Membuat Filter untuk Air di Rumah

halaman 1 dari 4

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok sehari-hari yang tidak bisa digantikan fungsi, manfaat dan keberadaannya. Namun, sedikit diantara kita memiliki kesempatan untuk bisa menikmati air bersih yang benar-benar dalam kondisi layak pakai, meskipun air yang digunakan berasal dari PDAM setempat. Dimana, seharusnya, sudah memiliki kualitas standar layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari diluar kebutuhan untuk kita minum.

Penilaian atas standar kualitas layak pakai dari air yang kita pakai sehari-hari di rumah adalah harus tidak berbau dan harus tidak berwarna. Sangat mudah dan sederhana, bukan? Jadi, kita bisa langsung mengetahui kualitas layak pakai air cukup hanya dengan melihat fisik dan membaui-nya. Tetapi, meskipun air yang saat ini kita peroleh tidak berbau dan terlihat jernih, belum tentu menandakan air tersebut sepenuhnya bebas kotoran.

Pernyataan tersebut terdengar seperti mengada-ada. Bagaimana air yang terlihat jernih bisa dikatakan kotor? Seberapa parah kotoran bisa terkandung dalam air yang terlihat jernih?

Nah…, air dengan kondisi seperti itulah yang saya dapatkan dari PDAM Jakarta. Artikel ini menceritakan bagaimana saya mencoba membuat perangkat penyaring kotoran dalam air (filter air) yang sekiranya bisa digunakan untuk mengurangi jumlah kotoran halus di dalam air.
Membuat Filter untuk Air di Rumah

Membuat filter air sederhana di bak mandi…

filter.air.sederhanaDi rumah saya (Jakarta), ada dua bak penampungan air, yaitu bak utama untuk menampung air PDAM saat pertama kali masuk rumah (saya menyebutnya dengan bak penampung) dan bak mandi. Semua kebutuhan air di dalam rumah, termasuk air bak mandi, berasal dari bak penampung yang disalurkan menggunakan pompa sumur.

Ketika pertama kali mendapatkan kondisi bak mandi yang baru dua hari dibersihkan telah kembali kotor, saya cenderung menganggap hal tersebut sebagai sebuah kondisi yang bersifat sementara.

Saya pun membuat filter air sederhana yang diletakkan dalam bak mandi. Kapas filter yang menjadi media penyaring kotoran, dapat bertahan selama 2 minggu untuk setiap kali setelah dibersihkan. Setelah dibersihkan pada ketiga kalinya (minggu ke-6 sejak pertama kali digunakan), elastisitas kapas pun melemah. Kemampuan untuk menahan kotoran yang tersangkut di sela-sela serat dari semburan air kian berkurang. Sehingga, kapas perlu diganti dengan yang baru setiap setelah melewati tiga kali pencucian.

Penyebab melemahnya elastisitas serat kapas filter itu dikarenakan posisi kapas diletakkan menghadang air yang menyembur keluar melalui keran. Disamping itu, kotoran yang menempel pada serat kapas menjadi sangat sulit dibersihkan. Kapas berubah warna menjadi kecokelatan. Menggunakan pemutih pakaian agar bisa mengembalikan warna kapas bisa kembali putih seperti semula, tidak banyak membantu. Bahkan pemutih turut berperan memperlemah kekuatan elastisitas serat kapas.

Setelah beberapa bulan mendapatkan kondisi air tetap sama seperti semula, saya mengambil kesimpulan bahwa hal itu akan terus berlangsung dalam waktu cukup lama. Mungkin selamanya akan tetap demikian.

Di sisi lain, saya pun sempat menjadi bingung. Air dari PDAM terlebih dulu ditampung masuk ke bak penampung, sehingga terdapat jeda waktu kotoran yang terbawa bersama air untuk mengendap di dasar bak. Dan, memang benar terlihat ada kotoran mengendap disitu. Lalu, kotoran seperti apa yang sebenarnya mengendap di bak mandi?
Membuat filter air sederhana di bak mandi...

Debu air…

Anda mungkin pernah melihat film di TV yang bercerita tentang kehidupan di bawah laut. Biasanya, untuk menerangi tempat yang gelap di dasar laut, para penyelam menggunakan senter “halogen”. Pada rentang cahaya lampu senter dalam air, kadang terlihat “titik-titik” seperti kotoran ber-lalu-lalang melaluinya.

Kita bisa menggunakan cara yang sama untuk mengetahui tingkat kejernihan air dalam bak mandi di rumah… tentu saja, tidak perlu dengan sambil menyelam. Arahkan cahaya senter hingga menyentuh dasar bak mandi, maka akan terlihat seberapa besar kuantitas kotoran yang melayang-layang dalam air.

Kotoran seperti itulah yang saya dapatkan pada air bak mandi di rumah setiap saat baru diisikan. Jika didiamkan dalam waktu 24 jam, “titik-titik” kotoran dalam air ini akan mengendap di dasar bak. Berwarna kecoklatan dan mudah “tergerak” oleh gerakan di dalam air. Karena bentuknya yang sangat halus dan ringan, saya menyebutnya dengan nama “debu air”.

Mungkin, karena sifatnya yang sangat halus dan ringan inilah menjadikan debu air di bak penampung ikut terbawa masuk bersama air yang di hisap oleh pompa. Meskipun berjarak 20 cm antara moncong pipa penghisap dengan endapan kotoran, kekuatan daya hisap pompa telah membuat pergerakan di bawah permukaan air yang menjadikan endapan kembali terurai. Dengan begitu, air yang di hisap pompa dan didistribusikan ke dalam rumah akan tetap mengandung kotoran.

Dari keberadaan kotoran yang mengendap di bak penampung dan kotoran yang terbawa masuk mengendap di bak mandi, saya rasa, anda pun bisa membayangkan besarnya jumlah debu dalam air yang didistribusikan PDAM ke rumah saya di Jakarta. Memang tidak ada pilihan lain, kondisi kualitas air yang demikian tetap harus diterima. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba memperbaiki “sedikit kualitas” air yang ada agar merasa lebih nyaman saat menggunakannya.

Saya pun mengalihkan fokus perhatian untuk menempatkan filter air di bak penampung yang letaknya di bawah permukaan lantai rumah. Seandainya saya bisa mengkondisikan air di bak penampung menjadi lebih bersih, otomatis seluruh air yang masuk ke jaringan pipa ledeng di dalam rumah akan sama kondisinya. Termasuk juga air yang diisikan ke dalam bak mandi.
Debu air...

Pengalaman memelihara ikan hias…

Dulu, saya pernah memiliki kegiatan / hobi memelihara ikan hias di akuarium. Disitu saya pertama kali mengenal dan memberi istilah “debu air”. Yaitu kotoran ikan yang terurai sangat halus dan beredar di dalam akuarium. Uraian kotoran-kotoran itu, beterbangan dalam air mengikuti gerak aktivitas berenang dari ikan. Semakin tinggi dan banyak gerak aktivitas berenang yang terjadi, maka air akan semakin keruh.

Kekeruhan air ini bisa kembali jernih (meski tidak diganti) seandainya semua ikan dipindahkan dan semua perangkat akuarium pembuat gerakan aliran air dimatikan. Kotoran yang beredar akan mengendap di dasar akuarium, namun akan kembali beredar jika ikan dan semua perlengkapan akuarium di kembalikan kedalamnya.

Belajar dari kejadian itu, saya mendapat satu gambaran sulitnya untuk mengatasi “debu air” selama masih terdapat sumber yang menyebabkan pergerakan di bawah permukaan air. Pemakaian filter akuarium se-canggih apa pun, tidak akan mampu bertahan menjaga kondisi air dalam akuarium tetap bersih dari debu air yang dihasilkan kotoran ikan lebih dari dua minggu. Terlebih lagi untuk ikan hias jenis “koki” yang mampu membuat air menjadi keruh dalam waktu kurang dari 1 minggu.

Dengan demikian, sudah jelas konsekuensi yang harus dijalani dari menggunakan filter akuarium untuk menjadikan kondisi air tetap terjaga kebersihannya. Kapas penyaring dalam tabung filter, harus sering dibersihkan untuk menjaga ketersediaan ruang di antara serat kapas. Sehingga, tetap tersedia tempat / ruang kosong di antara serat kapas untuk menampung dan menahan kotoran yang masuk bersama aliran air.

Jika kotoran di kapas penyaring dibiarkan tidak dibersihkan, kotoran yang masuk bersama aliran air akan kembali keluar. Jadi, kebersihan kapas penyaring mutlak untuk benar-benar dijaga kondisinya. Kalau tidak, proses perputaran air masuk keluar tabung filter akan menjadi sia-sia.

Kondisi air dalam bak penampungan di rumah saya mirip layaknya sebuah akuarium yang dihuni banyak ikan. Meskipun tidak selalu berbau, kotoran baru berupa debu air akan dihasilkan setiap hari bersamaan dengan air baru yang masuk ke dalam bak, sama seperti debu air yang dihasilkan kotoran dari banyak ikan dalam akuarium.
Pengalaman memelihara ikan hias...

 

Selanjutnya⇒

Iklan
Iklan

Memahami Perilaku Listrik sehari-hari di Rumah

Iklan
%d blogger menyukai ini: