Menentukan ukuran Proporsional / Estetika

halaman 3 dari 4

Cara penerapan sistem “Potongan Kencana”

Di bawah ini saya sertakan contoh kasus dan ilustrasi cara penerapan sistem “Potongan Kencana” yang pernah saya kerjakan di rumah :

1. Memosisikan saklar lampu di dinding

Contoh termudah untuk diingat dan dikerjakan dari penggunaan sistem “Potongan Kencana” adalah menentukan letak tinggi sebuah titik saklar lampu di dinding. Nilai awal yang menjadi penentu untuk mendapatkan hasil ukuran proporsional adalah nilai rata-rata tinggi tubuh dari penghuni rumah. Misalnya tinggi ukuran tubuh rata-rata penghuni dewasa di sebuah rumah adalah 170 cm. Maka nilai 170 cm inilah yang dijadikan nilai penentu untuk mendapatkan ukuran proporsional dari letak saklar lampu di dinding.

Hitungannya menjadi :

170 x 0,618 = 105.06 cm
dan
170 x 0,382 = 64,94 cm

Karena posisi yang dihasilkan kedua nilai (64,94 cm dan 105,06 cm) itu terlalu rendah untuk dijadikan ukuran proporsional saklar lampu bagi orang dewasa, kita bisa membuat “turunan” dari kedua nilai tersebut menjadi :

Nilai pertama :

105,06 x 0,618 = 64.93
dan
105,06 x 0,382 = 40.13

Nilai kedua :

64,94 x 0,618 = 40,13
dan
64,94 x 0,382 = 24,80

Dengan demikian, kita memiliki tiga titik nilai ukuran proporsional untuk ukuran tinggi 170 cm, yaitu : 64,93 cm ~ 105,06 cm ~ 145,19 cm (105,06 + 40,13).

Ilustrasi gambarnya dapat anda lihat di bawah ini :

Dari beberapa kasus terkait ukuran proporsional yang pernah saya kerjakan, nilai “turunan” hasil dari ukuran proporsional pertama, sudah bisa dijadikan sebagai nilai akhir yang cukup ideal. Jarak tinggi 145,19 cm (dibulatkan menjadi 145 cm) dari permukaan lantai, merupakan posisi cukup ideal untuk saklar lampu bagi orang dengan tinggi badan 170 cm (kira-kira setinggi bahu).

2. Memosisikan rumah lampu

Sistem Potongan Kencana ini, dapat juga digunakan untuk menentukan posisi rumah lampu, seperti downlight. Mirip dengan contoh menghitung posisi tinggi saklar lampu di atas, namun yang menjadi nilai penentu adalah jarak panjang dan lebar dari bidang plafon. Bentuk bidang plafon rumah pada umumnya berbentuk “empat persegi panjang”. Sehingga, untuk menentukan nilai awal perhitungan, kita harus merata-ratakan kedua ukuran panjang bidang tersebut.

Misalnya, kita hendak menempatkan 4 (empat) unit rumah lampu downlight pada bidang plafon berukuran 4 meter x 3 meter. Maka, yang menjadi nilai penentu untuk dihitung ukuran proporsional-nya adalah : (400 + 300) / 2 = 700 / 2 = 350 cm atau 3,5 meter.

Perhitungan-nya adalah :

= 350 x 0,618
= 216,3

dan

= 350 x 0,382 =
= 133,7

Kemudian, kita “pecah” kedua nilai tersebut menjadi 4 nilai untuk mendapatkan 3 ukuran proporsional :

– angka 216,3 menjadi 133,7 dan 82,6
– angka 133,7 menjadi 82,6 dan 51,1

Dengan demikian, kita memiliki tiga ukuran proporsional yang dapat digunakan untuk menempatkan titik lampu pada bidang plafon berukuran 4 x 3 meter, yaitu : 133,7 ~ 216,3 ~ 298,9.

Sekarang, ketiga nilai ukuran proporsional tersebut kita gambarkan dalam satu garis lurus adalah sbb. :

Lalu, kita implementasikan ukuran proporsional itu menjadi untuk memosisikan empat titik lampu.

Ilustrasinya seperti gambar di bawah ini :

Ukuran proporsional tersebut, bisa juga digunakan untuk memosisikan dua titik lampu pada luas bidang yang sama. Di bawah ini, disertakan dua gambar ilustrasi dengan kondisi dasar posisi rumah lampu yang berbeda, yaitu : memanjang dan melebar.

3. Memosisikan lukisan

Cara menentukan posisi tinggi lukisan di dinding dengan menggunakan sistem “Potongan Kencana” adalah mirip dengan cara perhitungan yang sebelumnya dikerjakan pada kasus menentukan tinggi saklar lampu di atas.

Hanya saja, nilai awal penentu ukuran proporsional ditentukan dari tinggi bidang kosong pada dinding tempat lukisan hendak di gantungkan dikurangi ukuran tinggi lukisan.

Asumsikan ukuran bidang kosong dimana lukisan yang hendak diletakan berukuran sama dengan contoh ukuran plafon di atas yaitu panjang 4 meter dan tinggi 3 meter. Ukuran tinggi lukisan yang hendak digantung adalah 75 cm (0,75 m). Jadi, terdapat bidang kosong setinggi 225 cm (300 cm – 75 cm) yang akan menjadi tempat dimana lukisan menggantung.

Hitungannya menjadi :

= 225 x 0,618
= 139,05

nilai turunan dari 139,05 adalah :

= 139,05 x 0,618
= 85,95

dan

= 139,05 x 0,382
= 53,1

dan

= 225 x 0,382
= 85,95

nilai turunan dari 85,95 adalah :

= 85,95 x 0,618
= 53,1

dan

= 85,95 x 0,382
= 32,85

Jadi, hasil akhir ukuran proporsional untuk bidang berukuran tinggi 225 cm adalah : 85,95 cm ~ 139,05 cm ~ 192,15 cm. Posisi lukisan ditempatkan berdasarkan bagian tepi-atas “frame” lukisan dengan nilai 192,15 cm. Sedangkan untuk posisi tepi kiri dan kanan lukisan, tergantung dari lebar lukisan berbanding area dinding yang kosong. Bisa dengan memosisikan tepat di tengah atau menghitung ukuran proporsional baru dengan nilai panjang dinding yang kosong dikurangi ukuran panjang lukisan.

4. Memosisikan mini-ceiling-fan

Di salah satu artikel yang membahas mengenai sirkulasi udara di rumah, saya menceritakan tentang memosisikan mini-ceiling-fan dalam sebuah ruangan. Beberapa posisi telah saya coba agar hembusan udara yang dihasilkan mini-ceiling-fan dapat menyebar merata ke seluruh ruangan. Hingga akhirnya, posisi terbaik untuk itu adalah posisi yang mirip dengan titik yang dihasilkan dari perhitungan sistem “Potongan Kencana”.

Pada saat melakukan pencarian untuk penentuan posisi mini-ceiling-fan, saya sama sekali melupakan keberadaan sistem “Potongan Kencana”. Saat itu, saya beranggapan bahwa posisi mini-ceiling-fan yang berada di atas ruangan, secara otomatis akan membuat sebaran angin merata ke seluruh ruangan. Dan ternyata, anggapan itu sama sekali salah

Walau pun akhirnya posisi terbaik ditemukan tanpa menggunakan sistem “Potongan Kencana”, ada pelajaran berharga yang saya peroleh dari pengalaman itu. Penerapan dari nilai / ukuran proporsional yang dihasilkan dari sistem “Potongan Kencana”, memiliki efek lebih luas daripada hanya sekedar ukuran proporsional biasa. Dalam kasus ini, saya mendapatkan adanya satu keselarasan antara perputaran udara, bentuk ruang dan posisi kipas angin.

 

 

Selanjutnya⇒

Memahami Perilaku Listrik sehari-hari di Rumah

%d bloggers like this: