halaman 3 dari 5

Ukuran suasana terang

Pada dasarnya, persepsi dan rasa dari satu kondisi / suasana terang sangat variatif. Makna kata “cukup terang” bagi seseorang, bisa berarti “redup” bagi orang lainnya.

Menurut ukuran saya, makna kata “cukup terang” adalah masih dapat mengenali dengan baik bentuk dan warna benda di dalam ruangan, namun kurang baik untuk digunakan pada aktivitas membaca. Sedangkan makna kata “terang” adalah suasana dimana aktivitas membaca tulisan-tulisan kecil di koran / majalah masih dapat dilakukan dengan nyaman dan normal.

Pada cerita selanjutnya di bawah ini, batas acuan kondisi pencahayaan ruangan yang disebut “cukup terang” atau “terang”, akan mengacu seperti yang telah dideskripsikan di atas.

Selera dan Kebiasaan dalam beraktivitas

Selera dan kebiasaan merupakan faktor penentu terbentuknya kondisi dan suasana ruangan / rumah tempat tinggal seseorang. Hal inilah yang membuat perbedaan model pencahayaan dalam sebuah / beberapa ruangan antara satu rumah dengan lainnya.

Bagi saya, antara waktu pukul 16.00 hingga 22.00, sebuah ruangan / kamar sudah selayaknya memiliki cahaya cukup terang didalamnya (kecuali kamar mandi). Kondisi ini membuat satu rasa nyaman untuk tidak merasakan perubahan suasana di sore hari secara signifikan. Secara psikologis, hal ini membuat waktu dan hari yang sudah menjelang malam tidak menjadi beban / halangan untuk tetap melakukan aktivitas di dalam rumah.

Untuk menciptakan suasana seperti ini, saya meletakkan minimal 1 unit rumah lampu downlight berisi lampu LED @5Watt dalam setiap kamar yang selalu menyala bersamaan dengan lampu di ruangan lain mulai pukul 16.00 hingga 22.00. Menjadikan suasana pencahayaan seperti ini, membutuhkan perencanaan posisi rumah lampu downlight yang cukup realistis karena akan sangat menentukan terhadap efisiensi pemakaian daya listrik yang digunakan.

Jadi, dimana posisi terbaik rumah lampu downlight diletakkan untuk mendapatkan pencahayaan yang cukup efektif dalam sebuah area / ruangan?

Pencahayaan mayoritas ruangan dalam rumah pada umumnya

Karena sifatnya yang personal, tidak ada jawaban yang pasti mengenai bagaimana dan dimana posisi downlight diletakkan. Secara garis besar, aturan posisi downlight yang saya terapkan di rumah, mengacu pada aturan dan perhitungan sebagaimana yang disampaikan di artikel Menentukan Ukuran Proporsional / Estetika

Namun begitu, saya menambahkan aturan tambahan sendiri yang mengacu pada efisiensi pemakaian daya lampu. Caranya dengan memosisikan salah satu unit downlight tepat (mendekati) diatas tempat aktivitas tertinggi dan terendah dalam ruangan. Dengan demikian, meskipun jumlah unit downlight yang digunakan sama di semua ruangan dalam rumah, salah satu dari jumlah tersebut pasti ada yang tidak “sinkron” letaknya.

Saya mengkategorikan dengan istilah primer (utama) untuk downlight di area tempat aktivitas berintensitas tinggi (yang tidak sinkron letaknya) dan sekunder (pelengkap) untuk downlight di area tempat aktivitas berintensitas rendah (yang sesuai letaknya).

Downlight berkategori primer umumnya diletakkan di atas dekat meja belajar / kerja, pintu lemari pakaian, sofa ruang keluarga, dsb. Posisi ini, umumnya, memiliki satu kesamaan letak yaitu tidak jauh dengan dinding atau sudut ruangan.

Downlight berkategori sekunder cenderung berfungsi hanya sebagai penyeimbang efek pencahayaan dari downlight primer agar lebih merata dalam sebuah ruangan. Jumlahnya bisa lebih dari satu titik cahaya. Intinya, membuat suasana ruangan “cukup terang” yang dihasilkan dari downlight primer menjadi “terang”.

Masing-masing kategori downlight tersebut, memiliki saklar tersendiri. Sehingga, saat suasana “terang” dalam ruangan tidak dibutuhkan lagi, saya dapat mematikan downlight sekunder.

Dengan mem-peta-kan beberapa lampu dalam sebuah ruangan seperti itu, akan diperoleh kemudahan dari dua pengaturan, yaitu : tingkat pencahayaan dan efisiensi daya. Kondisi pencahayaan “cukup terang” atau “terang” dalam ruangan dapat diatur hanya dengan menyala-matikan salah satu saklar lampu. Dengan demikian, pemakaian daya untuk pencahayaan dapat menjadi lebih efisien, karena dapat disesuaikan dengan tingkat aktivitas yang berlangsung dalam ruangan.

Metode mem-posisi-kan downlight berdasarkan kategori seperti diatas, dapat digunakan untuk mengakomodasi pencahayaan yang lebih merata pada hampir di setiap ruangan berbeda dalam satu rumah, kecuali area dapur. Dapur, merupakan area dengan kebutuhan pencahayaan tersendiri yang juga memiliki kebutuhan untuk mengakses aliran listrik (stopkontak) dengan mudah. Oleh sebab itu, membuat kondisi suasana dapur yang ideal memerlukan perencanaan, perhatian dan pembiayaan lebih tinggi dibandingkan ruangan lainnya.

Pencahayaan khusus untuk area dapur

Ada konsep yang menerapkan area dapur menjadi dua kondisi, yaitu : dapur basah dan dapur kering. Kedua kondisi ini sering diistilahkan sebagai dapur kotor (basah) dan dapur bersih (kering). Secara pribadi, saya tidak melihat penerapan konsep ruang dapur seperti itu dapat memberi manfaat lebih untuk kepentingan efektifitas beraktivitas dan efisiensi pemakaian energi di area dapur. Menurut saya, dapur adalah sebuah tempat yang relatif cepat kotor. Merupakan sebuah konsekuensi jika area dapur harus lebih sering dibersihkan karena disitulah tempat sumber pengolahan makanan di sebuah rumah (mulai dari bahan mentah hingga menjadi sampah).

Disini, saya hanya membahas pencahayaan untuk dapur gabungan (basah dan kering). Karena, dapur seperti itu sifatnya lebih umum dan diterapkan di kebanyakan rumah tinggal.

Secara konsep pencahayaan di dapur, bisa dibilang tidak jauh berbeda. Hanya saja, kalau di dapur, ada beberapa aktivitas yang dikerjakan sekaligus. Dengan demikian, ada beberapa titik cahaya yang sengaja harus dipasang tidak “sinkron” mengikuti tempat dimana aktivitas-aktivitas itu dikerjakan.

Ada empat aktivitas dasar yang pasti terjadi di dapur, yaitu : menyiapkan bahan dasar, mencuci bahan (bathsink), menyiapkan bahan yang hendak dimasak dan (terakhir) tempat memasak (kompor).

Kita perlu meletakkan satu titik cahaya “cukup terang” di setiap tempat yang bakal menjadi tempat aktivitas memasak tersebut. Sehingga saat mengerjakan keseluruhan proses memasak, selalu ada dukungan cahaya lebih terang di setiap tempat dimana aktivitas yang sedang fokus dikerjakan.

Tinggal kemudian kita kategorikan mana diantara keempatnya yang harus tetap menyala (primer) dan mana yang harus dimatikan (sekunder). Atau, bisa juga keempatnya dibuat sekunder, lalu dibuat tambahan titik lampu kelima yang dikategorikan primer. Ini berfungsi mengakomodasi aktivitas ringan di dapur atau saat aktivitas memasak sudah selesai dilakukan.

Selanjutnya : Mengganti saklar lampu dengan timer…⇒