Memasang “Dua” Tangki Air di Rumah

halaman 1 dari 3

Pada dasarnya, menurut saya, teknik pemipaan antara memasang satu dengan dua tangki air adalah mirip. Hanya saja dalam instalasi dua tangki air, wadah yang digunakan untuk menampung air terbagi menjadi dua. Secara praktek, jalur pipa air yang digunakan untuk mengisi dan mengeluarkan air ke dan dari dalam tangki adalah sama. Kita hanya perlu membuat pengaturan aliran air antar tangki agar masing-masing tangki bisa berfungsi, seolah-olah, menjadi satu wadah penampungan air seutuhnya.

Hal yang sebenarnya membedakan antara instalasi satu dengan dua tangki air adalah perbedaan tekanan volume air. Tekanan volume air dalam tangki berkapasitas 1 m³ akan jauh lebih besar daripada tekanan volume air di dua tangki berkapasitas masing-masing 0,5 m³. Secara berat, tidak ada bedanya. Tetapi, efek gravitasi bumi akan memberikan volume air dalam tangki berkapasitas 1 m³ kekuatan tekanan keluaran aliran air jauh lebih deras dibanding volume air yang dibagi dalam dua tangki berkapasitas 0,5 m³.
Memasang "Dua" Tangki Air di Rumah

Instalasi berdasarkan Kebutuhan secara Umum

Memasang dua tangki air untuk satu rumah, bukanlah hal baru. Banyak rumah telah menerapkannya, terutama yang memiliki kondisi distribusi volume air PDAM tidak teratur atau sangat kecil. Secara umum, mayoritas pemasangan dua tangki air bertujuan untuk menyediakan kapasitas cadangan lebih besar guna menampung air yang didistribusikan oleh PDAM. Dengan demikian, volume air yang di distribusikan ke jaringan pipa dalam rumah memiliki konsistensi sama selama selang waktu tertentu.

Instalasi dengan menggunakan dua tangki air tidak harus melulu untuk memenuhi kepentingan dari tujuan menambah cadangan air saja. Bisa juga dimanfaatkan untuk menormalkan kekuatan tekanan air (baik yang terlalu lemah maupun terlalu kuat) atau sebagai model dasar untuk membuat fasilitas penyaringan air. Bahkan, bisa juga dimanfaatkan sekaligus untuk penanganan dari kedua kepentingan tersebut secara bersamaan.

Ada dua teknik pemipaan yang bisa dijadikan acuan untuk diterapkan dalam instalasi dua tangki air, yaitu :

  1. Teknik pemipaan dua tangki di satu lokasi dimana kedua tangki berada di atas satu permukaan yang sama.
  2. Teknik pemipaan dua tangki di satu lokasi namun berada di atas dua permukaan yang berbeda ketinggian.

Penerapan dari kedua teknik pemipaan untuk dua tangki air tersebut, bisa difungsikan secara terpisah (berdiri sendiri) dan juga bisa digabung untuk saling mendukung sebagaimana kondisi dan situasi yang dibutuhkan.

Sebagai opsi untuk memperkuat tekanan / dorongan aliran air yang masuk ke jaringan pipa dalam rumah, saya menggunakan penerapan teknik pemipaan jalur pipa keluaran yang sama dengan yang digunakan untuk instalasi satu tangki air (baca : Memasang Tangki Air di Rumah).
Teknik instalasi dua tangki air secara umum

1. Teknik Pemipaan Dua Tangki Air yang berdampingan

Teknik pemipaan ini, dapat digunakan dalam kondisi seandainya kita hendak menambah kapasitas volume air yang bisa dicadangkan / disimpan dari kapasitas tangki yang telah terpasang sebelumnya. Jadi, kita tidak perlu mengganti tangki yang sudah terpasang. Cukup dengan menambahkan satu unit lagi dan membuat pemipaan antara kedua tangki saling terhubung.

Kapasitas kedua tangki, bisa sama atau pun berbeda besarnya. Kapasitas kedua tangki yang sama besarnya, akan lebih fleksibel dalam pengaturan pemipaan dibandingkan yang berbeda kapasitas. Ini dikarenakan perbedaan fisik tangki dan kekuatan tekanan volume air dalam masing-masing tangki yang saling memengaruhi.

Teknik pemipaan dua tangki air saling berdampinganDalam gambar, saya memosisikan pompa / mesin air terpasang di jalur pipa keluaran tangki sebelah kiri. Pada pipa penghubung antara kedua tangki, dipasangi check-valve (klep satu arah) yang mana berfungsi mengarahkan aliran air agar “hanya” bergerak dari tangki sebelah kanan ke tangki sebelah kiri. Dengan demikian, seandainya ketinggian permukaan air di tangki sebelah kanan lebih rendah dari permukaan air tangki sebelah kiri, maka air dalam tangki sebelah kiri tidak akan balik mengalir ke tangki sebelah kanan. Tujuannya adalah agar volume air di tangki sebelah kiri dapat dipertahankan hanya untuk pemakaian air yang membutuhkan penggunaan pompa (mis. menyalakan water heather untuk mandi). Cara ini, setidaknya, dapat menciptakan kondisi air tetap tersedia saat pompa digunakan / menyala.

Meskipun begitu, tetap terdapat kemungkinan air di tangki sebelah kiri turut mengalir saat terjadi pemakaian air tanpa menyalakan pompa. Hanya saja dalam jumlah yang tidak sebesar dan sekuat aliran dari tangki sebelah kanan. Itu disebabkan keberadaan pompa yang “sedikit” menghambat laju aliran air.

Jadi, selain bisa digunakan untuk menambahkan kapasitas cadangan tempat menyimpan air, teknik pemipaan dua tangki air yang diposisikan secara berdampingan ini juga bisa dimanfaatkan untuk memisahkan cadangan air yang tersedia guna kepentingan pemakaian air yang berbeda.

Seperti pada contoh teknik pemipaan di atas, saya lebih mengutamakan agar ketersediaan air di tangki sebelah kiri tetap terjaga. Hal itu bertujuan mencegah kemungkinan pompa menjadi rusak akibat terlalu lama menyala tanpa suplai air yang memadai untuk dihisap. Sedangkan ketersediaan air dalam tangki sebelah kanan, bisa “sedikit diabaikan” karena ditujukan untuk pemakaian air yang lebih umum, seperti : mencuci tangan, pakaian, piring kotor dsb. Pemakaian air yang demikian, sifatnya tidak berkesinambungan dan tidak membutuhkan debit air yang banyak dalam waktu singkat layaknya mandi menggunakan water heather. Selain itu, air yang terpakai tidak dalam jumlah yang banyak dan akan selalu langsung digantikan dengan air PDAM. Sehingga, meskipun distribusi air PDAM yang masuk ke dalam tangki tidak besar, air dalam tangki sebelah kanan akan relatif tetap penuh.

Jika aliran air dari PDAM terhenti, penyusutan tercepat hanya terjadi pada volume air di tangki sebelah kanan saja. Walau pun tangki sebelah kiri masih bisa mendistribusikan air ke dalam rumah, kita akan merasakan tekanan aliran air yang dihasilkan lebih lemah dibanding tangki sebelah kanan. Setidaknya, kondisi tersebut memberikan tanda / sinyal bahwa volume air di tangki sebelah kanan mulai berangsur habis akibat terhentinya distribusi air dari PDAM. Namun demikian, kita masih memiliki cadangan sisa air yang tersimpan di tangki sebelah kiri.
Memasang Dua Tangki Air yang berdampingan

2. Teknik Pemipaan Dua Tangki Air berbeda ketinggian

Pada teknik pemipaan berikut ini, lebih cocok dikondisikan pada situasi yang berkaitan dengan kekuatan distribusi tekanan air dari PDAM. Baik untuk menangani kasus tekanan air yang terlalu lemah maupun terlalu kuat. Disini, saya menggunakan dua unit RADAR sebagai pemicu “pengatur waktu” air dipindahkan dari tangki bawah ke tangki atas.

Teknik pemipaan dua tangki air berbeda ketinggian

Tepat setelah di bagian pipa keluaran tangki bawah, dipasangi satu unit check-valve yang berfungsi untuk menahan agar air sepanjang pipa penghubung kedua tangki tidak kembali turun. Cara ini, selain “sedikit” menghemat daya setiap kali saat pompa mengisikan air di tangki atas, kekuatan fisik sambungan pipa relatif stabil karena terdapat beban air yang menahan pipa untuk tidak mudah bergerak. Disamping itu, air dalam pipa dapat meredam panas fisik pipa seandainya jalur pipa diletakkan ditempat terjemur matahari.

Dengan terpasang nya RADAR di masing-masing tangki, distribusi air antar tangki akan berlangsung “hanya” jika kedua pemberat dari kedua RADAR telah berada sesuai dengan kondisi yang telah ditentukan. Pompa akan menyala otomatis jika tangki air bawah telah penuh terisi air dan air di tangki atas menyusut hampir habis.

Otomatisasi pengisian air ke dalam tangki seperti itu bukanlah hal rumit. Kita hanya perlu mengetahui untuk menjadikan RADAR berperan sebagai pemicu proses pengisian dan penguras air. Kemudian menempatkan masing-masing unit RADAR pada tangki yang sesuai perannya sebagai pendistribusi dan penerima. Setelah itu, tinggal menyambungkan kabel dari kedua unit RADAR di jalur kabel untuk menyalakan pompa.

Cukup sampai disitu saja langkah yang perlu dikerjakan untuk membuat otomatisasi pengisian air untuk dua tangki air yang berbeda letak posisi ketinggian. Selanjutnya, proses pengisian air dari tangki bawah ke tangki atas akan berjalan tanpa perlu diawasi. Tentu saja dengan syarat : selama tidak terjadi kerusakan pada salah satu / kedua unit RADAR atau pompa.

Skema pemipaan dua tangki yang diposisikan dengan ketinggian berbeda ini, bisa dijadikan dasar untuk mengakomodasi pendistribusian air antar tangki berdasarkan kepentingan yang lebih luas. Tidak terbatas hanya untuk memenuhi kondisi distribusi air antar dua tangki yang diletakkan di atas dua permukaan berbeda saja. Tetapi juga bisa untuk dua tangki di atas permukaan yang sama, namun berjauhan letaknya.
Teknik Kedua : Pemipaan Dua Tangki Air berbeda ketinggian

Sambungan Antar Kabel untuk mem-fungsi-kan Dua RADAR

Sebagaimana telah saya deskripsikan di salah satu artikel mengenai RADAR, saat saklar RADAR difungsikan sebagai penguras, maka pompa akan mati ketika kedua pemberat RADAR dalam kondisi menggantung di atas permukaan air. Pompa akan kembali menyala, jika kedua pemberat RADAR terendam di air.

Sedangkan saat saklar RADAR difungsikan sebagai pengisi, maka pompa akan menyala ketika kedua pemberat RADAR dalam kondisi menggantung di atas permukaan air. Pompa akan kembali mati, jika kedua pemberat RADAR terendam di air.

Berikut ini, saya sajikan dua gambar ilustrasi sambungan antar kabel agar kedua unit RADAR dapat bekerja sesuai fungsinya :

Skema Sambungan Antar Kabel Radar penguras dengan Radar pengisiPada gambar pertama,  diilustrasikan bahwa kabel kedua unit RADAR tersambung di jalur kabel yang menuju pompa. Dengan cara seperti ini, pompa akan tetap mati selama air di tangki atas belum menyusut (habis) dan air di tangki bawah belum terisi penuh. Jadi, pompa “hanya” akan menyala ketika air di tangki atas sudah menyusut (habis) dan air di tangki bawah sudah terisi penuh.

Skema Sambungan Antar Kabel Radar penguras dengan Radar pengisiDi gambar kedua, saya tambahkan sedikit modifikasi berupa saklar lampu yang disambungkan sebelum kabel dari kedua unit RADAR. Dengan cara ini, ketika saklar lampu di posisikan OFF, maka pompa akan mati. Sehingga, apapun respon dari kedua unit RADAR terhadap kondisi naik-turunnya permukaan air di masing-masing tangki, pompa tidak akan melayaninya. Pompa baru akan melayani respon dari kedua unit RADAR setelah saklar lampu di posisikan ON.

Kedua gambar di atas adalah ilustrasi konsep dasar dari cara menyambungkan kabel dari dua unit RADAR yang masing-masing berfungsi sebagai penguras dan pengisi tangki. Bagaimana pun kondisi yang ada di lapangan, dasar cara penerapan konsep tersebut tetap sama.
Sambungan antar kabel untuk mem-fungsi-kan dua RADAR

 

Selanjutnya⇒

Iklan
Iklan

Memahami Perilaku Listrik sehari-hari di Rumah

Iklan
%d blogger menyukai ini: