halaman 1 dari 3

Ada keterkaitan erat antara Voltase dan Watt. Tidak banyak pemahaman saya mengenai voltase dan watt secara teknis listrik. Semuanya hanya berdasarkan analisa dari pergerakkan jarum indikator unit Ampere meter dan Volt meter yang terdapat pada stabilizer di rumah saya saja.

Hubungan dan keterkaitan dari Voltase dan Watt; mirip dengan konsep mendistribusikan Air dari satu ke lain tempat dengan menggunakan Pompa.

Secara garis besar, Watt memiliki persamaan sebagai Air dan Voltase sebagai kekuatan Tekanan Pompa Air.

Cara kerjanya, kurang-lebih seperti ini :

Semakin besar tekanan Pompa mendistribusikan Air, maka akan semakin besar jumlah / volume Air yang dialirkan. Dengan demikian, volume Air itu sendiri, akan selalu mengikuti besar-kecilnya tekanan Pompa yang mendistribusikannya.

Besar-kecilnya tekanan Pompa mendistribusikan Air, mirip dengan besar-kecilnya kekuatan Voltase mendistribusikan Watt. Semakin tinggi Voltase, maka semakin besar kekuatannya mendistribusikan Watt. Demikian berlaku sebaliknya. Kondisi tersebut akan selalu pasti diikuti dengan besar-kecilnya jumlah Watt yang didistribusikan.

Sedangkan nilai Ampere, mereprensentasikan jumlah maksimal Watt yang bisa dialirkan berdasarkan nilai Voltase yang ada.

Itu sebab mengapa Voltase memiliki peran sangat dominan dalam memengaruhi kinerja sebuah perangkat elektronik. Kenaikan Voltase akan menambah jumlah Watt dari yang seharusnya dikonsumsi perangkat elektronik. Dan, penurunan Voltase akan menguranginya.

Biaya ketidakstabilan Voltase

Ketika kita menyalakan satu / beberapa perangkat elektronik secara bersamaan, kemudian terjadi pergerakan naik / turun dari tegangan (Voltase) listrik, maka hal itu otomatis akan ikut mempengaruhi jumlah besar / kecilnya daya (Watt) listrik yang sedang mengalir ke perangkat-perangkat elektronik tersebut. Saat Voltase bergerak naik, maka besaran Watt akan bertambah. Demikian juga sebaliknya.

Berapa jumlah bertambahnya nilai daya (Watt) yang terjadi?

Seandainya sebuah bohlam berdaya 5 watt ~ 220 Volt mengalami kenaikan tegangan pada kisaran 230 Volt, maka bohlam tersebut akan menerima jumlah daya sebesar :

= (5 Watt / 220 Volt) x 230 Volt
= 0,02273 Ampere x 230 Volt
= 5,2279 Watt

Jika terjadi kenaikan tegangan hingga kisaran 250 Volt, maka jumlah daya yang diterima oleh bohlam tadi menjadi :

= (5 Watt / 220 Volt) x 250 Volt
= 0,02273 Ampere x 250 Volt
= 5,6825 Watt

Demikian juga halnya jika terjadi penurunan tegangan.

Misalnya, dengan spesifikasi bohlam yang sama di atas, mengalami penurunan tegangan hingga angka 190 Volt, maka bohlam tersebut akan menerima jumlah daya sebesar :

= (5 Watt / 220 Volt) x 190 Volt
= 0,02273 Ampere x 190 Volt
= 4,3187 Watt

Efek dari kenaikan voltase akan berakibat pada kualitas sinar dari lampu menjadi lebih terang. Dalam keadaan voltase normal (220 Volt), kita harus menggunakan lampu dengan kapasitas Watt lebih besar agar mendapatkan sinar lampu yang lebih terang.

Logika ini menunjukkan bahwa penyebab lebih terangnya cahaya lampu saat terjadi kenaikan Voltase adalah bertambah besarnya jumlah daya listrik (Watt) yang diterima oleh lampu. Lonjakan kenaikan Voltase cenderung bersifat dinamis dan tidak diam pada angka tertentu saja.

Berdasarkan yang saya alami, nilai kenaikan dari lonjakan berada pada kisaran angka 225 Volt s/d 230 Volt. Pada kisaran angka tersebut, kelebihan terang dari cahaya lampu yang dihasilkan tidaklah terlalu terasa / terlihat. Namun, hal itu tetap akan berdampak tercatat pada meteran listrik PLN.

Jika melihat contoh dari efek kenaikan Voltase pada bohlam di atas, tidak terlihat perbedaan mencolok dan pengaruh yang besar. Baik dari sisi fisik perangkat maupun biaya pemakaian daya yang harus dikeluarkan. Terlebih lagi, perhitungan waktu pemakaian daya dari kelebihan Watt di atas menggunakan satuan jam.

Sedangkan dinamika pergerakkan dari ketidakstabilan Voltase yang terjadi hanya dalam hitungan satuan detik (mungkin lebih kecil dari itu). Walau pun begitu, hal itu biasanya terjadi terus-menerus selama periode waktu antara 2 s/d 3 jam saat pagi (mulai pukul 05.00) dan / atau sore hari (mulai pukul 16.00).

Dinamika pergerakan Voltase ini, terjadi berbeda-beda antara sesama pelanggan PLN. Biasanya, dipengaruhi oleh daerah / lokasi tempat tinggal dari masing-masing pelanggan. Namun, efek pemakaian daya yang tercatat pada meteran adalah sama. Untuk kenaikan Voltase, akan menghasilkan penambahan nilai pada pencatatan meteran. Sedangkan untuk penurunan Voltase, akan menghasilkan pengurangan nilai pada pencatatan meteran.

Baik kenaikan maupun penurunan Voltase, juga akan berpengaruh terhadap umur / daya tahan perangkat elektronik. Pengaruh tersebut, bisa berupa hanya sekedar menjadikan kinerja perangkat tidak benar atau bisa juga menjadikan perangkat rusak total. Tergantung seberapa besar dan jenis dinamika pergerakan yang terjadi. Umumnya, kerusakan perangkat yang terjadi secara instant (mendadak), cenderung disebabkan oleh kenaikan Voltase. Sedangkan penurunan Voltase, cenderung membuat daya tahan (umur) perangkat menjadi berkurang.

Suka atau tidak, mau atau tidak mau, itulah realita dari kondisi aliran listrik yang dipasok ke dalam rumah kita. Selama kita masih membutuhkan pasokan listrik dari PLN, maka kondisi seperti itulah yang akan kita terima dan bayar untuk mengoperasikan perangkat elektronik di rumah.

Lalu, sejauh mana kekuatan perangkat elektronik di rumah kita bisa bertahan dalam menerima kondisi pasokan aliran listrik seperti itu?

Selanjutnya⇒

5 thoughts on “Voltase, Watt dan Perangkat Elektronik

  1. pak tu arus yg turun/naik pa bsa di atasi dgn memasang capasitor(komponen elektronik)pda instalasi trpasang guna mnghndari dampak negatip pada pralatan elektronik kita. kali aja bsa tu benda kan hrga nya lbh mrah dripada stabilizer he he he…..

    1. Mungkin saja. Maaf, sayangnya ilmu mengenai listrik yang saya miliki hanya sebatas user di ruang lingkup rumah tinggal saja. Orientasinya lebih pada hal-hal umum dan gampang dipahami serta diterapkan di kalangan yang memiliki pengertian ilmu listrik sangat sederhana (awam).
      Bisa jadi yang anda katakan benar adanya, tapi… hahahaha… ribeeeet. Gampangan masang stabilizer daripada ngerti-in ilmu listrik… hahahahaha…..
      Btw, thanks buat idenya… 😀

  2. salam skses pak om…mhon deh pencerahannya. sya kan ada stavol 500 N merk matsunaga yg sebagian komponennya sdh tdk brpungsi lagi(1/2 rusak kalee…)tpi jka d aktfkan & ukr arus ot nya mmang lbh bsar dri arus infut.apkah benda ini msh bsa di pakai? tq

    1. Secara tehnik, saya tidak mengerti masih berfungsi atau tidaknya komponen dalam stabilizer. Indikator output daya memang sudah seharusnya menunjuk pada angka 220 Volt, sedangkan indikator input daya bisa pada angka berapa saja. Selama indikator output daya berada pada angka 220, saya rasa, tidak ada masalah dengan stabilizer tersebut.

      Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *