Manfaat Tang Kupas Kabel dalam Memasang Saklar (16 foto)

icon.bohlam.perkakasDi bawah ini adalah galeri foto yang menceritakan tentang cara saya memanfaatkan Tang Kupas Kabel untuk memasang kabel pada Saklar Tunggal out bow.

Teknik ini, juga saya gunakan pada saat memasang kabel di semua perangkat listrik yang diceritakan di artikel Memasang Stopkontak dan Saklar ~ In Bow. Saya belum dapat menyajikan rangkaian foto tentang cara memanfaatkan Tang Kupas Kabel dalam memasang kabel pada stopkontak. Secara dasar teknik pengerjaan adalah sama dengan memasang kabel pada saklar. Hanya berbeda di posisi pengaturan ukuran pada Tang Kupas Kabel untuk jarak kulit kawat yang harus dikelupaskan saja.
Baca lebih lanjut

inbow.perangkat.listrik

Memasang Stopkontak dan Saklar ~ In Bow

icon.bohlam.perkakasKata “In Bow” yang tertera pada judul artikel, mengacu pada satu keadaan dimana stopkontak dan saklar dipasang dengan kondisi “tertanam” di dinding. Pada umumnya, stopkontak dan saklar (baik tunggal maupun ganda) seperti itu sudah pasti terpasang di setiap rumah tinggal yang dialiri listrik PLN. Seandainya kita hendak menambahkan titik stopkontak atau saklar baru, akan lebih murah dan mudah dengan menggunakan model stopkontak atau saklar Out Bow. Karena, tidak dibutuhkan tindakan membuat lubang baru di dinding sebagai tempat untuk menanam kabel beserta stopkontak / saklar yang hendak dipasang.

Oleh sebab itu, dalam pemikiran saya, kecenderungan atas tindakan kita (sebagai pemilik / penghuni rumah) memasang stopkontak / saklar in bow lebih didasarkan pada alasan untuk mengganti stopkontak / saklar yang sebelumnya terpasang daripada membuat titik stopkontak / saklar baru. Seperti mengganti stopkontak yang meleleh atau switch dari saklar yang rusak (doll).

Baca lebih lanjut

Lampu Indikator Meteran, Stabilizer dan Grounding

icon.bohlam.perkakasSekitar pertengahan tahun 2014, meteran pascabayar lama (900VA) rumah saya yang berlokasi di Jakarta, diganti (gratis) dengan meteran pascabayar baru. Saat penggantian dikerjakan, saya melihat kawat arde dipotong oleh petugas. Menurut si petugas, kini kawat arde sudah tidak dibutuhkan lagi. Karena, fungsinya bisa digabungkan dengan kawat netral.

“Listrik sekarang sudah canggih, Pak. Beda dengan dulu yang masih pake kawat arde.”, begitu penjelasan si petugas.

Saya hanya bisa meng-iya-kan sambil mengangguk-anggukan kepala. Tidak ada yang bisa saya kerjakan untuk mencegahnya, karena yang menyatakan hal itu adalah seorang teknisi listrik resmi dari PLN. Namun, seiring berjalannya waktu, memperlihatkan bahwa pernyataan tersebut tidak sepenuh bisa berlaku sama dengan kawat Arde yang dipasang terpisah.
icon.top.par

Baca lebih lanjut

Listrik : Batas Tanggung Jawab PLN dan Pelanggannya

icon.bohlam.2016.listrik
Di bawah ini adalah “potongan” cuplikan pernyataan resmi pihak PLN mengenai batas tanggung jawab antara PLN dengan kita, sebagai pelanggannya.

Saya hanya mengambil bagian yang sekiranya penting untuk kita ketahui sebagai pelanggan PLN saja :

….
Sesuai UU Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, tak semua proses penyambungan baru listrik menjadi tanggung jawab PLN. Ada yang menjadi tanggung jawab pelanggan, tanggung jawab instalatur listrik, dan tanggung jawab lembaga pemeriksa instalasi.

Batas kewenangan PLN dalam proses penyambungan baru listrik di mulai dari pemasangan jaringan tegangan rendah, sambungan rumah, sampai dengan alat pembatas dan pengukur (kWh Meter & MCB). Meski demikian, penyambungan baru bisa dilakukan setelah pelanggan memiliki sertifikat laik operasi dari lembaga pemeriksa instalasi, membayar biaya pemasangan, dan masih ditambah dengan uang jaminan berlangganan bagi pelanggan meter pasca bayar serta menandatangani surat perjanjian jual beli tenaga listrik dengan PLN.

Selanjutnya, pelanggan bertanggung jawab atas instalasi rumah/bangunan. Dalam memasang instalasi, pelanggan dapat menghubungi instalatur dan, untuk kepengurusan sertifikat laik operasi, pelanggan dapat berhubungan langsung dengan lembaga pemeriksa instalasi.

UU No 30/2009 tentang Ketenagalistrikan Pasal 15-17 dan PP No 62/2012 mengatur usaha penunjang tenaga listrik, di mana instalatur listrik, yang tergabung dalam asosiasi AKLI, Alkindo, Paklina, Aklinas, Askonas, dan lain-lain, bertugas membuat gambar dan memasang instalasi di rumah/bangunan pelanggan.

Berdasarkan UU No 30/2009 tentang Ketenagalistrikan Pasal 44, Peraturan Pemerintah No 14/2012 tentang Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 5/2014 tentang Tata Cara Akreditasi dan Sertifikasi Ketenagalistrikan, serta sesuai hasil putusan Mahkamah konstitusi atas perkara Nomor 58/PUU-XII/2014 pada 22 September 2015, Menteri ESDM dapa menunjuk Konsuil dan PPILLN untuk menerbitkan sertifikat laik operasi bagi pengguna listrik. Untuk diketahui, setiap instalasi listrik memang wajib memiliki sertifikat laik operasi.

Lembaga pemeriksa instalasi (Konsuil, PPILN) bertugas memeriksa kelaikan operasi instalasi listrik tegangan rendah yang sudah dipasang oleh instalatur listrik dan mengeluarkan sertifikat laik operasi. Isinya menyatakn bahwa instalasi dalam rumah/bangunan pelanggan aman dan memenuhi standar instalasi.

ARIES DWIANTO
Manajer Komunikasi, Hukum, dan Administrasi, PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang.

Demikian bunyi dari potongan cuplikan yang saya peroleh dari kolom surat pembaca, harian Kompas, Jumat 15 Januari 2015.

Baca lebih lanjut

Tarif Listrik Januari 2016 Turun!!!

icon.bohlam.2016.rupiah
Awal tahun 2016, PLN menyesuaikan tarif listrik rumah tangga dengan penurunan sebesar Rp. 100,- per kWh. Nilai tarif listrik yang sebelumnya sebesar Rp. 1.509,- per kWh, kini menjadi Rp. 1.409,- per kWh.

Penurunan tarif ini, dipicu dengan turunnya harga dari bahan yang menjadi faktor penentu untuk memproduksi listrik. Seperti perubahan harga dari minyak dunia, inflasi dan kurs mata uang. Disamping itu, PLN juga mengklaim faktor keberhasilan melakukan efisiensi sebagai salah satu penunjang turunnya tarif sebesar Rp. 100,- per kWh ini.

Baca lebih lanjut