Koneksi Internet dan Zirah Antena

“Beneran yang begituan bisa nambah (kuat) sinyal (internet)? Apa bedanya sama antena yang biasa?”, tanya seorang rekan saat melihat Zirah Antena yang terpasang di rumah saya.

Merupakan sebuah reaksi rasa tidak percaya yang sudah sewajarnya bagi siapapun yang pernah berurusan dengan situasi koneksi internet yang lelet.

Karena, kalau berbicara tentang antena, kuncinya terletak dan akan (hampir) selalu bermuara pada faktor lokasi. Sebaik apapun kualitas sebuah antena, akan ditentukan pada lokasi tempat antena itu dipasang. Hal serupa juga berlaku bagi antena modem nirkabel. Itu alasan yang pertama.

Alasan kedua, tidak ada sambungan langsung secara fisik yang menghubungkan antara antena modem dengan Zirah Antena. Dengan kondisi seperti itu, bagaimana bisa kedua perangkat tersebut bisa saling memengaruhi?

Tabel Kecepatan Internet

Setelah antena modem dibungkus Zirah Antena antena modem dibungkus Zirah Antena, memang ada penambahan dalam kecepatan lalulintas data. Namun belum bisa dikatakan sepenuhnya nyaman, karena koneksi masih banyak tersendat disaat peak hours. Meski masih tersendat, kondisi terakhir Zirah Antena saat itu merupakan tahap yang penting bagi saya. Karena, itu merupakan titik awal dimana Zirah Antena terlihat bisa memberikan dampak perbaikan terhadap kelancaran lalulintas data di luar peak hours.

Tapi, kedua alasan di atas membuat saya kembali berpikir untuk mempertimbangkan perlu-tidaknya mengembangkan Zirah Antena. Opsi membeli antena modem yang lebih canggih merupakan pilihan paling murah dan paling realistis untuk menyelesaikan masalah koneksi internet nirkabel yang tidak konsisten bagi seorang awam ilmu antena seperti saya.

Sebuah situasi yang membingungkan…

Beristirahat dan menanggalkan semua kebingungan itu adalah tindakan terbaik yang bisa saya kerjakan setiap sebelum membuat keputusan. Dan di saat masa “tenang” berjalan, saya menemukan artikel yang memuat tabel perbandingan kecepatan rata-rata internet dari 6 (enam) provider di Indonesia :

Saya mengasumsikan bahwa data yang terangkum di tabel berasal dari beragam perangkat komunikasi data pada umumnya yang digunakan untuk internet-an (antena, modem dan smartphone) dengan beragam model dan beragam kualitas pabrikan.

Dalam hal ini, saya mengartikan bahwa kapasitas lalulintas data antara menggunakan antena modem yang saya pakai saat ini dengan antena modem lain di pasaran adalah mirip. Sehingga, kalaupun kemudian saya membeli antena modem yang baru, tidak ada jaminan aktivitas berinternet akan berlangsung lebih baik dibanding antena modem yang dipakai saat ini.

Saya putuskan untuk kembali ke Zirah Antena dan melanjutkan mencari kemungkinan yang bisa dipakai untuk mengembangkannya.

Mempertebal fisik Zirah Antena

Karena tidak mengerti dari mana harus memulai tahapan selanjutnya, saya mencoba mengawali dengan memperbanyak ulir pada bagian Torus. Semula yang hanya terpasang satu, ditambahkan secara bertahap.

Penambahan ulir terus berlanjut sampai akhirnya terpasang 4 (empat) batang kawat tembaga 2,5 mm masing-masing sepanjang 7 (tujuh) meter yang mengulir di bagian Torus. Termasuk penambahan ukuran panjang kawat dari kerucut besar yang semula 2,1 meter menjadi 2,8 meter. Secara keseluruhan, fisik Zirah Antena tidak berubah. Hanya terlihat lebih rapat dan tebal dari sebelumnya.

Setelah tahap “penebalan” fisik selesai dikerjakan, nyaris tidak ada peningkatan apapun dalam kualitas arus lalulintas data. Saya mulai berpikir bahwa semua ini bisa berakhir pada sebuah kesia-siaan. Zirah Antena pun saya biarkan tetap terpasang pada tempatnya.

Ada rasa kecewa… Itu sudah pasti.

Saya bukan robot.

Namun kekecewaan seperti itu adalah konsekuensi. Suka atau tidak, kegagalan merupakan bagian dari kenyataan bereksperimen.

Lempeng Kumparan…

Setelah satu-dua minggu kemudian, iseng-iseng saya cangkokkan kumparan berbentuk lempengan (lempeng kumparan) di bagian bawah Zirah Antena. Nampak perubahan tingkat respon browsing yang lebih cepat. Tapi, seringkali setelah lewat beberapa puluh Megabyte (akumulasi kurang dari 100 Megabyte), koneksi terhenti dan menggantung cukup lama.

Hal serupa juga dulu terjadi ketika diawal bagian kerucut besar dicangkokkan. Kerucut besar berperan dalam menaikkan respon koneksi aktivitas berinternet secara keseluruhan. Mulai dari game online hingga streaming video. Sering seluruh aktivitas berinternet terhenti dan menggantung setelah beberapa puluh Megabyte terlewati. Situasi tersebut baru bisa terselesaikan setelah dicangkokkan kerucut berukuran lebih kecil di dalamnya.

Begitu juga dengan ulir kecil yang melingkar di dalam Torus. Itu berfungsi untuk mengatasi proses download/upload yang terus melambat atau melambat kemudian terhenti.

Apakah demikian juga halnya yang terjadi pada lempeng kumparan?

Saya buat lempeng kumparan berukuran lebih kecil untuk memastikan kebenaran teori tersebut. Setelah lewat beberapa hari men-setting ukuran dan posisi, masalah koneksi terhenti dan menggantung saat browsing pun teratasi.

Mengapa harus lempeng kumparan berbentuk lingkaran? Bolehkah jika berbentuk segitiga atau segi empat? Atau model berbeda selain lempeng kumparan berbentuk lingkaran?

Begini ceritanya :

Sebelum lempeng kumparan dibuat, gambaran dan pertanyaan yang terlintas di benak saya adalah bagaimana caranya memasang sebuah penampang (mis. wajan) yang menggantung di bagian bawah Zirah Antena.

Ide tersebut terus berproses dan berkembang di kepala saya hingga berakhir dengan sebuah gambar bentuk lempeng kumparan berukuran besar yang terpasang di bagian bawah Zirah Antena. Tidak ada prakiraan mengenai berapa nilai ukuran-ukuran yang dibutuhkan untuk membuatnya. Bisa-tidaknya lempengan kumparan itu berfungsi untuk menaikkan performa Zirah Antena, saya juga tidak tahu.

Seperti itulah proses lempengan kumparan terbentuk hingga akhirnya terpasang dibagian bawah Zirah Antena. Sama seperti bagian-bagian lain yang selama ini telah terpasang dan membentuk Zirah Antena. Semuanya dikerjakan dan dibentuk bermula atas gambaran hasil proses ide-ide liar yang melintas di benak saya.
Setelah tahap lempeng kumparan (besar dan kecil) selesai, performa lalulintas data bertambah jauh lebih meyakinkan dibanding saat fisik Zirah Antena selesai ditebalkan. Selain menaikkan nilai batas tertinggi (diluar ekspektasi), juga membuat lalulintas data berjalan lebih stabil dan responsif. Perbedaan yang benar terasa adalah akses internet yang lebih ringan, cepat dan mudah selama 24 jam setiap harinya.

Ulir ke kiri… ulir ke kanan…

Ada hal baru yang juga baru saya pahami sejak mencangkokkan lempeng kumparan, yaitu : dibutuhkan dua ulir yang berbeda ukuran dan berbeda arah lilitan untuk menciptakan dinamika pergerakan sinyal internet nirkabel.

Lilitan ke arah kiri (melawan jarum jam) akan menutup koneksi lalulintas data. Sedangkan lilitan ke arah kanan (mengikuti jarum jam) akan membuka koneksi.

