MCB, Kabel dan Beban Daya

halaman 3 dari 3

Instalasi jaringan kabel yang ideal?

Idealnya, ada pemisahan antar unit MCB untuk sambungan stopkontak dengan lampu dalam sebuah jaringan kabel di sebuah rumah. Dengan demikian, kapasitas unit MCB untuk masing-masing kebutuhan dapat dibedakan. Terpisahnya jalur lampu penerangan dengan stopkontak, akan memudahkan kita untuk pemeliharaan dan perawatan serta memodifikasi jalur distribusi (pencabangan stop kontak / rumah lampu) peredaran arus listrik di rumah.

Spesifikasi kabel yang terpasangpun dapat disesuaikan dengan besar kebutuhan pemakaian daya dari masing-masing jalur kabel. Namun, semua itu kembali pada keadaan awal rumah yang kita tempati. Apakah saat rumah dibangun telah dipikirkan secara matang pemasangan jaringan kabelnya? Bukan hal mudah dan murah untuk membuat jaringan kabel yang ideal, dan kondisi ideal ini tidak akan kita temukan pada mayoritas rumah siap huni. Terlebih lagi untuk rumah kelas menengah ke bawah.

Kenyataan yang ada, kondisi jaringan kabel di mayoritas rumah siap huni mirip seperti benang kusut. Terutama pada sambungan pencabangan antar kabel. Jangankan berharap pada kondisi ideal, layak pakai pun (minimum-requirement) belum tentu terpenuhi. Memang, tidak semua rumah siap huni memiliki instalasi jaringan kabel yang buruk. Namun demikian, bukan berarti 100% aman dan layak untuk digunakan. Lalu, seberapa besar tingkat ketidaksesuaian jaringan kabel yang masih dapat ditoleransi? Apakah masih bisa disiasati agar kondisinya menjadi layak pakai?

Salah satu cara termurah namun efektif untuk mendapatkan kondisi layak pakai adalah menyamakan spesifikasi fisik kawat tembaga jalur kabel rumah lampu maupun stopkontak. Jadi, kalaupun diperlukan tindakan penggantian kabel, hanya sebatas pada spesifikasi untuk ukuran kabel yang berbeda saja (lebih kecil), tidak semua. Kesulitan untuk mengerjakannya adalah setiap jalur kabel harus ditelusuri satu per satu. Ini adalah cara yang saya kerjakan pertama kali untuk membenahi jaringan kabel di rumah. Setelah kondisi semua kabel berada pada tingkat layak pakai terendah / minimum-requirement, penyebab permasalahan pemakaian daya dapat mudah diidentifikasikan. Umumnya, ada pada sambungan antar kabel yang belum diperbaiki atau ketidaksesuaian / rendahnya kualitas stopkontak dan saklar lampu.

Menggunakan cara ini, setidaknya, kita bisa mendapatkan kondisi jaringan kabel layak pakai. Dengan memahami distribusi arus listrik dalam jaringan kabel, kita dapat memerkirakan sejauh mana pengembangan / perbaikan perlu dilakukan berdasarkan kondisi yang ada.

Perlunya mengetahui jenis kabel

Sejak awal, saya selalu berpedoman bahwa hanya ada dua jenis kabel yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan media penghantar arus listrik di rumah, yaitu kabel tunggal dan serabut. Itulah perbedaan fisik paling mendasar dan dapat langsung dikenali mata telanjang dari kabel-kabel yang beredar dipasaran. Bagaimana kedua jenis kabel ini memiliki “turunan”-nya, baru saya peroleh beberapa tahun kemudian setelah membenahi jaringan kabel di rumah sendiri.

Turunan / strain dari masing-masing kabel tersebut dapat langsung dikenali perbedaannya berdasarkan tingkat ketebalan dan jumlah lapisan pembungkusnya. Hal yang menjadi parameter hingga akhirnya saya menggunakan kabel tunggal untuk dipakai membangun jaringan kabel di rumah adalah kemampuannya menangani beban arus listrik dengan baik. Selain mudah ditemukan dipasaran dengan harga relatif lebih murah dari kabel serabut, kabel tunggal juga banyak disarankan oleh praktisi listrik di lapangan untuk dijadikan standar kabel pada jaringan kabel di rumah.

Ternyata, memang ada perbedaan peruntukkan pemakaian kabel berdasarkan jenisnya. Peruntukkan pemakaian kabel ini, diwakili dengan kode tertera pada pembungkusnya. Berbeda kode, maka peruntukkan pemakaian kabel pun berbeda. Seringkali pengkodean ini diabaikan karena kemiripan satu dengan lainnya. Sehingga akhirnya spesifikasi ukuran kawat tembaga dan beban voltase yang digunakan sebagai parameter. Misalnya, kabel untuk kebutuhan peralatan elektronik memiliki kode NYMHY dengan spesifikasi kawat tembaga serabut 2 x 1,5mm² (NYMHY ~ 2 x 1,5mm² ~ 4 OM).

Ketika saya membelinya, si penjual meng-klaim, bahwa jenis kabel tersebut mampu menahan beban pemakaian daya perangkat elektronik berkapasitas hingga 2000 Watt pada tegangan 220Volt (?). Kemudian, saya membuat panjangan stopkontak dengan kabel jenis ini dan menggunakannya untuk pemakaian vacuum cleaner (Wet & Dry) berdaya 800 Watt. Saat selama pemakaian vacuum cleaner itu sendiri harus diistirahatkan selama 5 menit setelah 20 menit digunakan. Saya mengoperasikannya selama kira-kira 1,5 jam untuk membersihkan genangan air. Tidak ada masalah apa pun. Kabel tetap dingin dan kinerja perangkat elektronik tetap stabil. Dilihat secara fisik kabel, biasa saja. Tidak sebesar kabel serabut berkode NYMHYrd-O ~ 2 x 1,5mm² ~ 300/500V. Malahan hampir sama besarnya dengan kabel serabut NYMHYrd-O ~ 2 x 0,75mm² ~ 300/500V.

Pertanyaannya, apakah jenis kabel serabut NYMHY ~ 2 x 1,5mm² ~ 4 OM memiliki kemampuan yang sama dengan jenis kabel tunggal NYM ~ 2 x 1,5mm² ~ 300/500V?

Atau dapatkan jenis kabel serabut NYMHYrd-O ~ 3 x 2,5mm² ~ 300/500V dijadikan sebagai pengganti jenis kabel tunggal NYM ~ 3 x 2,5mm² ~ 300/500V yang biasa digunakan untuk menyambung terminal stopkontak di dinding?

Jawaban yang saya peroleh dari si penjual kabel tadi adalah jenis kabel serabut (apapun turunannya) bukan diperuntukkan pada kebutuhan menyambung terminal stopkontak di dinding seperti jenis kabel tunggal. Terminal stopkontak di dinding terpasang ditujukan untuk segala macam kebutuhan pemakaian daya. Salah satunya adalah pemakaian daya listrik secara konstan. Seperti untuk pemenuhan kebutuhan daya lemari es / kulkas.

Jenis kabel tunggal, memang dirancang (salah satunya) untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Berbeda dengan kabel serabut, yang dirancang untuk kebutuhan pemakaian daya sesekali saja (tidak konstan). Dengan kata lain, kemampuan menghantarkan arus dari kabel tunggal dan serabut adalah sama. Namun, penerapan pemakaiannya saja yang berbeda.

Kalau dipikir lebih jauh, alasan peruntukkan kabel tunggal dan serabut yang disampaikan ini, cukup masuk akal. Jika kita perhatikan, hampir semua produk perangkat elektronik selalu dilengkapi dengan kabel serabut sebagai media penghantar input daya listriknya. Namun, apakah memang demikian kebenarannya, saya tidak tahu.

Pernah dinyatakan di salah satu artikel, bahwa saya selalu membuat panjangan stopkontak menggunakan jenis kabel serabut NYMHYrd-O karena tingkat fleksibilitas menyesuaikan bentuk ruang yang tinggi. Secara fisik kawat tembaga-pun, kabel serabut dinyatakan lebih baik daripada kabel tunggal. Selama ini saya tidak pernah mengalami masalah dengan pemakaian jenis kabel serabut NYMHYrd-O, karena memang selalu digunakan untuk dijadikan panjangan stopkontak saja yang pemakaian dayanya tidak konstan. Tidak pernah dijadikan sambungan stopkontak permanen di dinding.

Hingga saat ini, penerapan peruntukkan jenis kabel terbaik bagi saya, tetap menganut pakem yang sebelumnya telah dikerjakan yaitu kabel tunggal digunakan untuk dipasang di dinding dan kabel serabut sebagai panjangan stopkontak saja. Bagaimanapun model dan tipe turunan kabel yang ada, tetap mengacu pada pakem tersebut.

Memanfaatkan keberadaan MCB

Dengan adanya pemahaman mengenai per-untuk-kan fungsi penggunaan setiap jenis kabel ini, spesifikasi kabel lainnya yang perlu diketahui hanyalah sebatas pada fisik ketebalan kawat tembaga dan kemampuan menahan beban voltase saja. Jika semua spesifikasi kabel yang terpasang pada jaringan kabel sudah sesuai, maka kita dapat memanfaatkan unit MCB untuk meminimalisir lamanya waktu kondisi “overload” arus listrik yang terjadi.

Hal ini, setidaknya dapat mencegah / menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan perangkat elektronik yang ada. Dengan demikian, pemilihan kapasitas MCB yang akan dipasang dalam box MCB, harus benar-benar dipikirkan secara matang. Tindakan ini akan menjadikan MCB berperan sebagaimana fungsi sebenarnya, yaitu menjaga arus listrik tetap pada porsinya.

Kemungkinan MCB rusak akibat dijadikan “gerbang pertama” dalam menghadapi setiap kondisi overload arus listrik adalah cenderung pasti terjadi. Bagi saya, ini adalah salah satu pilihan / cara terbaik dalam mengantisipasi kerugian yang lebih besar dari kerusakan akibat kelebihan beban arus listrik.

Pengalaman saat menangani penggantian kabel di rumah, membawa saya pada sedikit pemahaman mengenai peran dan fungsi MCB dalam melengkapi keamanan instalasi listrik serta kenyamanan pemakaian daya yang lebih baik di rumah. Berdasarkan beberapa kode-kode yang tertera pada MCB di meteran PLN, kita dapat langsung mengenali besar beban arus listrik dan kapasitas unit MCB serta spesifikasi fisik kawat tembaga yang seharusnya ada dalam jaringan kabel.

Memang ada keterkaitan erat antara beban daya listrik dengan fisik kawat tembaga dalam kabel. Untuk mendapatkan standar kualitas listrik yang memadai, kapasitas dari faktor pendukung keberadaannya perlu diperhitungkan secara matang. Umumnya, permasalahan listrik yang terjadi di rumah, berkisar pada ketidaksesuaian antara ketiga faktor (MCB, kabel dan beban daya) tersebut. Setidaknya, dengan memenuhi standar ukuran sebagaimana yang seharusnya digunakan, kita dapat terhindar dari kerugian atas kerusakan perangkat elektronik di rumah akibat perilaku tidak terduga arus listrik dalam jaringan kabel di rumah.

Semoga bermanfaat…!

Artikel terkait

 

2 thoughts on “MCB, Kabel dan Beban Daya”

Comments are closed.

Memahami Perilaku Listrik sehari-hari di Rumah

%d bloggers like this: