Tespen, Kawat Hitam dan MCB

Tespen, Kawat Hitam dan MCBKabel, sebagaimana kita kenal, merupakan media yang digunakan untuk menghantarkan arus listrik. Seperti biasa kita dengar dan lihat di media elektronik atau membacanya dari media cetak, ada dua jenis arus listrik yang biasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga, yaitu arus positif (aktif) dan arus negatif (netral). Dengan menggunakan kabel, kedua arus listrik tersebut bisa mengalir dari satu ke lain tempat.
Tespen, Kawat Hitam dan MCB

 

Warna Kawat Kabel

Kabel itu sendiri pada dasarnya adalah kumpulan kawat tembaga yang dibungkus dengan bahan sejenis karet. Masing-masing pembungkus kawat tembaga memiliki warna berbeda antara satu dengan lainnya. Warna-warna tersebut berfungsi sebagai tanda pengenal untuk mewakili jenis arus listrik yang mengalir di setiap kawat didalam pembungkus.

Ada empat warna pembungkus kawat dalam sebuah kabel yang pernah saya lihat, yaitu : merah, hitam, biru dan kuning.

Pembungkus berwarna merah dan hitam, diidentifikasikan sebagai kawat untuk penghantar muatan arus positif yang dilambangkan dengan karakter tambah (+). Sedangkan pembungkus berwarna biru sebagai kawat untuk menghantar muatan arus negatif yang dilambangkan dengan karakter kurang (-). Pada kesehariannya, kawat dengan pembungkus berwarna merah / hitam sering disebut sebagai kawat fasa / fase, sedangkan yang berwarna biru disebut sebagai kawat netral.

Dari pemakaian secara umum atau yang paling sering digunakan sebagai media aliran listrik adalah kawat berwarna merah, hitam dan biru. Kawat berwarna kuning lebih banyak difungsikan sebagai arde untuk menyalurkan kelebihan listrik yang ditimbulkan arus positif ke grounding.

Seringkali kondisi yang kita hadapi sehari-hari adalah hanya dua warna saja yang terdapat dan menjadi pembungkus kawat dalam sebuah kabel, seperti : merah-biru, hitam-biru dan merah-hitam. Gunakan parameter bahwa warna merah adalah yang utama dan selalu untuk listrik bermuatan positif. Sedangkan pembungkus berwarna biru, selalu menjadi warna utama untuk listrik bermuatan negatif.

Contoh :

  • Kabel berisi dua kawat dengan pembungkus berwarna merah dan hitam. Maka, warna merah untuk positif dan hitam untuk negatif.
  • Kabel berisi dua kawat dengan pembungkus berwarna hitam dan biru. Maka, warna hitam untuk positif dan biru untuk negatif.

Jadi, jika ditemukan warna merah dan biru, maka gunakan keduanya sebagai warna utama untuk Positif dan Negatif. Sedangkan hitam akan selalu menjadi sebagai warna pengganti dari kedua warna tersebut. Untuk kasus pemasangan kabel pada semua perangkat listrik, kecuali saklar lampu, selalu gunakan acuan warna merah sebagai pembawa arus positif (fase) atau warna biru sebagai pembawa arus negatif (netral).

Bagaimana dengan susunan warna yang digunakan untuk memasang saklar lampu, yang mana keduanya merupakan pembawa arus listrik positif?

Saya sarankan untuk menyeragamkan penggunaan warna merah / hitam sebagai pembawa arus positif yang masuk (line-in) ke saklar dan warna selain merah (atau hitam) sebagai pembawa arus positif yang keluar (line-out) dari saklar.
Tespen, Kawat Hitam dan MCB

 

Tespen dan arus listrik

tespen

Gambar : Tespen

Selain dari warna pembungkus kawat sebagai cara untuk mengenali jenis arus listrik yang dihantarkan oleh masing-masing kawat tembaga dalam kabel, cara lainnya adalah dengan menggunakan alat yang disebut “tespen”. Bentuknya sama dengan obeng “min”, namun terdapat lampu sikring di bagian dalam pegangannya. Lampu sikring ini akan menyala jika ujung tespen ditempelkan pada kawat penghantar arus positif. Dan akan mati jika ditempelkan pada kawat penghantar arus netral dan arde.

Seberapa jauh kepentingan kita untuk memiliki sebuah tespen?

Kawat-kawat tembaga dalam kabel saat tidak bermuatan arus listrik, apapun ceritanya, hanyalah merupakan kawat tembaga saja. Secara fisik, kawat-kawat tersebut satu dengan lainnya adalah sama. Tidak ada perbedaan antara kawat penghantar arus positif, netral dan arde. Warna-warni kulit pembungkus kawat tembaga yang berbeda-beda, digunakan untuk membantu kita untuk mengingat dan mengenali jenis arus listrik dari masing-masing kawat saat sedang mengerjakan penyambungan antar kabel atau pemasangan unit perangkat listrik (stop kontak / saklar lampu).

Namun saat kita hendak memperbaiki sambungan antar kabel, sering kita dibuat bingung akibat banyaknya jumlah kawat tembaga yang saling melilit satu dengan lainnya. Pada bagian ini, sulit mengandalkan hanya pada warna pembungkus kawat untuk menentukan kawat penghantar arus positif.

Disinilah kita memerlukan tespen untuk membantu dalam menentukan kawat mana yang menghantarkan arus positif. Karena, hal pertama dan utama yang harus diketahui dan ditemukan sebelum melakukan modifikasi apa pun pada jaringan kabel adalah kawat mana yang menjadi penghantar arus positif. Tidak peduli apa pun warna pembungkus kawatnya. Setelah kawat penghantar arus positif ditemukan, kita akan mendapat gambaran lebih jelas mengenai posisi kawat penghantar arus netral dan kawat arde.

Tespen, Kawat Hitam dan MCB

Gambar : Tespen arus listrik pada unit MCB.

Demikian juga saat hendak memasangkan unit MCB atau saklar lampu. Dengan mengetahui posisi kawat penghantar arus positif, kita dapat terhindar dari kesalahan memasangkan kawat penghantar dengan jenis arus yang tidak seharusnya.

Cara menggunakan tespen sangatlah mudah. Misalnya, jika kita hendak mengetahui jenis arus listrik dari dua lubang pada stopkontak. Tusukkan ujung tespen yang berbentuk obeng min (-) ke dalam salah satu lubang, kemudian tempelkan jari pada bahan metal di bagian ekor tespen. Jika lampu di bagian gagang (pegangan) tespen menyala, berarti lubang tersebut mengandung arus positif. Seandainya mati, maka lubang tersebut mengandung arus netral. Contohnya seperti gambar di bawah ini :

Tespen, Kawat Hitam dan MCB

Gambar : Tespen arus listrik pada unit Stopkontak.

Konsep penggunaan tespen yang sama jika hendak mengetahui jenis arus listrik pada kawat tembaga atau unit MCB.


PENTING DIPERHATIKAN & DIKETAHUI !!!

Biasakan untuk menggunakan alas kaki (sandal karet / sepatu ber-sol karet) dan dalam kondisi kering (tidak basah) pada seluruh anggota tubuh (khususnya kaki dan tangan), jika hendak melakukan tindakan apa pun yang berhubungan dengan listrik di saat sedang menyala. Lebih baik untuk mencegah untuk tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, walau pun sepele sifatnya.


Mengapa sangat penting untuk mengetahui posisi kawat penghantar arus positif saat hendak memasangkan unit MCB atau saklar lampu?

Tespen dan arus listrik

 

Keseragaman letak pemasangan kawat listrik

Pemahaman bahwa kawat pembawa arus positif yang harus melalui MCB atau saklar lampu adalah agar aliran arus listrik positif terhenti ketika switch dari kedua perangkat tersebut di posisikan mati (OFF). Tanpa kehadiran aliran arus listrik positif, maka tidak ada energi yang bisa dihasilkan. Kita pun tidak akan merasakan apa-apa saat memegang kedua kawat meski salah satunya masih dialiri oleh arus listrik netral.

Dengan demikian, seandainya kita hendak melakukan penggantian rumah lampu, maka kita hanya perlu memastikan bahwa switch saklar lampu dalam posisi mati (OFF). Begitu juga saat kita hendak melakukan tindakan penggantian stopkontak, cukup memastikan switch MCB dalam posisi mati saja.

Jadi, MCB dan saklar lampu bisa disebut sebagai perangkat untuk mengendalikan aliran arus positif ke stop kontak / lampu.

Pada prakteknya, meskipun arus netral tidak menimbulkan reaksi pada tubuh kita, baik arus positif maupun netral tetap dibutuhkan agar listrik bisa menghasilkan energi untuk mengaktifkan nyala lampu / perangkat elektronik di rumah.

Jika kita menukar posisi kawat bermuatan arus positif dengan arus netral sebagai arus yang terhubung dengan switch saklar lampu atau unit MCB, maka akan menghasilkan efek yang sama. Lampu akan mati ketika switch saklar diposisikan mati. Sama halnya dengan MCB, stop kontak tidak akan berfungsi jika switch MCB di posisikan mati.

Namun, seandainya kita lepaskan lampu dari rumahnya dan menempelkan ujung tespen pada bagian tengah atau pinggir ulir dari fiting lampu, maka lampu pada gagang tespen akan menyala, meskipun saklar sudah diposisikan mati. Inilah bedanya antara saklar yang dipasang “tidak” pada jalur kawat yang dialiri arus listrik positif. Masih terdapat “setrum” pada rumah lampu meskipun lampu sudah dalam kondisi padam.

Artinya, pemakaian listrik akan tetap berlangsung pada saklar lampu yang dipasang “tidak” pada jalur kawat yang dialiri arus listrik positif. Walaupun jumlah listrik yang terbuang tidak sebesar saat lampu dalam kondisi menyala, pemakaian listrik tetap terjadi dan meteran PLN akan tetap menghitungnya.

Lalu, bagaimana dengan MCB? Apa yang terjadi seandainya kawat bermuatan arus netral yang dilalui ke dalam MCB?

Karena kabel dari MCB selalu berakhir di stopkontak, bisa dibilang, “hampir” tidak ada masalah. Selama tidak terjadi lonjakan voltase atau korsleting, maka setiap perangkat elektronik yang steker-nya menancap pada stop kontak akan tetap aman. Tapi jika terjadi lonjakan voltase atau korsleting, besar kemungkinan akan menimbulkan kerusakan.

Pemakaian listrik secara sia-sia, juga pasti terjadi pada perangkat elektronik yang steker-nya dibiarkan menancap di stopkontak. Meski perangkat dikondisikan mati, tetap ada arus listrik positif yang mengalir ke dalamnya. Hal itu berlaku baik untuk pemasangan kawat arus listrik pada MCB yang benar maupun salah.

Kondisi kawat bermuatan arus positif yang tidak terpasang melalui MCB dan saklar, serta mengabaikan steker perangkat elektronik tetap menancap di stopkontak, merupakan penyebab paling umum dari biaya listrik yang harus dibayar lebih besar dari yang sebenarnya kita pakai. Selain itu, kondisi arus positif yang terus menerus mengalir tanpa dipertemukan dengan arus netral ke dalam perangkat elektronik / listrik (seperti cerita lampu di atas), cenderung membahayakan dan juga merusak perangkat elektronik / listrik itu sendiri.
Keseragaman letak pemasangan kawat listrik

 

Pentingnya mengendalikan arus listrik positif

Itulah sebabnya mengapa switch saklar lampu atau MCB selalu harus dilalui dengan arus positif. Karena memang, kedua perangkat tersebut berfungsi untuk menghentikan distribusi arus positif ke perangkat listrik / elektronik saat sudah tidak dibutuhkan. Sebagaimana yang saya nyatakan sebelumnya, warna pembungkus kawat hanyalah sebagai tanda pengenal bagi kita untuk mengetahui jenis muatan arus listrik yang dilalui oleh masing-masing kawat. Namun, belum tentu kawat tembaga dengan pembungkus warna hitam sudah pasti dialiri arus positif, biru dengan arus netral dan kuning untuk arde. Kemungkinan terjadinya ketidaksesuaian jenis muatan arus listrik dengan warna pembungkus kawat dalam kabel, selalu ada. Bahkan, cenderung pasti terjadi.