Konsep tersebut sudah sangat banyak disampaikan dan dijabarkan di internet dalam konteks medan elektromagnetik bermuatan positif (ke kanan) dan negatif (ke kiri). Dalam praktek sehari-hari, mirip dengan muatan arus plus dan minus pada listrik dua arah (AC). Atau seperti pada besi magnet yang memiliki kutub Utara dan kutub Selatan.

Dan, saya baru menyadari kepentingan dan keterkaitan kedua hal itu setelah membuat lempeng kumparan.

Dengan demikian, setiap bagian yang membentuk Zirah Antena memang harus dibuat sepasang namun berbeda ukuran. Bentuk berukuran besar harus memiliki lilitan ke arah kanan (positif), sedangkan yang kecil ke kiri (negatif). Jika terbalik, (atau apapun yang menjadikan lilitan ke kiri lebih besar/banyak dari lilitan ke kanan secara keseluruhan) maka koneksi akan terhenti (tertutup). Betapapun kita mengharapkan atau menanti dengan sabar, koneksi akan tetap tertutup. Saya telah beberapa kali mencobanya dan kenyataan yang terjadi tetap sama. Koneksi tidak pernah akan terbuka selama formasi lilitan bermuatan negatif mendominasi salah satu bagian dari Zirah Antena.

Menghitung Kapasitas Performa Zirah Antena…

Seberapa besar pencapaian performa yang berhasil didapatkan dengan menggunakan Zirah Antena? Berapa besaran arus lalulintas data dalam berinternet dengan menggunakan Zirah Antena?
Model pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang kemudian mengganjal di pikiran saya sejak Zirah Antena mulai menampakkan wujudnya.

Meski telah lama menggunakan internet nirkabel, cara mengukur kapasitas performa koneksinya secara “real” merupakan persoalan yang belum pernah dapat saya pecahkan. Sejauh mana tingkat koneksi internet yang termasuk dalam kategori kurang, sedang atau baik? Bagaimana menjelaskan bahwa kecepatan internet nirkabel sebesar 10 Mbps yang berlangsung di rumah saya sudah bisa dikategorikan baik? Atau sedang? Atau bahkan benar-benar buruk?
Selama kategori tingkat koneksi internet nirkabel seperti itu tidak bisa disajikan dalam bentuk angka, maka cerita Zirah Antena juga tak ubahnya seperti sebuah dongeng belaka.

Berikut ini adalah urutan cerita alur logika yang berhasil saya susun untuk mendapatkan nilai terkait performa antena modem yang dibungkus Zirah Antena :

Rata-rata batas tertinggi kecepatan “download” internet nirkabel di Indonesia adalah sebesar 18,5 Mbps. Dan, rata-rata batas terendahnya adalah 6 Mbps. Batas tertinggi adalah kecepatan maksimum yang bisa diraih di saat koneksi berlangsung lengang. Sedangkan batas terendah adalah kecepatan maksimum yang bisa diraih di saat koneksi berlangsung padat.

Kedua nilai itu (batas kecepatan tertinggi dan terendah) bisa dijadikan dasar untuk mendapatkan nilai kecepatan rata-rata arus lalulintas data per jam.

Karena kedua nilai batas kecepatan memiliki karakteristik waktu pemakaian yang berbeda, saya membaginya untuk memperoleh batasan lama waktu koneksi yang lebih spesifik dalam sehari (24 jam).

Saya mengasumsikan lama waktu koneksi berlangsung padat selama 18 jam, yaitu dimana mayoritas pengguna internet pada umumnya masih terjaga atau beraktivitas (belum tidur). Sedangkan lama waktu koneksi berlangsung lengang selama 6 jam, yaitu dimana mayoritas pengguna internet dalam kondisi minim aktivitas (sudah tidur).

= ((18,5 x 6) + (6 x 18)) / 24
= (111 + 108) / 24
= 219 / 24
= 9,125

Dengan demikian, kecepatan rata-rata arus lalulintas data per jam adalah sebesar 9,125 Mbps.

Dari 9,125 Mbps ini, kita bisa dapatkan nilai default untuk mencari batas tertinggi dan terendah berdasarkan kecepatan rata-rata internet dari masing-masing provider :

Default batas tertinggi = (18,5 / 9,125) = 2,03
Default batas terendah = (6 / 9,125) = 0,66

Sebagai contoh untuk mencari kisaran nilai batas kecepatan tertinggi dan terendah dari Telkomsel yang memiliki nilai rata-rata kecepatan internet sebesar 10,64 Mbps :

Batas tertinggi = 2,03 x 10,64 = 15,75 Mbps
Batas terendah = 0,66 x 10,64 = 7,02 Mbps

Jadi, jika kita internet-an menggunakan sim card Telkomsel,  kecepatan internet tertinggi yang bisa dicapai di saat koneksi lengang adalah sebesar 15,75 Mbps. Sedangkan di saat koneksi padat, hanya sebesar 7,02 Mbps.

Jika kecepatan internet dengan rata-rata 2,96 Mbps seperti Tri, maka kisaran nilai batas kecepatan tertinggi dan terendahnya adalah :

Batas tertinggi = 2,03 x 2,96 = 6,01 Mbps
Batas terendah = 0,66 x 2,96 = 1,95 Mbps

Dari sini, kita bisa membolak-balik susunan angka tersebut untuk mendapatkan nilai terkait kecepatan internet yang dibutuhkan berdasarkan provider jaringan internet yang kita pakai.

Contohnya…?

Berikut ini adalah contoh soal untuk mengukur kemampuan perangkat komunikasi yang saya pakai di rumah dengan menggunakan dasar nilai kecepatan internet yang diperoleh dari perangkat lunak Speed Test :

Nilai batas tertinggi kecepatan internet dari hasil speed Test yang dapat saya capai menggunakan provider Tri adalah 10 Mbps. Berdasarkan nilai 10 Mbps tersebut, saya bisa mendapatkan nilai rata-rata dari kecepatan internet yang berlangsung selama 24 jam di rumah :

Kecepatan rata-rata = 10 / 2,03 = 4,93 Mbps

Dari hasil tersebut, nampak nilai rata-rata kecepatan internet (arus lalulintas data) selama 24 jam di area rumah saya sebesar 4,93 Mbps.

Jika dibandingkan dengan nilai rata-rata kecepatan pengguna Tri pada umumnya yang sebesar 2,96 Mbps sebagaimana tertera pada tabel di atas, berarti perangkat komunikasi yang saya gunakan untuk internet-an saat ini memiliki kemampuan lebih baik sebesar 1,97 Mbps dari perangkat komunikasi yang dipakai untuk internet-an pada umumnya.

Apakah nilai 4,93 Mbps itu sudah benar adanya?

Untuk mengujinya, kita kembalikan nilai itu ke perhitungan awal untuk mencari nilai batas tertinggi dan batas terendah kecepatan internet :

Kecepatan tertinggi = 2,03 x 4,93 = 10 Mbps
Kecepatan terendah = 0,66 x 4,93 = 3,25 Mbps

Dari semua perhitungan di atas, saya mendapatkan satu gambaran lebih nyata mengenai kapasitas kemampuan perangkat komunikasi yang saat ini dipakai di rumah, yaitu :

    • 10 Mbps di saat lalulintas data sedang lengang (batas tertinggi)
    • 3,25 Mbps di saat lalulintas data sedang ramai (batas terendah)
    • rata-rata kecepatan internet sebesar 4,93 Mbps selama 24 jam.

Nilai batas tertinggi sebesar 10 Mbps itu, bisa diartikan sebagai luas cakupan sinyal tertinggi yang bisa diakomodir perangkat komunikasi data yang saya pakai saat ini, yaitu :  antena modem + Zirah Antena.
Tanpa Zirah Antena, luas cakupan sinyal tertinggi antena modem di rumah saya hanya terfokus di kisaran angka 4 Mbps. Perbedaan kapasitasnya setelah antena modem dibungkus Zirah Antena :

= ((10 / 4) – 1) x 100%
= (2,5 – 1) x 100%
= 150%

Sedangkan perbedaan luas cakupan sinyal antena modem + Zirah Antena dibandingkan perangkat komunikasi yang digunakan pada umumnya :

= ((10 / 6,01) – 1) x 100%
= 0,66 x 100%
= 66%

Dari kedua prosentase hasil perhitungan terakhir saya bisa menilai secara objektif mengenai kapasitas kemampuan perangkat komunikasi data nirkabel yang dipakai di rumah. Meski memiliki kecepatan koneksi di atas rata-rata perangkat komunikasi data pada umumnya yang menggunakan sim card Tri, tetap tidak dapat menandingi kecepatan koneksi perangkat komunikasi data yang menggunakan sim card Telkomsel.

Saya kira, cukup sampai disitu saja model perhitungan yang dibutuhkan untuk mengetahui kapasitas performa Zirah Antena secara real.

Bentuk Antena yang Janggal…

Tidak semua ide memiliki langkah awal yang jelas untuk memulainya. Demikian juga dengan proses dan waktu untuk mewujudkannya. Meskipun sudah dan sedang dikerjakan, belum tentu bisa berakhir dengan memiliki satu bentuk nyata.

Saat ini, saya tidak pernah lagi memaksakan sebuah ide harus berakhir sama atau berbeda dengan wujud yang sudah pernah ada beredar di pasaran. Mengekang/membatasi proses perkembangan ide dengan tujuan menghindari konfrontasi adalah kesalahan fatal. Karena, jika itu tetap dilakukan, maka kita tidak akan pernah mengetahui seberapa jauh dan besar potensi yang sesungguhnya dimiliki dan dapat dikembangkan dari ide tersebut.

Begitu juga dengan ide Zirah Antena dari awal dirancang, dibuat dan dikembangkan. Sampai kapanpun, keberadaannya akan tetap dikembalikan menurut fungsi dan manfaat sebagaimana ide yang mendasari pembuatannya. Wujudnya saat ini, cenderung dimaknai hanya sebagai identitas. Dan semua itu akan berproses bersama perkembangan teknologi antena yang terjadi di waktu selanjutnya.
Daripada berkutat pada masalah penampakan yang berbeda dengan antena pada umumnya, saya lebih memilih mengabaikan sambil menikmati proses perkembangan dalam dan selama mengerjakannya.

Bagi saya, saat-saat proses pengembangan merupakan hal yang menyenangkan untuk dinikmati dan terasa sayang jika harus dirusak hanya dikarenakan masalah perbedaan penampilan.

Jadi…?

Hingga saat ini, saya masih tidak memahami bagaimana Zirah Antena secara teknik dapat mengatasi hambatan sinyal yang disebabkan oleh lokasi. Demikian juga dengan cara kerjanya yang bisa memengaruhi antena modem tanpa memerlukan sambungan fisik secara permanen.

Apakah kedua hal tersebut bisa dianggap menjadi perbedaan dan keuntungan dari membuat Zirah Antena daripada membeli antena siap pakai?

Awal tujuan sebenarnya, hanya ingin mengetahui kebenaran ada-tidaknya pengaruh kumparan kawat tembaga dengan gelombang sinyal internet. Tidak ada niatan untuk mengembangkannya. Namun setelah beberapa waktu kemudian terlihat ada keistimewaan dalam menangani sinyal internet, saya mencoba memodifikasinya. Semua itu berlanjut dan perlahan mengubah tujuan awal menjadi fokus pada penyempurnaan koneksi internet.

Setelah rampung, saya sendiri bingung untuk memastikan sosok Zirah Antena yang sebenarnya.

Penamaan Zirah Antena sendiri bertujuan untuk mempermudah pengidentifikasian agar lebih mudah dalam penulisan dan menyebutkannya. Namun apakah kemudian Zirah Antena bisa dikategorikan sebagai sebuah perangkat komunikasi data atau perangkat apapun lainnya, saya sudah tidak mau peduli.
Intinya, perangkat ini bisa berfungsi dan dimanfaatkan untuk kepentingan komunikasi data sebagaimana layaknya antena.

Saya berencana membuat replika-nya untuk mendapatkan kepastian standar ukuran dan bentuk yang baku.

Semoga bermanfaat. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *