halaman 2 dari 3

Cara Penerapan dalam Kehidupan sehari-hari

Sekarang, kita mendapat gambaran lebih jelas bahwa tujuan memasang dua tangki air bisa dimanfaatkan untuk mengakomodir dua kepentingan, yaitu :

  1. Menambah kapasitas tempat cadangan untuk menyimpan air.
  2. Mendistribusikan air di posisi letak ketinggian yang berbeda.

Itulah dasarnya!

Anda bisa mengembangkan kedua teknik pemipaan tersebut untuk keperluan mencadangkan air dengan variasi kondisi yang lebih beragam. Salah satunya adalah untuk mengatasi dinamika distribusi kekuatan tekanan air PDAM.

Ada dua keadaan yang umum dihadapi dari dinamika tekanan air PDAM yang didistribusikan ke rumah pelanggannya, yaitu : terlampau lemah dan terlampau kuat. Kedua keadaan tersebut bisa diakomodir dengan cara menerapkan dari kedua teknik pemipaan dua tangki air di atas.

Cerita selanjutnya di bawah ini adalah garis besar gambaran mengenai kondisi / situasi yang bisa diterapkan untuk teknik pemipaan dua tangki air dengan berbeda lokasi ketinggian.

Perlukah membuat ruang penampung air di bawah permukaan tanah?

Kondisi rata-rata dari tekanan air PDAM yang lemah setiap hari, menandakan tingkat pemakaian air relatif tinggi oleh rumah-rumah di lingkungan (tetangga) sekitar rumah yang kita tempati. Mayoritas waktu pemakaian air yang kita gunakan di rumah adalah berbarengan dengan waktu pemakaian air yang digunakan oleh para tetangga di sekitar rumah kita. Realita waktu pemakaian air yang berbarengan inilah menjadikan sulit untuk kita mengharapkan jumlah air yang kita peroleh bisa tetap terjaga konsistensinya. Malahan, dapat terjadi kecenderungan untuk mengalami situasi kekurangan air.

Menyediakan tempat lebih besar untuk menampung air bersih di area bawah rumah (khususnya di bawah permukaan tanah / tangki tanam), akan menciptakan peluang bagi kita dapat mengumpulkan air bersih setiap saat. Air, sebesar apapun kekuatan tekanan yang dimilikinya, akan tetap mengalir mengikuti arah gaya gravitasi bumi (ke tempat yang lebih rendah). Dengan memiliki tangki tanam di rumah, maka tetap ada peluang untuk kita bisa mendapatkan air PDAM.

Logika sederhananya, letak keran air di setiap rumah tinggal (termasuk rumah kita dan tetangga di sekitar rumah) akan selalu ada di “atas” permukaan tanah. Jika keran air tangki tanam yang kita pasang ada di “bawah” permukaan tanah, maka air akan lebih dulu mengalir ke dalam tangki tanam yang kita pasang. Itu dikarenakan posisi letak keran yang lebih rendah dibanding letak keran air yang di dalam rumah.

Dengan begitu, sekecil apapun kekuatan tekanan air PDAM yang ada, tetap akan mengalir masuk dan terus mengisi ruang yang tersedia di bak penampungan. Aliran air baru akan berhenti setelah permukaan air mencapai titik ketinggian tempat keran-berpelampung ( ball-tap ) dipasang di dalam bak. Jadi, satu-satunya faktor terpenting yang perlu dipertimbangkan atas pilihan membuat bak penampungan di bawah permukaan tanah (tangki tanam) adalah karena kondisi distribusi volume air PDAM yang kecil setiap hari. Meskipun, jika ternyata, tetangga sekitar rumah juga memiliki tangki tanam, air yang didistribusikan akan terbagi secara merata. Tidak masalah berapa pun perbandingan banyak air yang digunakan antar rumah, besar kekuatan tekanan air yang diterima oleh masing-masing rumah tetap sama.

Jika kondisi tekanan air setiap harinya cenderung normal, membuat bak penampungan di bawah permukaan tanah tidak akan banyak membawa banyak manfaat.

Perlunya memasang Tangki Air di atas Permukaan Tanah

Saya menyebut tangki air yang dipasang di atas permukaan tanah dengan istilah “Tangki Pengalih“, karena perannya lebih ditekankan sama seperti “bemper mobil”. Jika bemper mobil bertujuan untuk melindungi benturan dari sisi depan dan belakang mobil, maka “Tangki Pengalih” memiliki tujuan untuk melindungi jaringan pipa ledeng di rumah dari kekuatan tekanan air yang berlebihan. Apa pun fungsi yang nantinya bisa diperoleh dari keberadaan tangki pengalih, tujuan utamanya adalah melindungi jaringan pipa ledeng dari kerusakan akibat kekuatan tekanan air yang berlebihan.

Rumah-rumah di area pemukiman yang memiliki tekanan air PDAM normal di siang hari, akan cenderung memiliki masalah yang berkaitan dengan kebocoran pada jaringan pipa atau keran air.


Contoh perbandingan dari kata “normal” dan “tidak normal” yang saya maksudkan adalah seperti ini : rata-rata tekanan aliran air PDAM ke rumah saya yang di Bogor, mampu untuk merayap naik hingga 7 meter di siang hari. Sedangkan untuk rata-rata tekanan aliran air PDAM ke rumah saya yang di Jakarta pada siang hari, bisa merayap naik ke permukaan lantai saja sangat sulit.