Contohnya, saat kita menancapkan steker perangkat elektronik (misalnya, televisi atau oven listrik) ke stopkontak, darimana kita mengetahui kaki steker yang harus dilalui arus listrik positif atau netral? Kalau pun bisa dideteksi menggunakan alat multitester (begitu yang saya dengar), tidak setiap orang mau atau mengerti cara melakukannya.

Walau begitu, saya belum pernah menemukan adanya masalah akibat tertukarnya jenis muatan arus listrik di level (steker) tersebut. Demikian juga halnya jika kita dengan sengaja melakukan pemasangan kawat arus netral pada switch saklar lampu. Lampu tetap dapat di-nyala-mati-kan dengan normal.


Ada beberapa perkembangan mengenai perlakuan dalam menancapkan steker ke stop kontak yang dapat anda lihat pada artikel : Steker, Stop kontak dan Arus LIstrik.


Meski demikian, jangan pernah berniat untuk memasang kawat arus netral pada unit MCB di box MCB dengan sengaja. Apapun cerita kebaikan / keuntungan tentang efek dari tindakan tersebut adalah sama sekali salah. Ini bukan sekadar agar terhindar dari hentakan arus positif saat mengganti perangkat listrik (saklar / stopkontak). Tetapi juga agar arus listrik yang beredar pada jaringan kabel dalam rumah menjadi sebagaimana seharusnya.

Efek negatif dari arus positif yang tidak melalui MCB di box MCB, tidak pernah kita rasakan langsung. Semua berjalan normal seolah-olah memang demikian seharusnya. Setelah beberapa lama kemudian, mulai terlihat / terasa kinerja perangkat elektronik yang tidak normal. Saya mendapatkan hal tersebut terjadi di dua rumah berbeda. Efek yang ditimbulkan pada kedua rumah tersebut adalah sama, yaitu mengganggu kinerja perangkat elektronik atau / dan bahkan menjadikannya rusak.

Dalam kondisi yang seharusnya, dimana kawat bermuatan arus positif terpasang melalui MCB, tetap masih mampu mengganggu kinerja dan merusak fisik perangkat elektronik. Ini dikarenakan MCB tidak memiliki kemampuan meredam pergerakan voltase / tegangan listrik secara otomatis sebagaimana layaknya stabilizer. MCB hanya bereaksi dan “trip” ketika kondisi tegangan listrik berada diluar toleransinya (>230 Volt). Seandainya tegangan listrik bergerak naik dan diam pada level 225 Volt, MCB akan membiarkannya.

Jadi, kawat bermuatan listrik positif yang tidak dipasang melalui MCB, baik dilakukan dengan sengaja atau tidak, sama saja dengan membiarkannya lepas tanpa kendali.
Pentingnya mengendalikan arus listrik positif

 

Efek tertukarnya posisi arus listrik

MCB yang selama ini lebih dikenal hanya sebagai pembatas besaran kapasitas dan voltase listrik, sebenarnya memiliki kelebihan dalam mengendalikan tegangan arus listrik. Kawat arus positif yang tidak melalui unit MCB, cenderung menghasilkan kinerja perangkat elektronik menjadi tidak normal. Mirip dengan kinerja perangkat elektronik bermutu rendah. Misalnya, kinerja kulkas yang sudah tidak dingin atau nasi hasil olahan rice cooker yang cepat basi.

Walau kinerja perangkat menjadi tidak normal, bukan berarti perangkat telah rusak. Kinerja perangkat masih bisa kembali normal seperti sediakala, namun tidak akan berlangsung terus untuk selamanya.

Ketidakberaturan kinerja perangkat seperti itu, membuat semakin sulit untuk kita dapat mendeteksi / mengidentifikasi permasalahan secara lebih dini. Setelah perangkat benar-benar rusak, kita pun cenderung menganggapnya disebabkan karena kualitas / mutu perangkat yang buruk.

Memang sulit untuk mengidentifikasi kasus ketidak-benaran kinerja perangkat elektronik. Terlalu banyak kemungkinan yang bisa menjadi penyebabnya. Kawat arus positif yang tidak melalui unit MCB hanyalah salah satu diantaranya, dan sebagian besar dari kita memiliki anggapan bahwa instalasi listrik di area meteran hingga box MCB, sudah terpasang dengan semestinya.

Sebuah anggapan yang wajar, karena tanggung jawab instalasi listrik di area tersebut telah menjadi bagian dan diserahkan sepenuhnya pada pihak PLN serta pengembang rumah. Jarang diantara pembeli / pemilik rumah yang benar-benar memahami teknik instalasi listrik / pemasangan kawat di area tersebut.
Efek tertukarnya posisi arus listrik

 

Memastikan arus positif terpasang melalui MCB

Cara paling mudah untuk mengetahui kebenaran posisi arus positif telah terpasang melalui MCB atau tidak adalah dengan menggunakan tespen. Matikan MCB di meteran, kemudian tancapkan tespen ke dalam masing-masing lubang stop kontak. Jika lampu tespen menyala saat di tes ke salah satu atau kedua lubang stop kontak, sudah bisa dipastikan arus positif tidak dipasang melalui MCB meteran.

Dalam situasi seperti itu, saya sarankan anda untuk meminta bantuan petugas PLN membenahinya. Jangan sesekali mengerjakan sendiri membuka / mem-preteli box meteran PLN. Anda sama sekali tidak diperkenankan untuk melakukan hal tersebut oleh PLN.

Biarkan kondisinya seperti itu sampai petugas PLN datang memperbaiki hingga selesai dan semuanya terpasang seperti sediakala. Setelah itu, baru perhatikan warna kawat yang terpasang masuk dan keluar unit MCB di meteran.

Seharusnya, ada dua warna kawat yang “tidak” terpasang melalui unit MCB di meteran, yaitu biru dan kuning. Jika memang terlihat demikian, maka pastikan bahwa kedua warna kawat tersebut juga tidak terpasang masuk ke unit MCB yang ada di (boks MCB) dalam rumah.

Seandainya belum pernah melakukannya, untuk keamanan anda juga, matikan terlebih dahulu unit MCB di meteran PLN. Selanjutnya, anda perlu membuka cover (pelindung luar) boks MCB dalam rumah. Kemudian tinggal dibandingkan, apakah warna kawat yang keluar dari unit MCB di meteran adalah sama dengan yang masuk ke unit MCB di dalam rumah. Jika sama, maka kawat arus positif telah dipasang sesuai tempatnya.

Kalau tidak yakin, nyalakan MCB di meteran. Kemudian tempelkan tespen pada unit MCB dalam rumah sebagaimana seperti foto di awal artikel. Kondisi listrik seperti itulah yang semestinya terpasang di rumah.

Skema di bawah ini adalah gambaran susunan kawat tembaga yang seharusnya terpasang antara unit meteran PLN dengan box MBC dalam rumah :

Tespen, Kawat Hitam dan MCB

Gambar 1 : Sususan kawat kabel yang seharusnya antara meteran PLN dengan box MCB

Efek tertukarnya posisi arus listrik

 

Memperbaiki Sendiri Posisi Kawat Arus Positif

Sebenarnya, kita bisa mengerjakan sendiri perbaikan posisi kawat arus positif yang salah tanpa bantuan petugas PLN. Tidak perlu dengan cara membongkar casing meteran, melainkan cukup mengatur ulang susunan kawat yang terpasang di boks MCB dalam rumah. Namun, saya ingatkan, hati-hati mengerjakannya. Anda membutuhkan peralatan listrik (tang kombinasi, tang buaya, obeng min, obeng kembang dan tespen) yang memadai untuk bisa mengerjakannya dengan risiko tersengat listrik sekecil mungkin.

Berikut ini saya sajikan dua kemungkinan kesalahan pemasangan posisi arus positif pada meteran PLN yang biasa terjadi dan ditemukan di rumah tinggal :

Jika lampu tespen menyala saat ditempelkan pada kawat berwarna biru, berarti telah terjadi kesalahan pemasangan kawat pada kabel keluaran meteran PLN oleh petugas yang melakukannya. Anda dapat memperbaikinya sendiri dengan terlebih dulu mematikan kembali unit MCB di meteran PLN. Jangan lupa untuk selalu menggunakan alas kaki berbahan karet saat hendak dan sedang mengerjakan kasus seperti ini.

Ilustrasinya dapat anda lihat pada gambar di bawah ini :

Tespen, Kawat Hitam dan MCB

Gambar 2 : Memperbaiki susunan kawat pada meteran PLN (area kotak merah) dengan mengubah susunan kawat pada box MCB (area kotak hijau).

Pada gambar 2, arus positif yang terdapat pada kabel input ke meteran adalah berwarna hitam. Kawat hitam inilah yang seharusnya dihubungkan pada unit MCB di meteran, tetapi dalam kasus ini, posisi kawat hitam digantikan dengan kawat biru (netral). Posisi kawat pada kabel keluaran yang menghubungkan antara meteran ke box MCB, pada dasarnya sudah benar. Namun, jenis arus listrik yang terkandung dalam kawat hitam dan biru pada kabel tersebut adalah salah. Dengan kondisi seperti itu, sama dengan keadaan arus positif dibiarkan mengalir langsung ke dalam rumah tanpa batasan apa pun (loss).

Umumnya, kekuatan meng-hantarkan arus listrik pada kabel yang terpasang di meteran jauh lebih besar dibandingkan kabel pada jaringan kabel di dalam rumah. Itulah yang menjadi penyebab utama kerusakan perangkat listrik / elektronik dari kesalahan pemasangan kawat sebagaimana diilustrasikan pada gambar 2. Tidak ada penghalang yang membatasi gerak arus positif untuk tetap berada di bawah kondisi kemampuan hantar arus kabel di dalam rumah.

Seandainya kita mengerti “sedikit” mengenai teknik sambungan antar kawat dan mengerti cara memperlakukannya, kondisi sambungan seperti itu akan menjadi sangat menguntungkan. Dengan kesalahan sambungan kawat seperti itu, kita dapat memperbesar kapasitas listrik terpasang menjadi berapa pun yang kita inginkan. Cukup melakukan penggantian kapasitas unit MCB di box MCB dan kapasitas hantar arus dari kabel pada jaringan kabel sesuai dengan besaran kapasitas unit MCB.

Misalnya, kapasitas listrik terpasang di rumah adalah 900VA, maka setelah jalur pemasangan kawat diperbaiki, kita dapat menjadikannya 6600VA dengan cara mengganti unit MCB berkapasitas 30 Ampere di box MCB. Tentu saja, tindakan tersebut harus disertai penggantian kemampuan hantar arus dari kabel yang sebesar / di atas 6600VA juga. Maka, untuk waktu selanjutnya, kita akan menikmati fasilitas penggunaan listrik sama dengan pelanggan 6600VA, tetapi dengan biaya tarif pelanggan 900VA. Kondisi ini akan berlangsung selamanya dengan syarat kita bisa membatasi pemakaian listrik maksimal sama dengan pelanggan 900VA (< 648 kwh) per bulan.

Disamping kasus kesalahan sambungan seperti itu, terdapat kesalahan lain yang mirip. Tetapi tidak sampai membuat arus positif menjadi loss. Ilustrasi-nya di gambarkan pada skema di bawah ini :

Tespen, Kawat Hitam dan MCB

Gambar 3 : Memperbaiki susunan kawat pada meteran PLN (area kotak merah) dengan mengubah susunan kawat pada box MCB (area kotak hijau).

Kalau diperhatikan, tidak ada masalah dengan kondisi susunan kawat seperti yang diilustrasikan dalam skema sebelah kiri pada gambar 3 di atas. Karena, arus positif yang dialirkan masuk ke dalam rumah sudah melalui dan dibatasi oleh unit MCB di meteran PLN.

Fungsi MCB di box MCB, sebenarnya, hanya untuk mengatur pembagian jumlah besar arus listrik yang harus didistribusikan ke dalam rumah. Seandainya kita tidak mau membuat pembagian pemakaian daya di dalam rumah, maka cukup menggunakan satu MCB saja di box MCB berkapasitas sama dengan MCB pada meteran. Tidak ada masalah untuk menjadikannya seperti demikian. Jadi, ketentuan arus listrik dari meteran PLN harus melalui MCB di box MCB dalam rumah, boleh dibilang hanya merupakan opsi (pilihan) saja. Boleh diberlakukan, boleh juga tidak.

Oleh sebab itu, cukup janggal rasanya jika (ternyata) penerapan kondisi susunan kawat skema sebelah kiri pada Gambar 3, akan menjadi masalah di kemudian hari. Apa yang menyebabkan unit MCB di box MCB bisa “menjinakkan” perilaku arus positif? Saya tidak memahami cara kerjanya secara teknis, tetapi begitulah realita yang saya alami.
Memastikan kebenaran posisi arus positif

 

Kawat keluaran dari MCB dalam box MCB yang tidak benar

Kesalahan ini, cenderung disebabkan oleh pihak pemilik rumah ketika melakukan pemasangan jaringan kabel di dalam rumah. Baik itu dilakukan dengan menggunakan jasa seorang tehnisi listrik ataupun kita sendiri.

Sama halnya dengan petugas PLN, kita pun tidak selalu dapat mengandalkan diri sendiri untuk mengerjakan pemasangan kawat pada MCB secara benar. Namun demikian, walau pun kita membuat kesalahan adalah wajar, karena tidak semua mayoritas di antara kita hidup dan berkecimpung di bidang kelistrikan.

Kesalahan pemasangan kawat keluaran dari MCB seperti ini dapat diperbaiki dengan mudah. Kita tinggal mengganti posisi kawat keluaran MCB dari hitam menjadi biru. Anda dapat melihat ilustrasi dua skema dari Gambar 3 di bawah, dimana bagian kesalahan ditunjukkan di area kotak merah dan perbaikannya ditunjukkan pada area kotak hijau.

Tespen, Kawat Hitam dan MCB

Gambar 4 : Memperbaiki dengan mengubah susunan kawat keluaran box MCB (area kotak merah menjadi area kotak hijau).

Kawat keluaran dari MCB dalam box MCB yang tidak benar

 

MCB : meteran PLN vs box MCB

Sejauh mana peran dan fungsi MCB di meteran PLN saat dilalui kawat bermuatan arus positif? Mengapa, walau pun telah terpasang untuk melalui unit MCB di meteran PLN, kawat bermuatan arus positif harus tetap terpasang untuk melalui unit MCB di box MCB dalam rumah juga?

Benar, keduanya memang sama-sama MCB. Saya pun (hingga saat ini) tidak mengerti penyebab MCB di box MCB bisa mengendalikan arus positif menjadi lebih baik. Saya sama sekali tidak memiliki penjelasan secara teknis mengenai hal tersebut. Semua cerita di atas hanya berdasarkan pengalaman saja.

Perlu anda ketahui, memperbaiki susunan kawat pada box MCB bukan berarti dapat menghasilkan kualitas listrik sebagaimana menggunakan stabilizer. Tindakan ini hanya membenarkan jalur distribusi arus listrik yang seharusnya dikendalikan oleh MCB. Hanya itu saja. Fungsi MCB hanya membatasi gerak arus positif. Tidak bisa membuatnya menjadi normal / layak pakai seperti output listrik yang dihasilkan stabilizer.

Semoga bermanfaat…!
icon.top.par

 

Artikel terkait :

Tespen, Kawat Hitam dan MCB