Memasang “Dua” Tangki Air di Rumah

halaman 3 dari 3

“Dua” Tangki Air dan Kondisi Tidak Ideal

Sengaja membuat / menyediakan fasilitas untuk menangani kebutuhan cadangan air bersih secara khusus di rumah, saat ini masih merupakan tindakan “janggal” bagi sebagian besar orang. Keberadaan Tangki-Pengalih atau Tangki-Tanam, lebih dianggap sebagai sebuah pemborosan atau tindakan yang sia-sia. Anggapan seperti itu ada benarnya jika ternyata situasi yang ada bisa terpenuhi cukup dengan menggunakan satu tangki air yang diletakkan di atas rumah.

Melakukan perawatan dan pemeliharaan dua penampungan air di dua tempat berbeda dalam satu rumah, memang bukan tindakan yang menyenangkan. Selain harus dikondisikan untuk tetap bersih agar kelancaran aliran air dalam pipa tetap terjaga, keduanya harus tetap digunakan sebagaimana fungsinya agar perangkat pemipaan (termasuk fisik tangki air itu sendiri) tidak lekas menjadi gugus.

Rasa janggal, pemborosan dan kesulitan dalam pemeliharaan dua tangki air sekaligus adalah benar jika disandingkan pada kondisi distribusi air setiap hari yang ideal dari PDAM.

Kenyataannya, tidak semua area pemukiman bisa mendapatkan kondisi air PDAM yang ideal setiap hari, baik dari sisi tekanan air maupun kualitas kebersihan air. Permasalahan yang terbesar adalah kondisi abnormal seperti itu tidak berlangsung dalam jangka waktu yang singkat. Bisa berlangsung berhari-hari atau bahkan hingga bertahun-tahun sebelum akhirnya benar-benar diperbaiki.

Memasang dua tangki air (satu di bawah dan lainnya di atas rumah) adalah sebuah alternatif bagi mereka yang mencari solusi untuk bisa mengatasi situasi distribusi air yang memang cenderung abnormal. Dalam kondisi distribusi air yang normal sekalipun, tidak ada yang salah ataupun merugikan untuk sengaja membuat wadah penampungan air (tangki / bak penampung) di rumah untuk menampung air PDAM sementara sebelum nantinya dipakai. Karena, hal apapun yang berkaitan dengan ketersediaan air bersih, akan selalu lekat hubungannya dengan sosok kehidupan kita sebagai manusia yang memiliki ketergantungan sangat besar terhadap air.

Ilustrasi skema pemipaan di atas adalah garis besar gambaran mengenai jalur distribusi air dari tempat penampungan awal hingga akhirnya di distribusikan ke jaringan pipa dalam rumah. Di antara jalur distribusi air tersebut, sarana untuk merekayasa air (seperti filter air) bisa dibuat / dipasang dengan lebih mudah dan terarah sesuai kondisi yang dibutuhkan.

Penerapan teknik pemipaan dua tangki air dalam jangka panjang, akan mempermudah pemeliharaan dan perawatan jaringan pemipaan di rumah. Karena, kemungkinan terjadi kerusakan hanya terfokus di bagian-bagian yang bisa di prediksi dan relatif mudah diperbaiki, yaitu : jalur pipa antara meteran air dengan tangki-pengalih, pelampung-analog di tangki-pengalih, pompa air dan unit RADAR. Kemungkinan terjadi kebocoran akibat tekanan air pada jaringan pipa dalam rumah dan perangkat pemipaan yang terpasang, bisa dibilang “nihil”. Kalau pun ada kerusakan, biasanya dan hanya terjadi pada perangkat diluar fisik jaringan pipa. Seperti tuas keran yang patah.

Di waktunya selanjutnya, kita hanya perlu menyempurnakan kondisi fisik jaringan pipa yang terpasang di luar dinding / di bawah permukaan lantai rumah. Seperti, misalnya, jalur inlet / outlet pipa pada tangki dan pompa air. Tujuannya agar tindakan perawatan dan pemeliharaan di kemudian hari menjadi lebih cepat dan mudah pengerjaannya.

Jadi… sebenarnya… sangatlah mudah untuk merawat dan menata jalur pemipaan air bersih di rumah. Intinya, kita hanya perlu membuat air PDAM terlebih dulu masuk dan tersimpan dalam sebuah wadah (tangki / bak penampungan) sebelum dialirkan ke dalam rumah. Apapun teknik yang nantinya digunakan untuk mengalirkan air dari dalam wadah ke dalam rumah, sudah bisa dipastikan tidak akan membuat rusak fisik jaringan pipa ledeng yang tertanam di dinding maupun di bawah permukaan lantai rumah di kemudian hari.

Semoga bermanfaat!

Artikel Terkait :

 

%d bloggers like this: