Blog Tips : Algoritma Rankbrain Google

Saya selalu merasa kurang pēdē kalau hendak membicarakan tentang algoritma Search Engine Google. Pasalnya, Google sendiri turut memiliki kepentingan di dalamnya untuk mengembangkan usaha mereka. Dengan demikian, agak sulit untuk memastikan arah kebenaran netralitas kinerja dari algoritma yang diterapkan.

Untuk saat ini, bagian itu kita abaikan dulu…

Saya hendak bercerita sedikit tentang algoritma Rankbrain yang diterapkan Google pada Search Engine nya sejak April 2015 dan diperkenalkan ke publik pada Oktober 2015. Meski sudah cukup lama di sosialisasikan, baru waktu belakangan ini saya mengetahui banyak yang membicarakannya.

Perbedaan mendasar antara algoritma Rankbrain dengan algoritma yang sebelum-sebelumnya (Panda, Penguin, Hummingbird dll) adalah terletak pada penerapan kecerdasan buatan atau lebih dikenal dengan Artificial Intelligence yang menjadi dasar untuk menentukan hasil akhir pencarian dari mesin pencari (Search Engine Result Page ~ SERP).

Dalam hal ini, Rankbrain memiliki kelebihan karena dibekali kemampuan untuk mengingat sekumpulan data hasil pencarian yang pernah dikerjakannya. Data-data tersebut bisa dimanfaatkan dan dikalkulasi kembali dengan kata-kata baru yang diinput user di halaman pencari. Dengan demikian, hasil proses pencarian yang nampak di SERP memiliki relevansi lebih mendekati maksud dan tujuan user.

Meski telah membaca ulasannya berulang kali, terlalu rumit untuk saya bisa memahami detail konsep kerja dari algoritma tersebut. Namun, secara garis besar, inti yang harus dikerjakan agar artikel-artikel di blog kita bisa berinteraksi secara optimal dengan algoritma Rankbrain menurut Gary Illyes (staf Google) adalah dengan membuat tulisan menggunakan rangkaian kata-kata yang sering dan umum diucapkan sehari-hari.

Bagi anda yang ingin mempelajari algoritma Rankbrain lebih dalam lagi, silahkan klik disini.

icon.top.par

Memang Begitu Seharusnya…

Pernyataan yang disampaikan Gary Illyes itu, sama seperti yang disampaikan staf WordPress (Elizabeth) yang saya baca di tahun 2012 lalu. Jadi, jauh sebelum algoritma Rankbrain dibuat, staf WordPress telah menyarankan kepada para user-nya untuk menerapkan konsep yang sama dalam menulis artikel agar hasilnya bisa tampil di SERP.

Berdekatan waktu tersebut, saya baru mulai nge-blog dengan kondisi sama sekali “buta” di bidang urusan tulis-menulis. Uraian dari staf WordPress yang saya baca di The Daily Post itu terasa angin segar memberi semangat rasa lebih percaya diri untuk mengawali membuat tulisan di blog.

Namun, tetap saja ada keraguan untuk bisa meyakini kebenaran saran tersebut. Karena, tidak ada pihak yang mengawasi ataupun menilai secara independen bahwa usaha pembelajaran tulis-menulis yang akan dan telah saya kerjakan memang telah berjalan sebagaimana disarankan.

Beberapa bulan kemudian, saya putuskan untuk mengkondisikan perkembangan blog ini tanpa disertai keterlibatan dan dukungan dari sosmed. Dengan demikian, setiap artikel di blog ini sepenuhnya tergantung dari kepentingan orang-orang yang menggunakan halaman pencari Search Engine. Baik itu milik Google, Yahoo, Bing maupun Yandex.

Dalam pemikiran saya, tanpa melibatkan ke dalam ranah sosmed, maka orang yang mengenal saya sebagai admin blog menjadi amat sangat terbatas. Kebanyakan pengunjung / pembaca yang berasal dari Search Engine, sudah pasti merupakan orang-orang yang sama sekali tidak mengenal saya. Dengan demikian, tidak ada kewajiban moral apapun bagi mereka untuk menilai artikel yang telah dibaca. Sehingga, saya bisa mendapatkan gambaran penilaian lebih fair mengenai perkembangan pembelajaran menulis yang telah dikerjakan.

Hasilnya selama empat tahun pertama tanpa sosmed, bisa disimpulkan dari statistik trafik per tahun blog ini sebagaimana gambar di bawah :

Apakah dengan grafik statistik di atas menunjukkan keberhasilan usaha saya dalam belajar membuat artikel yang disukai dan dibaca banyak orang?

Sulit untuk menilai hasil dari satu usaha pembelajaran tanpa ada pembanding dari pihak lain yang juga mengerjakan usaha pembelajaran dengan metode yang sama. Dan saya pun enggan bertukar informasi secara terbuka tentang trafik pengunjung dengan blogger lain.

Namun, secara garis besar, dengan indikator trafik kunjungan yang cenderung naik setiap tahunnya, sudah cukup bagi saya menjadi modal rasa percaya diri untuk terus menulis dengan menerapkan metode yang sama dalam membuat artikel.

icon.top.par

SEO vs Keterampilan Merangkai Kata-kata

Kesulitan merangkai kata-kata untuk menjadi kalimat dan menyusun rangkaian kalimat ke dalam satu paragraf hingga kumpulan beberapa paragraf membentuk sebuah artikel seutuhnya, masih tetap merupakan momok terbesar saya dalam aktivitas menulis hingga saat ini. Saya bukan berasal dari lingkungan penulis. Tidak ada kebiasaan atau ajaran yang mengarahkan untuk bisa menjadi seorang penulis yang baik.

Menurut hemat saya, cerita apapun akan menjadi menarik jika bisa disampaikan melalui tulisan yang menggunakan rangkaian kata-kata sederhana dan umum, sehingga keseluruhan cerita menjadi mudah dicerna. Itu saja yang saya jadikan parameter.

Maksud dari sederhana dan umum itu adalah kalimat dengan rangkaian kata-kata yang bisa dipahami oleh lebih banyak orang. Jika kita menulis dengan tujuan agar dibaca oleh orang banyak, maka pemakaian kata-katanya juga harus merujuk pada apa yang mereka biasa ucap dan dengarkan. Itu adalah perkara sederhana dari peristiwa sebab akibat yang kaitannya otomatis mempengaruhi SEO.

Jadi, haruskah ilmu SEO (termasuk algoritma Rankbrain) tetap dipelajari dan dikuasai agar artikel yang kita buat bisa tampil di halaman pertama mesin pencari Google?

Kalau dari pengalaman dan hasil yang ditunjukkan gambar statistik trafik pengunjung blog di atas, saya berpendapat, akan lebih baik jika kita belajar cara membuat artikel yang dicari Search Engine Google untuk ditampilkan di halaman pertamanya.

icon.top.par

Batasan tingkat Artikel berkualitas

Perihal saran yang dikemukakan staf internal WordPress tentang metode menulis dengan menggunakan kata-kata yang biasa di dengar dan diucapkan sehari-hari, merupakan sebuah pernyataan yang sangat logis.

Komputer, secanggih apapun teknologi yang dimilikinya, tetap menggunakan konsep dasar “garbage in garbage out”. Output yang menjadi hasil kinerja komputer tidak akan lebih baik dari input yang diterimanya. Demikian juga komputer yang digunakan Google sebagai Search Engine.

Ketika kita mengetikkan kata-kata di halaman pencari Google, Search Engine akan mengerjakan penelusuran dan mengumpulkan semua informasi / artikel di internet berdasarkan kata-kata yang kita ketikan itu. Termasuk juga informasi / artikel alternatif yang memiliki kandungan menyerupai makna dari kata-kata tersebut. Kemudian, semua kumpulan informasi itu ditampilkan pada layar monitor berdasarkan urutan kesesuaian yang paling mendekatinya.

Masyarakat (termasuk kita didalamnya), merupakan kumpulan dari berbagai macam orang dengan latar pendidikan, lingkungan dan kebiasaan hidup berbeda. Meskipun berbeda, mereka semua berkomunikasi dengan kata-kata yang umum dan bisa dimengerti oleh satu sama lain. Demikian juga halnya saat mereka menggunakan dan memanfaatkan halaman pencari Google. Kata-kata yang bersifat umum sebagaimana yang biasa di pakai dan di dengar sehari-hari adalah yang diketikan dan menjadi dasar bagi Search Engine untuk melakukan pekerjaannya.

Jika kemudian kita menyusun satu / beberapa artikel dengan menggunakan kata-kata yang tidak biasa dan jarang didengar / diucapkan sehari-hari, sejauh mana Search Engine bisa memutuskan artikel kita cukup layak untuk tampil di setiap hasil proses pencarian pada umumnya?

Logika sebab-akibat yang sederhana, bukan?

Tidak selamanya artikel berkualitas yang disampaikan menggunakan rangkaian kata-kata canggih akan mendapatkan tempat di halaman hasil pencarian. Siapapun bisa membedakan dan memperdebatkan baik-buruknya isi kualitas dari sebuah artikel. Sedangkan Search Engine hanyalah seperangkat mesin. Dan, hanya akan menampilkan artikel hasil pencarian mengikuti input kata-kata di halaman pencari. Bukan mengikuti tinggi-rendahnya kualitas isi dari sebuah artikel.

icon.top.par

SEO Terbaik

Metode menulis apapun yang kita terapkan menjadi dasar dalam menyusun sebuah artikel, akan berakhir pada orang-orang yang membacanya. Apakah sebuah tulisan akan berbuah dan membawa manfaat, ditentukan dan tergantung mereka.

Merupakan anggapan yang salah jika artikel yang kita tulis harus memenuhi kriteria dan aturan main Search Engine beserta semua algoritma yang terdapat di dalamnya. Karena, kepentingan Search Engine membaca sebagian artikel yang kita tulis, didasarkan atas permintaan orang-orang yang ingin membaca dan mendapatkan informasi sebagaimana yang kita coba sampaikan. Tanpa dasar permintaan tersebut, Search Engine pun akan mengabaikan dan membiarkannya.

Jadi, SEO terbaik yang sesungguhnya, ditentukan rangkaian kata-kata yang terdapat di dalam artikel itu sendiri. Begitu dipublikasikan, bisa dibilang, setiap artikel telah memiliki SEO sendiri untuk mendapatkan posisi dan tempatnya di SERP. Apakah kemudian akan tampil di halaman pertama atau tidak, tergantung sejauh mana usaha terbaik yang kita upayakan dalam menyusun kata-kata di dalam artikel tersebut.

icon.top.par

Kendali di tangan Google

Meskipun demikian, tetap saja urusan internal Search Engine ada dalam kendali Google. Tampil atau tidaknya artikel kita di SERP, turut dipengaruhi campur tangan dan prioritas kepentingan Google dalam menjalankan bisnisnya. Tidak bisa dipungkiri kalau Google telah memegang kendali sangat besar dalam mengatur peredaran informasi di ranah internet. Algoritma Rankbrain merupakan salah satu contoh perwujudan bentuk pengendalian tersebut secara nyata.

Jadi, walau sebaik apapun usaha kita untuk membuat artikel dengan mengikuti aturan main yang berlaku, tetap bisa tersingkir dari SERP selama kita tidak berada dalam satu situasi yang diinginkan oleh Google.

Serba salah yaaa….?

Hahaha… Santai saja, kawan. 😊 Dunia berputar dan selalu ada waktu serta kesempatan untuk kita semua.

Pilihannya akan selalu berpulang pada diri kita sendiri. Perihal yang perlu untuk diingat adalah penilaian terakhir dari setiap artikel yang kita buat, tetap ditentukan oleh pengunjung blog. Bukan Search Engine.

Semoga bermanfaat ! ☺

icon.top.document

Iklan

2 tanggapan untuk “Blog Tips : Algoritma Rankbrain Google”

  1. Kalau search engine nya berbaik hati bisa dapat banyak pengunjung bang, dari pengalamnku setahun belakangan, search engine bisa ga baik klo server hostingnya lelet. Untung deh aku pindah skrg mulai bagus trafiknya.
    Aku suka baca tulisan yg bukan dari ahlinya hehe, menurutku sih lebih natural aja, enak dibaca dan cepat bisa dipahami. Aku punya bbrp pembaca baru yg follow blogku dan aku follow balik, entah cuma perasaanku kali, isi tulisannya sih enak, tp ko spt kurang gregetnya krn ybs mungkin penulis konten atau beli kontennya.

    Suka

    1. Hahahaha….😁 jadi Search Engine juga punya batas kesabaran yaaa… Gara-gara host – nya kurang tanggap, blog kamu jadi di tinggal pergi deh…. hahaha… 😁

      Ahli atau amatir, sama aja lah, Nel… yang penting niat buat menjamu pengunjung dengan cara menyajikan konten yang menarik. Banyak yang ngaku ahli, tapi ngejiplak ide. Yang amatir, ngejiplak semuanya…. hahaha… seperti yang kamu bilang, nggak ada greget nya… 😊

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s