Menentukan ukuran Proporsional / Estetika

halaman 2 dari 4

Ukuran proporsional berdasarkan sistem Potongan-Kencana

Jadi, intinya adalah bagaimana caranya mengetahui nilai / ukuran proporsional yang hendak kita digunakan agar tercipta keadaan ergonomis? Selain menggunakan ukuran proporsional berdasarkan sistem modular dari tabel Le Corbusier, ada cara lain yang dapat digunakan dan dikenal dengan sebutan sistem “Potongan Kencana“.

Dengan sistem “Potongan Kencana”, kita harus melakukan perhitungan sendiri untuk mendapatkan nilai / ukuran proporsional. Walau sedikit rumit, cara ini menawarkan alternatif nilai yang hendak dijadikan penentu hasil ukuran proporsional mendekati kondisi fisik yang kita miliki. Sehingga, ukuran proporsional yang dihasilkan pun menjadi lebih spesifik dibanding dengan tabel Le Corbusier yang menggunakan dasar ukuran fisik rata-rata orang Eropa.

Sistem “Potongan Kencana”, saya peroleh dari sebuah buku berjudul “Teknik Mendesain Perabot Yang Benar“. Awalnya, kepentingan saya menggunakan buku tersebut adalah sebagai acuan dalam membuat perabot di rumah sendiri, seperti : lemari pakaian, meja sudut, meja kerja dsb. Mulai dari membuat desain hingga akhirnya berbentuk barang-jadi / siap pakai. Tindakan tersebut terpaksa dikerjakan karena kondisi rumah siap-huni dimana saya tinggal, memiliki tata-ruang yang sulit untuk diisikan perabot siap-pakai sebagaimana banyak di jual di pasaran.

Selama menggunakan sistem “Potongan Kencana” sebagai penentu ukuran dasar fisik dari perabot yang hendak dibuat, saya menemukan bahwa cara itu tidak hanya bisa digunakan untuk menentukan bentuk dan ukuran sebuah lemari / meja sudut dalam sebuah ruangan. Tetapi juga bisa dipakai untuk menentukan posisi letak sebuah benda dalam sebuah ruang, seperti posisi down-light, saklar lampu, stop kontak dan (bahkan) lukisan di dinding.

Pemakaiannya cukup fleksibel dan mudah diterapkan pada kebanyakan kasus sehari-hari di rumah. Selain itu, hanya dua angka / bilangan yang harus diingat, yaitu : 0,618 dan 0,382. Karena hanya menggunakan dasar “dua angka / bilangan” inilah yang membuat saya sangat menyukai untuk menggunakan sistem Potongan Kencana.

Konsep mendapatkan ukuran proporsional dari sistem ini adalah dengan membagi sebuah ukuran menggunakan dua nilai tersebut. Misalnya, kita hendak menentukan ukuran proporsional dari tinggi 100 cm atau 1 meter. Maka, kita bisa membaginya menjadi dua ukuran, yaitu :

= 100 x 0,618
= 61,8 cm

dan

= 100 x 0,382
= 38,2 cm.

Uniknya, kedua nilai dari hasil perhitungan (61,8 cm dan 38,2 cm), dapat di-“pecah” atau memiliki “turunan” yang diperoleh dengan cara sama seperti mendapatkan kedua nilai tersebut. Yaitu, membagi masing-masing nilai menggunakan bilangan 0,618 dan 0,382.

Sehingga, “turunan” ukuran proporsional dari nilai 61,8 adalah :

= 61,8 x 0,618
= 38.19 cm

dan

= 61,8 x 0,382
= 23.61 cm.

Sedangkan “turunan” ukuran proporsional dari nilai 38,2 adalah :

= 38,2 x 0,618
= 23,61 cm

dan

= 38,2 x 0,382
= 14,59 cm.

Kemampuan menghasilkan nilai “turunan” yang demikian, menjadikan sistem ini bersifat fleksibel untuk digunakan dan diterapkan pada banyak kasus. Seperti contoh kasus menentukan ukuran proporsional dari tinggi 100 cm di atas, kita mendapatkan 3 (tiga) titik ukuran proporsional, yaitu : 38,19 ~ 61,8 ~ 85,41.

Ilustrasi yang cukup mudah untuk mengingat konsep dasar sistem “Potongan Kencana” adalah dengan menggunakan gambar batang tanaman seperti di bawah ini :

ukuran.kepantasan.batang.tanaman.small
Ukuran proporsional berdasarkan sistem Potongan-Kencana

 

Selanjutnya⇒

Memahami Perilaku Listrik sehari-hari Rumah

%d blogger menyukai ini: