakan naik-turun Voltase dsb.

Kondisi ketidakstabilan ini hanya dapat di-netral-kan dengan cara menstabilkan Voltase sebelum daya dialirkan ke dalam perangkat. Saya tidak menemukan cara lain yang lebih efektif dari tindakan menginstall unit stabilizer di area box MCB dalam rumah. Seandainya kondisi Voltase telah distabilkan, akankah menjamin daya tahan kualitas lebih baik dan umur fisik lebih panjang dari perangkat elektronik? Saya tidak memiliki jawaban yang pasti mengenai hal itu. Namun, dari apa yang saya alami, 90% bagian dari jaminan itu dapat terpenuhi. Tidak menjadi masalah rendahnya kualitas dari produk perangkat yang saya beli, tetap dapat beroperasional dengan baik dan berumur relatif lebih lama dibandingkan sebelum kondisi Voltase distabilkan.

Seandainya kita tidak ingin memasang stabilizer, adakah cara lain untuk menstabilkan Voltase?
Toleransi ketahanan perangkat elektronik

 

Selanjutnya⇒

Iklan

5 thoughts on “Voltase, Watt dan Perangkat Elektronik”

  1. pak tu arus yg turun/naik pa bsa di atasi dgn memasang capasitor(komponen elektronik)pda instalasi trpasang guna mnghndari dampak negatip pada pralatan elektronik kita. kali aja bsa tu benda kan hrga nya lbh mrah dripada stabilizer he he he…..

    Suka

    1. Mungkin saja. Maaf, sayangnya ilmu mengenai listrik yang saya miliki hanya sebatas user di ruang lingkup rumah tinggal saja. Orientasinya lebih pada hal-hal umum dan gampang dipahami serta diterapkan di kalangan yang memiliki pengertian ilmu listrik sangat sederhana (awam).
      Bisa jadi yang anda katakan benar adanya, tapi… hahahaha… ribeeeet. Gampangan masang stabilizer daripada ngerti-in ilmu listrik… hahahahaha…..
      Btw, thanks buat idenya… 😀

      Suka

  2. salam skses pak om…mhon deh pencerahannya. sya kan ada stavol 500 N merk matsunaga yg sebagian komponennya sdh tdk brpungsi lagi(1/2 rusak kalee…)tpi jka d aktfkan & ukr arus ot nya mmang lbh bsar dri arus infut.apkah benda ini msh bsa di pakai? tq

    Suka

    1. Terima kasih telah mengunjungi “Listrik di Rumah”,

      Secara tehnik, saya tidak mengerti masih berfungsi atau tidaknya komponen dalam stabilizer. Indikator output daya memang sudah seharusnya menunjuk pada angka 220 Volt, sedangkan indikator input daya bisa pada angka berapa saja. Selama indikator output daya berada pada angka 220, saya rasa, tidak ada masalah dengan stabilizer tersebut.

      Salam.

      Suka

Komentar ditutup.

Iklan

Memahami Perilaku Listrik sehari-hari di Rumah

Iklan
%d blogger menyukai ini: