Mengerjakan Sendiri Pemasangan Stabilizer di Rumah

halaman 2 dari 2

Memasang Stabilizer Tanpa Kabel

Sebelum stabilizer tanpa kabel bisa kita pakai, sudah tentu harus kita pasangi sendiri terlebih dulu kabel yang menjadi input dan output listriknya. Dikondisikan dibuat tanpa kabel, mungkin, karena memang ditujukan untuk melayani kepentingan pemakaian listrik dalam kapasitas relatif besar. Dalam skala rumah tangga, sejak pertama kali saya temukan, instalasi stabilizer model ini selalu terlihat digunakan untuk kepentingan melayani pemakaian listrik satu rumah.

Secara teknik, cara memasangnya sangat mudah. Kurang-lebih mirip dengan langkah pemasangan kabel pada perangkat listrik umumnya. Begitu juga perlakuan kondisi sebelum tindakan menyambung kawat kabel dikerjakan.

1. Mempersiapkan Kabel Input dan Output

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan tempat dimana stabilizer hendak diletakkan. Lokasi paling favorit umumnya stabilizer model ini diletakkan adalah dekat dengan kotak MCB dalam rumah. Siapkan tempat untuk meletakkan stabilizer di area tersebut. Gunakan “bracket” untuk menahan kompressor AC jika stabilizer hendak diletakkan di bagian atas dinding rumah. Pasang jarak antar bracket sesuai jarak antar kaki karet stabilizer. Pakai dyna-bolt ukuran panjang 5 s/d 7 cm agar kedua bracket terpasang melekat kuat di dinding.

Setelah dipastikan posisi letaknya, ukur jarak antara tempat stabilizer dengan kotak MCB, dan beri tambahan sepanjang 40 cm. Sediakan dua untai kabel (2 x 2,5 mm) dengan panjang sesuai nilai total hasil pengukuran.

Hingga tahap ini, kondisi bahan-bahan dari apa yang harus tersedia adalah :

• 1 unit stabilizer tanpa kabel
• 1 untai kabel input (2 x 2,5 mm)
• 1 untai kabel output (2 x 2,5 mm)

Kabel input dan output tersebut, nantinya dipasang di bagian belakang stabilizer. Disitu, ada enam besi berulir dilengkapi penutup yang sekaligus berfungsi sebagai penjepit kawat kabel. Setiap besi berulir mewakili muatan arus listrik beserta voltase dari listrik yang nantinya dihantarkan kabel input dan output yang hendak kita pasang.Kemudian, kelupaskan kulit kabel (warna putih) di setiap ujungnya masing-masing sepanjang 20 cm. Kelupaskan juga pembungkus (warna hitam dan biru) di setiap ujung kawat masing-masing sepanjang 5 cm. Ujung kawat yang hendak disambung ke stabilizer, dibentuk melilit melingkari baut berulir agar bisa di-kalung-kan dan dijepit pada besi berulir. Setelah itu selesai dikerjakan, beranjak dari tahap inilah yang perlu kita perhatikan dan diingat konsistensi aliran muatan arus listrik selama pengerjaan pemasangan kabel. Mulai kawat kabel yang dijepit di belakang stabilizer hingga akhirnya dihubungkan dengan jaringan kabel listrik dalam rumah.

Gunakan pedoman warna pembungkus kawat untuk memudahkan dalam mengingat jenis muatan arus listrik yang dihantarkan oleh masing-masing kawat.

Sebagai catatan saja, saya selalu menggunakan pembungkus kawat berwarna biru sebagai wakil arus Netral. Karena, dari semua kabel listrik isi dua kawat yang pernah saya pakai, selalu ada pembungkus kawat berwarna biru di dalamnya. Sisanya, bisa berwarna hitam, merah atau coklat.

2. Mempersiapkan Stabilizer dengan Kabel

Langkah Pertama : 

Di bagian belakang stabilizer, besi berulir yang memiliki dasar warna merah akan selalu mewakili input dan output dari arus Fasa. Sedangkan warna hitam mewakili arus Netral. Dari enam (tergantung merk / brand) besi berulir yang tersedia, hanya empat yang digunakan. Yaitu, setiap besi berulir yang diwakili keterangan voltase 220 Volt. Pastikan kabel nantinya terpasang di keempat besi berulir tersebut.

Langkah Kedua :

Kalung-kan setiap kawat kabel input dan output (yang telah dibentuk sebelumnya) pada besi berulir sesuai keterangan muatan arus listrik dan voltase yang tertera mewakili masing-masing besi berulir tersebut Kawat warna “biru“, sebagai penghantar muatan arus Netral, akan selalu dipasang di bagian besi berulir untuk input dan output yang berwarna hitam. Kawat dengan warna “bukan biru“, sebagai penghantar muatan arus Fasa, dipasang di bagian besi berulir untuk input dan output yang berwarna merah.

Lalu, jepit setiap kawat yang sudah ter-kalung di besi berulir menggunakan penutup sesuai warna dasar masing-masing pasangannya. Setelah kabel input dan output selesai dipasang, pindahkan stabilizer ke tempat yang telah ditentukan.

3. Menyambung ke Jaringan Kabel dalam Rumah

Lengkapi diri dengan mengenakan sandal karet atau sepatu karet saat menjalani dan mengerjakan tahap ini. Jangan gegabah, apalagi menganggap remeh. Biar bagaimanapun, tindakan sederhana tersebut memiliki porsi terbesar dalam meminimalisir kemungkinan kita untuk ke-setrum.

Langkah Ketiga :

Selanjutnya adalah melepaskan kabel output meteran yang disematkan ke dalam kotak MCB. Buka cover kotak MCB, urutkan kabel output meteran dan temukan kedua ujung kawatnya. Jangan sesekali memegang kawat-kawat tersebut dengan tangan telanjang selama arus Fasa masih mengalir.

Gunakan tespen untuk memeriksanya (baca uraiannya di : Tespen , Kawat Hitam dan MCB). Yakinkan mana kawat penghantar arus Fasa yang mengalir diantara kedua kawat itu. Tandai agar nantinya mudah ditemukan kembali.

Matikan MCB meteran PLN. Lalu, kembali ulangi memeriksa setiap kawat kabel di kotak MCB dengan tespen.

Jika lampu tespen kembali menyala, tunda dan hentikan rencana memasang stabilizer tanpa kabel ini. Hubungi dan minta bantuan pihak PLN untuk memperbaiki kesalahan posisi letak kawat penghantar arus Fasa yang terpasang di dalam meteran. Apapun alasannya, jangan pernah memberanikan diri untuk melanjutkan dalam kondisi arus Fasa masih mengalir.

Jika lampu tespen mati, lepaskan “hanya” kawat dari kabel output meteran yang dijepit ke unit MCB (Fasa), dan juga yang dijepit pada panel Netral.

Langkah Keempat :

Ambil ujung kabel INPUT stabilizer untuk disambung dengan ujung kabel OUTPUT meteran PLN.

Kawat input stabilizer berwarna biru harus disambung dengan kawat output PLN yang bermuatan arus Netral. Sambungkan kawat input pasangannya (hitam) dengan kawat output meteran PLN yang bermuatan arus Fasa.

Langkah Kelima :

Ambil ujung kabel OUTPUT stabilizer untuk dipasang menggantikan posisi kabel OUTPUT meteran PLN yang tadi dilepaskan.

Kawat output stabilizer berwarna biru harus disematkan ke panel kawat Netral yang ada di kotak MCB. Sedangkan kawat lainnya (hitam) disematkan ke unit MCB yang sebelumnya tempat dimana kawat output PLN (Fasa) disematkan.

Langkah Keenam :

Setelah semua penyambungan kabel selesai dikerjakan, kembali perhatikan sejenak semua kawat yang terdapat di dalam kotak MCB. Pastikan semua kawat telah tersambung sesuai pasangannya. Kemudian, bungkus semua sambungan kawat tembaga yang “telanjang” dengan salotip. Rapikan letak kabel, kemudian nyalakan MCB di meteran.

Lalu, nyalakan stabilizer… sudah beres. Mulai dari tahap ini, konsumsi listrik semua perangkat elektronik dan listrik yang terhubung dengan jaringan kabel di rumah akan dan selalu didukung stabilizer.  Berikut adalah gambar skema rangkuman logika alur kawat kabel antara SEBELUM dengan SETELAH instalasi stabilizer dikerjakan : Cukup menegangkan jika semua ini kita sendiri yang mengerjakan, apalagi untuk pertama kalinya. Tetapi, selama arus Fasa tidak mengalir, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahkan. terasa menyenangkan disaat setelah kita berhasil menyelesaikannya dengan baik.

4. Perlakuan Selama Pemakaian

Untuk waktu selanjutnya, pemakaian yang saya terapkan pada stabilizer model tanpa kabel ini di rumah, tidak pernah sekalipun dimatikan. Karena, memang selalu ada pemakaian listrik di dalam rumah setiap waktunya selama 24 jam. Jadi, mulai sejak pertama kali dipasang hingga sekarang, stabilizer terus menyala dan masih berfungsi dengan baik.

Jadi…

Baik stabilizer siap pakai atau stabilizer tanpa kabel, cara agar keduanya tersambung ke jaringan kabel listrik dalam rumah adalah pekerjaan mudah. Namun demikian, ada aturan main yang harus diikuti agar hasilnya menjadi benar, yaitu konsistensi jenis muatan arus listrik yang masuk dan keluar melalui kedua stabilizer itu sendiri.

Pastikan konsistensi input dan output muatan arus listrik stabilizer telah dikerjakan mengikuti aturannya sebelum stabilizer digunakan. Meskipun bukan suatu aturan yang mutlak diterapkan, dampaknya cukup signifikan terhadap keseluruhan kinerja setiap perangkat elektronik yang mengkonsumsi output listrik stabilizer. Terutama terhadap faktor efektivitas dan efisiensi selama pemakaian listrik.

Sesuaikan tindakan cara pemakaian kedua model stabilizer tersebut, dengan kondisi nyala-mati perangkat elektronik yang terhubung dengannya. Meskipun sebenarnya, tidak ada masalah juga jika kedua model stabilizer tetap menyala sementara semua perangkat elektronik yang terhubung dengannya dalam kondisi mati.

Untuk pemakaian secara umum dari kedua model stabilizer tersebut, gunakan parameter cara sebagai berikut :

Nyalakan stabilizer SEBELUM (semua) perangkat elektronik dinyalakan, dan matikan stabilizer SETELAH (semua) perangkat elektronik dimatikan.

Kita tidak perlu memaksakan stabilizer untuk harus dimatikan selama masih ada perangkat elektronik yang terhubung dengannya masih atau harus menyala. Fungsinya memang ditujukan untuk mencegah perangkat elektronik rusak akibat dampak voltase listrik yang buruk. Jangan membuat keadaannya jadi terbalik, mencegah stabilizer supaya tidak cepat rusak dengan mengorbankan kepentingan kita untuk menggunakan perangkat elektronik.

Semoga bermanfaat!

 

Artikel terkait :