Kekuatan tekanan air biasanya bertambah saat malam hari dimana pemakaian air di setiap rumah mulai terhenti. Pada saat-saat seperti itu, tekanan air PDAM yang langsung masuk ke jaringan pipa dalam rumah adalah sama dengan kekuatan tekanan untuk mendistribusikan air ke setiap rumah. Sehingga, begitu jalur air dalam rumah di buka (seperti : membuka keran untuk mencuci tangan atau menyiram toilet), maka terjadi kesempatan untuk kekuatan tekanan air yang lebih besar masuk ke jaringan pipa dalam rumah. Saat jalur air kembali ditutup, kekuatan tekanan air itu akan menghentakan seluruh sambungan pada jaringan pipa dan semua perangkat pemipaan yang terpasang. Dampak dari hentakan tersebut, mampu untuk merusak daya rekat lem pada sambungan jaringan pipa dan kinerja perangkat pemipaan yang terpasang.

Disinilah peran yang sebenarnya dimiliki Tangki-Pengalih sebagai “bemper” dari fisik jaringan pipa ledeng di dalam rumah.

Namun, bukankah dengan cara mengalihkan aliran air pertama kali ke Tangki-Pengalih seperti itu akan memberi kemungkinan kerusakan yang sama juga bisa terjadi pada jalur pipa dan pelampung-analog yang terpasang pada “Tangki-Pengalih”?

Memang itu tujuannya… Sebagaimana fungsi dari “bemper” adalah menjadi bagian yang paling pertama kali menerima dampak kerusakan. Dengan demikian, kondisi seluruh jaringan pipa serta perangkat pemipaan dalam rumah akan tetap terlindungi. Besarnya biaya biaya perbaikan dari kerusakan yang terjadi bisa langsung diprediksi. Karena, hanya terjadi di area Tangki-Pengalih saja. Bukan di salah satu jaringan pipa ledeng yang tertanam di dinding atau di bawah permukaan lantai.

Itu adalah cara termudah dan termurah untuk bisa terhindar dari kebocoran pipa dan kerusakan perangkat pemipaan yang terpasang di rumah akibat kekuatan tekanan air PDAM yang berlebihan.

Tangki Air di area bagian atas Rumah

Dari deskripsi di atas tentang membuat Tangki-Tanam dan / atau menyediakan Tangki-Pengalih, bisa disimpulkan bahwa tujuan yang hendak diraih adalah menyediakan satu sarana sebagai tempat untuk menampung sementara air PDAM.

Tangki-Tanam, berguna untuk mengakomodasi distribusi air PDAM bertekanan lemah.

Sedangkan Tangki-Pengalih berguna untuk menormalkan kekuatan tekanan air PDAM yang berlebihan.

Saat air sudah terisi penuh dalam kedua wadah penampung tersebut, langkah selanjutnya adalah cara mendistribusikan air yang tersimpan di kedua tempat penampungan sementara itu ke jaringan pipa dalam rumah.

Umumnya, banyak yang mengerjakan dengan cara air langsung didistribusikan dengan menggunakan pompa. Namun, banyak juga yang melakukan dengan cara menampung terlebih dulu di tangki yang terletak di bagian atas rumah. Tujuannya agar pompa tidak nyala-mati setiap terjadi pemakaian air oleh penghuni rumah.

Banyak juga yang berpendapat bahwa cara menggunakan tangki di atas rumah merupakan pilihan terbaik. Terhindar dari situasi nyala-mati pompa yang berulang-ulang akan turut mengurangi pemakaian listrik alias hemat listrik.

Benarkah demikian?

Menurut saya, selama air bisa keluar dari moncong keran untuk digunakan saat dibutuhkan, apapun metode / cara pendistribusian air yang digunakan adalah sah-sah saja. Sesederhana apapun sebuah teknik pendistribusian air, akan diterima dengan baik jika bisa berfungsi sesuai harapan dan kebutuhan pemakainya.

Realita yang sesungguhnya dari menggunakan metode menampung air terlebih dulu di tangki atas adalah akan menciptakan kondisi nyaman dan sangat menyenangkan seandainya proses pemindahan air dari bawah ke atas berlangsung secara otomatis. Tanpa perlu diketahui maupun diawasi kebenaran proses pemindahan air yang terjadi oleh penghuni rumah. Demikian juga halnya ketika air yang telah berada dalam tangki atas hendak digunakan / dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Seandainya kondisi pendistribusian air seperti itu bisa diciptakan dengan baik, maka satu-satunya kelebihan yang bisa diperoleh secara nyata dari metode menampung air di tangki atas adalah distribusi air untuk pemakaian di dalam rumah tetap terjaga di saat listrik PLN mati. Jika ada kelebihan / keuntungan lainnya, menurut saya, lebih ditentukan oleh cara / perlakuan yang diterapkan oleh para penghuni di sebuah rumah dalam menyikapi perilaku pemakaian air secara lebih baik. Sehingga, benar-tidaknya metode pemakaian tangki air di atas rumah dapat menghemat listrik, sepenuhnya tergantung dari perilaku pemakaian air itu sendiri.

 

Selanjutnya : “Dua” Tangki Air dan Kondisi Tidak Ideal ⇒