Emergency Lamp : Baterei Recharge atau Sekali Pakai?

Emergency Lamp Baterei Recharge atau Sekali Pakai?Rasanya untuk saat ini, Emergency Lamp (Lampu Darurat) sudah tidak asing keberadaannya di rumah tinggal pada umumnya. Kondisi siaga menyala ketika listrik mendadak padam di malam hari, menjadikan emergency lamp merupakan perangkat dengan peran tersendiri untuk tetap diperhitungkan keberadaannya di rumah. Tidak seorangpun memiliki harapan untuk mendapatkan kondisi listrik padam setiap hari dirumahnya. Walau pun penggunaan emergency lamp jarang terjadi, akan terasa besar kebutuhannya ketika suasana di dalam rumah mendadak gelap gulita saat terjadi listrik padam.

Sumber daya Emergency Lamp yang umum beredar dipasaran, dilengkapi dengan dua macam jenis baterei. Isi ulang (rechargeable) dan sekali pakai. Sejak ditemukannya tehnologi baterei kering, banyak perangkat elektronik dilengkapi dengan keberadaannya untuk memudahkan dalam / selama pengoperasian. Terutama perangkat yang berhubungan dengan cahaya, seperti senter dan emergency lamp. Keunggulan dari tehnologi baterei kering ini adalah energi listrik yang tersimpan didalamnya dapat diisi kembali jika sudah terpakai. Berbeda dengan baterei sekali pakai, energi listrik akan terus berkurang sesuai pemakaian tanpa bisa di isi kembali.

Namun dalam prakteknya, penggunaan baterei kering / rechargeable battery tidaklah sesempurna teori yang dipublikasikan. Sering kita menemukan kemampuan emergency lamp di rumah berkurang daya tahannya setelah beberapa kali pemakaian. Ini disebabkan karena berkurangnya kemampuan baterei kering didalamnya untuk menyimpan daya sama seperti pertama kali dioperasikan. Apa penyebabnya?
Emergency Lamp : Baterei Recharge atau Sekali Pakai?
Perlakuan baterei isi ulang

Bahan utama baterei kering itu sendiri pada dasarnya berbentuk cairan kental yang biasa disebut dengan gel. Mungkin ada bahan utama baterei kering yang berbeda selain gel, saat ini saya belum mengetahuinya dengan pasti. Pemahaman secara awam, baterei kering apapun bentuk dan kegunaannya adalah baterei yang dapat diisi ulang (recharge). Tidak terlalu penting apa yang menjadi isi dari baterei tersebut.

Ada banyak cara yang disosialisasikan bagaimana memperlakukan pemakaian baterei isi ulang dalam sebuah perangkat elektronik. Dari sekian banyak cara yang pernah saya dengar, ada beberapa teori yang menurut saya dapat diterima dan diterapkan secara umum untuk setiap baterei kering di setiap perangkat elektronik yang menggunakannya. Tujuan dari cara perlakuan pemakaian tersebut adalah untuk mempertahankan kapasitas energi yang dapat disimpan dalam baterei agar tidak banyak berkurang setelah beberapa lama waktu pemakaian.

  1. Mengisi kembali sebelum daya dalam baterei benar-benar kosong.
    Berdasarkan beberapa informasi yang saya peroleh, merupakan hal yang tidak diperkenankan untuk membiarkan isi baterei recharge sering terkuras habis dengan sengaja. Pemakaian baterei recharge hingga dalam keadaan habis total akan mempercepat berkurangnya kapasitas baterei menampung daya saat proses recharge kembali dilakukan.
  2. Menghentikan proses recharge saat indikator baterei sudah penuh.
    Sama halnya dengan kondisi isi baterei yang sering terkuras habis. Kondisi tetap aktif mengisi daya akan menyebabkan kemampuan baterei berkurang. Informasi ini sering diperdengarkan dalam memperlakukan pengisian ulang baterei handphone.
  3. Menghindari tindakan me-recharge terlalu sering saat kondisi baterei belum benar-benar membutuhkannya.
    Kondisi ini biasa terjadi pada handphone yang digunakan fungsinya sebagai modem dengan menggunakan kabel data sebagai penghubung antara komputer dengan handphone. Hingga saat ini, saya belum menemukan software komputer yang dapat mendeteksi kondisi baterei handphone saat difungsikan sebagai modem. Jadi, setiap kali handphone terhubung dengan komputer, otomatis proses recharge akan terjadi tanpa memerdulikan kondisi baterei handphone.
  4. Kualitas bahan produk baterei.
    Apakah kemampuan baterei dipengaruhi juga dengan kualitas bahannya? Bisa jadi. Saya tidak tahu apakah baterei isi ulang dapat dimodifikasi atau tidak kualitas bahannya. Hingga saat ini, beberapa produk baterei isi ulang berkapasitas cukup besar hanya beredar dengan beberapa merk pabrikan saja. Saya rasa, tehnologi ini masih terlalu mahal untuk dibuat tiruannya, sehingga saat membeli akan mendapatkan produk “aspal” kecil kemungkinannya. Namun, ini bukan berarti tidak ada kemungkinan untuk mendapatkan produk bekas yang telah diperbaharui oleh penjualnya.
  5. Kualitas asupan listrik saat me-recharge.
    Selain standar perlakuan dan kualitas bahan, kualitas asupan listrik yang menjadi sumber daya untuk mengisi ulang energi ke dalam baterei juga ikut berperan dalam menentukan kemampuan baterei. Tingkat kestabilan voltase listrik yang baik adalah salah satu kunci menjaga asupan energi listrik saat proses recharge diterima dengan tetap selalu sempurna oleh baterei. Membengkaknya fisik baterei adalah salah satu akibat yang ditimbulkan dari ketidakstabilan asupan listrik pada saat proses isi ulang dan… lagi-lagi kejadian ini sering terjadi pada perangkat handphone.
  6. Membiarkan baterei dalam kondisi hanya terisi 1/2 dari kapasitasnya jika hendak diistirahatkan dalam waktu lama. Metode ini belum lama saya ketahui. Saya tidak mengerti apa yang menyebabkannya harus seperti itu. Satu unit baterei handphone pernah saya kondisikan demikian secara tidak sengaja. Baterei pun berfungsi normal (kondisi siaga / talk time) ketika 2 tahun kemudian handphone diaktifkan kembali. Informasi ini juga saya peroleh untuk memperlakukan baterei laptop.

Beberapa cara memperlakukan baterei kering di atas tidak terbatas untuk satu perangkat elektronik saja. Ada beberapa perangkat elektronik berbeda yang memiliki kesamaan perlakuan baterei kering yang melengkapinya. Asumsi saya untuk saat ini, logika penerapan tehnologi baterei kering adalah sama untuk setiap perangkat elektronik yang menggunakannya. Perbedaannya hanya pada kemasan fisik luar dan bentuk baterei saja.
Perlakuan baterei isi ulang
Perlakukan baterei sekali pakai

Tidak banyak hal yang dapat dikerjakan untuk mempertahankan energi dalam sebuah beterei sekali pakai. Saya kurang mengetahui faktor yang menjadikan sebuah produk baterei sekali pakai dapat bertahan lebih baik atau tidak. Dari pengalaman yang ada, kemampuan dan daya tahan fisik luar baterei dalam mencegah kebocoran saat pemakaian adalah salah satu indikator kualitas baterei. Semakin baik kualitas fisik luar mencegah kebocoran isi baterei, semakin tinggi kualitas kemampuan baterei dalam menyimpan daya.

Beberapa informasi yang saya peroleh, dalam prakteknya, dikatakan baterei jenis ini pun dapat diisi ulang dengan menggunakan perangkat isi ulang dari baterei recharge. Benar atau tidaknya, saya belum pernah mencobanya. Jika dilihat dari kondisinya, fisik luar baterei sekali pakai akan berangsur melemah / rusak seiring dengan lama pemakaian. Dengan kondisi seperti itu, bukan tidak mungkin baterei tidak dapat direcharge setelah satu kali pemakaian. Namun, kemungkinan baterei menjadi bocor saat pemakaian setelah proses recharge menjadi taruhan penyebab kerusakan perangkat elektronik yang menggunakannya. Saya cenderung untuk menggantinya dengan yang baru jika memang baterei sekali pakai ini sudah dalam kondisi mengharuskan diganti. Melakukan pemeriksaan kondisi baterei yang terpasang dalam perangkat elektronik setiap satu tahun sekali merupakan hal seharusnya dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik luar baterei. Cara ini akan meminimalisir kemungkinan terjadinya kebocoran isi baterei untuk membuat perangkat elektronik yang menggunakannya menjadi rusak.
Perlakukan baterei sekali pakai
Emergency Lamp dengan baterei recharge

Kualitas emergency lamp saat pemakaian, sangat bergantung dari kualitas lampu dan ketahanan baterei didalamnya. Tehnologi lampu saat ini sudah berkembang semakin tinggi dengan mengedepankan fokus pada kualitas cahaya lebih terang namun sedikit pemakaian energi. Jika kita menemukan harga cukup tinggi pada sebuah produk emergency lamp, tehnologi lampu dan daya tahan baterei yang merupakan penyebab utamanya.

Tehnologi perangkat emergency lamp, memang sengaja dibuat untuk menghadapi kondisi darurat yang dialami saat listrik mendadak padam. Untuk itu, emergency lamp harus selalu dalam kondisi siaga (standby). Ini menyebabkan emergency lamp harus selalu terhubung dengan instalasi listrik di rumah agar saat listrik padam dapat terdeteksi. Ketika listrik menyala, proses isi ulang baterei otomatis terjadi. Pada saat baterei sudah terisi penuh (full), proses pengisian secara otomatis akan berhenti dan beralih pada kondisi siaga. Jadi, tidak perlu ada kekhawatiran terhadap kerusakan baterei akibat terlalu lama di recharge. Saya tidak tahu jika ada produk emergency lamp yang tanpa dilengkapi fitur otomatis penghentian mengisi daya saat baterei sudah terisi penuh. Kalau memang ada yang demikian atau seperti itu semua tehnologi dari produk emergency lamp, sebaiknya cukup membeli produk berharga murah saja.

Proses recharge saat baterei dalam kondisi belum benar-benar membutuhkan, pasti akan terjadi pada emergency lamp. Walau pun tindakan ini dapat membuat kemampuan baterei berkurang, kondisi tersebut lebih ditentukan berapa sering frekuensi listrik padam yang terjadi. Semakin sering, semakin cepat berkurangnya kemampuan baterei.

Baterei recharge pada emergency lamp dalam kondisi baru, paling lama bertahan yang saya ketahui adalah 16 jam. Setelah itu mati total. Jika listrik masih tetap padam setelah 16 jam, apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan penerangan? Kembali pada filosofi dari keberadaan emergency lamp itu sendiri sebagai penerangan alternatif / darurat ketika dan beberapa saat setelah listrik padam. Bukan selama listrik padam. Sehingga, untuk tetap mendapatkan penerangan alternatif selama listrik padam, tetap harus disediakan penerangan alternatif selain dari emergency lamp karena keterbatasan waktu daya yang dimilikinya.
Emergency Lamp dengan baterei recharge
Emergency Lamp dengan baterei sekali pakai

Sebenarnya, tidak ada emergency lamp dengan fitur baterei sekali pakai. Lampu penerangan alternatif yang menggunakan baterei sekali pakai lebih dikategorikan sebagai lampu senter atau lampu penerangan saat berkemah (camp lamp). Jika dibandingkan dengan emergency lamp, camp lamp memiliki kemampuan penggunaan energi lebih irit. Selain dibuat untuk kondisi di tempat yang sama sekali tidak memiliki sumber daya, fitur tipe penerangan camp lamp lebih bervariasi daripada emergency lamp.

Memiliki camp lamp sebagai penerangan alternatif di sebuah rumah, bagi saya, adalah sebuah keharusan sebagai pengganti dari emergency lamp. Camp lamp dapat beroperasi normal lebih lama daripada emergency lamp. Kehabisan energi bukanlah masalah selama baterei pengganti tersedia. Saat tidak digunakan, baterei dapat dilepaskan agar kondisi “battery compartment” (tempat meletakkan baterei) tetap aman dari kebocoran. Masalah terbesar adalah harga baterei sekali pakai yang berkualitas bagus cukup mahal. Sama seperti perangkat camp lamp, harganya relatif lebih mahal daripada emergency lamp.
Emergency Lamp dengan baterei sekali pakai
Pentingnya keberadaan penerangan alternatif di sebuah rumah

Produk emergency lamp seperti apa yang sepantasnya ada di rumah? Sebenarnya, hal ini lebih pada kebutuhan lingkungan akan emergency lamp itu sendiri. Kebutuhan pencahayaan yang selalu siaga saat listrik mendadak padam sangat tergantung dari situasi dan kondisi sebuah rumah. Terutama pada rumah yang memiliki penghuni orang sakit, manula atau balita (bayi). Keberadaan emergency lamp akan sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan tidak menentu yang sering terjadi pada mereka di saat kondisi listrik mendadak / sedang padam.

Namun, apapun kondisi yang ada, tetap saja pada akhirnya kebutuhan akan penerangan saat listrik padam lebih ditekankan pada lamanya waktu bertahan nyala lampu penerangan pengganti. Bukan sesaat atau tidak lama setelah listrik padam saja. Mematikan emergency lamp saat kondisi darurat telah teratasi kemudian dialihkan (dan tetap) menggunakan camp lamp sementara kondisi listrik masih padam adalah cara terbaik untuk menghindari baterei recharge pada emergency lamp total kehabisan daya. Cara ini dapat mempertahankan kemampuan baterei emergency lamp untuk tetap dapat menyala dalam waktu relatif cukup lama setiap terjadi listrik padam. Tentu saja, emergency lamp harus kembali diaktifkan / disiagakan setelah listrik menyala agar terjadi proses isi ulang baterei untuk menggantikan energi yang terpakai saat listrik padam.

Demikian juga halnya jika anda hendak bepergian dan meninggalkan rumah dalam keadaan kosong untuk waktu cukup lama. Lebih baik anda mematikan emergeny lamp sebelumnya agar saat terjadi listrik padam dalam waktu cukup lama, baterei emergency lamp tidak terkuras habis.

Semoga bermanfaat…!

Artikel terkait :

Pentingnya keberadaan penerangan alternatif di sebuah rumah

Iklan