halaman 2 dari 3

Skema pemipaan Satu Tangki Air

Dari beberapa kasus posisi ketinggian kurang dari 7 meter yang telah dinyatakan di atas, saya menemukan dibutuhkannya teknik pemipaan secara terpisah antara jalur pipa dengan pompa dan jalur pipa tanpa pompa. Karena kecenderungan tujuannya hanya untuk menyalakan water heater, berarti, tidak selalu pemakaian air yang terjadi harus melibatkan nyala pompa air di dalamnya.

Di bawah ini adalah ilustrasi gambar skema pemipaan untuk instalasi dasar satu tangki air yang diterapkan di dak rumah saya sebelum digabung dengan Tangki PVC 10″ :

Pada teknik pemipaan ini, saya memasangkan dua unit “check-valve (klep satu arah). Satu di bagian keluaran pompa air dan lainnya di bagian yang tanpa pompa air. Cara kerja kedua check-valve ini sangat sederhana, yaitu pada saat air digunakan di salah satu jalur keluaran pipa, maka check-valve di jalur pipa keluaran lainnya akan otomatis menutup. Dengan demikian, kekuatan arus tekanan air yang dihasilkan tidak terpecah.

Skema pemipaan ini bisa diterapkan pada posisi rentang antara ketinggian tangki dengan keran keluaran air dalam rumah di bawah 7 meter. Atau, pada semua kondisi dimana kekuatan tekanan air yang dihasilkan dari tangki air tidak dapat digunakan untuk menyalakan water heater. Dan, memang itu yang menjadi tujuan utama dari dibuatnya model pemipaan seperti ini. Jadi, saat pemakaian water-heater sudah / memang tidak dibutuhkan, aliran listrik pompa dapat dimatikan.

Sebenarnya, bisa saja hanya dengan menggunakan satu pipa untuk jalur keluaran air dari tangki melalui pompa dan langsung di alirkan ke dalam rumah. Saat pompa dalam keadaan mati, air masih bisa mengalir. Namun, kekuatan tekanan air yang dihasilkan sangat lemah.

Perbedaan dibanding aliran air tanpa melalui pompa, kira-kira hampir setengah kekuatan tekanan aliran air yang berkurang. Kelemahan tersebut, mungkin, disebabkan karena posisi ketinggian permukaan tempat pompa diletakkan sama dengan posisi ketinggian tangki air. Selain itu, tingkat kelancaran aliran air yang terlebih dulu masuk ke dalam pompa, memiliki pengaruh cukup besar.

Di jalur pipa yang mengarah masuk dan keluar pompa air, saya memasangkan dua unit “gate-valve” (stopkran). Fungsi utamanya untuk menutup jalur aliran air saat kondisi pompa perlu diperbaiki. Memang, kita tidak pernah tahu kapan waktu terjadinya pompa air memerlukan perbaikan / rusak. Lagipula, tidak ada yang mengharapkan hal seperti itu akan terjadi. Tindakan pemasangan kedua unit gate-valve itu, semata-mata, bertujuan untuk mempermudah seandainya kondisi pompa perlu di perbaiki / diganti.

Teknik pemipaan seperti ini sangat sederhana dan mudah untuk dikerjakan sendiri. Kita hanya perlu berpedoman jalur pipa dari masing-masing keluaran setelah unit check-valve saja. Dengan begitu, pemasangan pipa di kondisi lapangan yang serumit apapun, hasilnya akan tetap sama. Selain sangat mudah dimodifikasi sesuai dengan kondisi di lapangan, teknik pemipaan ini bisa digunakan sebagai dasar pemipaan pada instalasi “lebih dari satu” tangki air.

Seandainya anda berniat mengadopsi teknik pemipaan di atas pada instalasi tangki air di rumah, hal yang perlu di perhatikan hanyalah arah aliran dari check-valve yang terpasang di masing-masing pipa keluaran. Jika terbalik memasangnya, maka air di jalur keluaran tersebut tidak akan mengalir.

Saya juga telah menerapkan teknik pemipaan ini di dua lokasi dan kondisi berbeda, yaitu : di rumah berlantai satu dan berlantai dua. Posisi tangki dan pompa air berada pada “dak” masing-masing rumah. Di jalur kabel listrik pompa, dipasang saklar tunggal yang letaknya di dekat pintu masuk ke kamar mandi. Sehingga, pompa bisa dikondisikan hanya untuk penggunaan water-heater saja. Pada rumah berlantai dua, pompa hanya difungsikan ketika hendak menggunakan water-heater di kamar mandi lantai kedua saja.

Menara atau Dak Rumah?

Di bawah ini saya sajikan dua gambar ilustrasi peletakkan tangki air. Pertama diletakkan di menara dan kedua di dak rumah.

Dari kedua gambar, kita bisa langsung mendapat gambar perbandingan untuk merencanakan peletakan tangki air sesuai kondisi yang ada di rumah. Masalah perawatan dan pemeliharaan tangki air terlihat lebih mudah dikerjakan pada tangki yang diletakkan di dak rumah. Tidak dibutuhkan ekstra-keberanian untuk bisa “ber-tengger” dengan tenang di ketinggian seperti di atas menara air saat mengerjakan perawatan dan pemeliharaan tangki.

Keberadaan menara, bisa menjadi pilihan seandainya tidak terdapat “dak” terbuka di bagian atas rumah. Dengan menara setinggi sama dengan ketinggian atap rumah (3 s/d 4 meter dari permukaan tanah) yang dilengkapi pompa untuk memperkuat tekanan air saat dibutuhkan (sebagaimana gambar ilustrasi di atas), dapat lebih mempermudah dalam mengakomodasi pemakaian air sehari-hari di rumah untuk kebutuhan apapun. Konsumsi listrik pompa dapat dibatasi hanya untuk kebutuhan pemakaian air bertekanan tinggi saja. Cara yang sama juga bisa diterapkan pada setiap tangki air yang diletakkan di dak rumah (dengan atau tanpa menara).

Teknik pemipaan untuk memperkuat tekanan air ke jaringan pipa dalam rumah sebagaimana yang telah dideskripsikan di atas, memiliki fleksibilitas yang baik dalam mengakomodasi di kedua kondisi peletakan tangki seperti terlihat di kedua gambar ilustrasi. Dengan demikian, kita bisa lebih leluasa dalam menentukan letak posisi ketinggian tangki sesuai dengan batas keahlian kita untuk melakukan perawatan dan pemeliharaan tangki secara mandiri.

Fokus dari teknik pemipaan tangki yang seperti ini, bertujuan agar kita bisa mengatur kekuatan keluaran tekanan air dari keran sesuai kebutuhan. Karena, untuk sebagian besar pemakaian air sehari-hari di rumah, boleh dibilang, “nyaris” tidak dibutuhkan kekuatan tekanan air yang besar. Kekuatan tekanan air yang tidak besar, lebih mendukung untuk kita bisa menghemat pemakaian air sehari-hari dengan lebih baik secara alami.

Selanjutnya : Pilihan jenis Tangki, Pipa dan Pompa Air ⇒

Leave a Reply

Your email address will not be published.